Kisah Mengharukan Marselina, Sidang Skirpsi di Rumah Sakit, Meninggal Dunia di Hari Menjelang Wisuda

Saat penyakitnya kambuh di hari-hari menjelang wisuda, Marselina berpesan kepada ibunya untuk mengambilkan ijazah.

Editor: Kisdiantoro
(dok pribadi)
Marselina sambil mengenak pakaian adat Dayak berfoto bersama ibunya Marcieny, belum lama ini. 

TRIBUNJABAR.ID - Kisah meninggalnya Marselina Julita, mahasiswi Universitas Tanjungpura (Unta) Pontianak, Jurusan Bimbingan Konseling di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebelum sempat mengikuti wisuda, memberikan pelajaran soal kerja kerasa dan pentingnya pendidikan.

Dalam kondisi sakit, Marselina terus mengejar impiannya menjadi sarjana.

Meski hari pengukuhan menjadi sarjana itu tak pernah dilewatinya, dia telah memberikan kebanggaan kepada keluarganya.

Marselina sudah dinyatakan lulus sidang skripsi, dan menyelesaikan semua revisinya.

Mulai Hari Ini Anda Tidak Bisa Gunakan WhatsApp di Ponsel? Bukan Eror, Coba Cek Bagian Ini

Saat penyakitnya kambuh di hari-hari menjelang wisuda, dia berpesan kepada ibunya untuk mengambilkan ijazah.

Seolah sudah mengerti ajalnya akan tiba. Permintaan itu ternyata benar-benar menjadi permintaan terakhir Marselina.

Marselina meninggal pada tanggal 28 Desember 2019 lalu pukul 14.00 WIB, setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

"Pesan terakhirnya adalah meminta saya mengambil ijazahnya," kata ibunya, Cristiani Marcieny, saat dihubungi Kompas.com Jumat (31/1/2020).

Ia mengatakan, Marselina sejak kecil tinggal dan dirawat oleh neneknya. Karena dirinya bertugas mengajar di SMK Negeri 1 Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebelumnya anaknya meninggal, Marcieny menceritakan, Marselina sakit sejak sekolah menengah pertama (SMP).

"Sejak SMP sakitnya. Saat itu, datang bulan tidak lancar. Kadang 2 bulan sekali. Dan harus dibantu dengan obat herbal," ujarnya.

Sekjen PSSI Ratu Tisha Sudah Tiba di Stadion Si Jalak Harupat

Pada tahun 2016, atau saat kuliah semester 2, Marselina mengeluh perutnya sakit dan terasa mengeras.

Selain itu, dia tidak bisa buang air. Saat itu, tak ada pilihan lain selain operasi. Karena terdapat tumor kista seberat 1 kilogram di dalam perutnya. Dan dia dibawa ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Operasi itu boleh dibilang berjalan lancar. Namun, satu tahun kemudian, atau tahun 2017, dia diminta kembali menjalani operasi.

"Marselina saat itu menolak. Alasannya sibuk dengan kuliah," kenangnya. Baca juga: Coba Bunuh Diri, Pelaku Pembunuhan Mahasiswi Bengkulu Kritis Selain menolak operasi, Marselina juga tidak ingin melakukan kemoterapi, karena akan mengakibatkan rambutnya rontok. Sehingga, dia hanya mengkonsumsi obat dokter dan memakan keladi tikus.

"Keladi tikus dia makan sekali sehari, sebelum pergi kuliah. Dia sampai jenuh makan itu," katanya.

Halaman
12
Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved