Jumat, 17 April 2026

Gara-gara Lion Air JT610 Jatuh di Perairan Karawang, Bos Boeing Dipecat

Berawal dari kecelakaan Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines, Boeing memecat CEO Dennis Muilenburg.

Editor: Theofilus Richard
Kolase Tribun Jabar
Lion Air JT 610 

TRIBUNJABAR.ID, CHICAGO - Berawal dari kecelakaan Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines, Boeing memecat CEO Dennis Muilenburg.

Langkah itu diambil Boeing untuk mengembalikan kepercayaan publik ke pabrikan pesawat asal Amerika Serikat tersebut.

"Dewan direksi memutuskan pergantian kepemimpinan dibutuhkan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap perusahaan seiring langkah memperbaiki hubungan dengan regulator, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya," tulis Boeing, Senin (23/12/2019).

Posisi Muilenburg akan digantikan David L Calhoun yang saat ini menjabat Ketua Dewan Direksi sekaligus Presiden.

"Saya percaya pada masa depan Boeing dan 737 MAX. Saya merasa terhormat bisa memimpin perusahaan hebat ini beserta 150.000 pegawainya yang bekerja keras untuk membentuk masa depan penerbangan," kata Calhoun dalam keterangannya.

Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Jangan Diselesaikan Secara Mediasi, Ini Alasannya

Indonesia dan Ethiopia jadi korban B737 MAX

Dilansir dari BBC, pemecatan CEO ini merupakan buntut dua kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX beberapa waktu lalu.

Kecelakaan pertama menimpa Lion Air pada Oktober 2018 lalu. Sebanyak 189 penumpang dan awak Lion Air JT 610 tewas.

Kemudian pada Maret 2019, pesawat Ethiopian Airlines mengalami kecelakaan serupa dan menewaskan 157 penumpangnya.

Semua pesawat Boeing 737 MAX telah dikandangkan pada Maret 2019 lalu.

Boeing juga memutuskan untuk menunda produksi pesawat itu sembaru menunggu regulator mensertifikasi keselamatannya.

Ini Laporan Akhir Investigasi KNKT soal Penyebab Lion Air JT610 Jatuh di Perairan Tanjung Karawang

Boeing 737 MAX cacat

Hasil investigasi menunjukkan kecelakaan disebabkan sistem kontrol otomatis di pesawat (MCAS) Boeing 737 MAX yang rusak.

Boeing menyatakan sistem yang mengandalkan sensor tunggal itu menerima data yang salah. Ini menyebabkan pilot tak bisa mengontrol pesawat dan menerjunkan pesawat ke bawah.

Boeing tengah memperbaiki sistem itu dan memperbarui prosedurnya.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved