Selasa, 28 April 2026

Garut Miliki Tempat di Industri Hijau Global, Kemenko PM Ingin Kerajinan Bambu Bertransformasi

Kemenko PM memantau langsung para pengrajin bambu di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
PERAJIN BAMBU - Pelatihan puluhan perajin bambu dalam program disverifikasi produk bambu di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Industri ini didorong segera bertaranformasi. 
Ringkasan Berita:
  • Kemenko PM memantau langsung para pengrajin bambu di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat
  • Kawasan industri kerajinan bambu Selaawi itu didorong untuk cepat bertrasformasi lantaran bambu sudah memiliki tempat di industri hijau global
  • Bambu merupakan komoditas strategis yang memiliki peluang besar di tingkat global
  • Nilai pasar bambu dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai USD 79,36 miliar dan diproyeksikan terus meningkat hingga USD 115,3 miliar pada tahun 2030  

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) memantau langsung para pengrajin bambu di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kawasan industri kerajinan bambu Selaawi itu didorong untuk cepat bertrasformasi lantaran bambu sudah memiliki tempat di industri hijau global.

Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Abdul Haris, mengatakan bahwa bambu merupakan komoditas strategis yang memiliki peluang besar di tingkat global. 

"Nilai pasar bambu dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai USD 79,36 miliar dan diproyeksikan terus meningkat hingga USD 115,3 miliar pada tahun 2030," ujar Abdul Haris saat memberikan pelatihan kepada puluhan pengrajin bambu di Kecamatan Selaawi, Senin (27/4/2026).

Baca juga: Angka Anak Tidak Sekolah Karawang Masih Tinggi, Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama

Namun demikian, ia menuturkan bahwa produksi olahan bambu di Indonesia hanya berkontribusi sebesar 1 persen.

Kondisi tersebut dinilai sebagai peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga diperlukan peningkatan kualitas produksi, inovasi desain, serta penguatan pemasaran agar produk bambu lokal mampu bersaing di pasar global dan memberikan nilai tambah bagi para pengrajin.

"Kesenjangan antara potensi dan realitas inilah yang menjadi tanggung jawab kita bersama melalui peningkatan kapasitas, inovasi, dan kualitas produksi," ungkapnya.

Melalui pelatihan itu, diharapkannya para peserta mampu mengembangkan variasi produk, meningkatkan efisiensi dalam proses produksi, menerapkan standar kualitas yang lebih baik, serta membangun model usaha berbasis bambu yang berkelanjutan.

"Dari tangan-tangan terampil inilah lahir produk bernilai tinggi yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke tingkat global," katanya. (*) 

 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved