Selasa, 19 Mei 2026

Ini Perbedaan Depresi dan Sedih, Pelajari dan Jangan Diagnosis Sendiri Ya!

Melansir Mayo Clinic, depresi merupakan gangguan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat yang terus-menerus.

Tayang:
Editor: Theofilus Richard
SHUTTERSTOCK/KOMPAS
Ilustrasi depresi 

TRIBUNJABAR.ID - Depresi bisa menyerang semua orang, tanpa mengenal latar belakang dan profesi.

Contohnya, sejumlah artis internasional juga memilih bunuh diri saat tak sanggup menahan depresi.

Selain itu, banyak juga pelajar, dosen, karyawan kantoran, yang diberitakan bunuh diri karena depresi.

Melansir Mayo Clinic, depresi merupakan gangguan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat yang terus-menerus.

Gangguan mental ini seringkali mempengaruhi bagaimana kita merasa, berpikir dan berperilaku, serta dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik.

Bahkan, depresi bisa membuat penderitanya kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari yang normal, dan merasa seolah hidup tidak layak dijalani.

Dikritik PSI, Anies Baswedan Jawab Pentingnya Formula E untuk DKI Jakarta, Bisa Tingkatkan Ekonomi

Terkadang, orang menganggap depresi hanyalah kesedihan biasa yang bisa hilang seiring berjalannya waktu.

Kesedihan maupun depresi memang sama-sama melibatkan perasaan sedih dan membuat seseorang menarik diri dari aktivitas sehari-hari.

Namun, bersedih tidak sama dengan depresi.

Wanita Paruh Baya Tinggalkan Rumah, Diduga Depresi, Dua Malam Menginap di Kantor Polisi di Indramayu

Depresi dan Kesedihan

Dalam kesedihan, perasaan menyakitkan dalam waktu relatif lebih cepat dan sering kali bercampur dengan datangnya ingatan akan hal-hal yang membuat kita merasakan kesedihan itu.

Sementara itu, pada penderita depresi, terjadi perubahan suasana hati dan penurunan minat selama hampir dua minggu.

Orang yang bersedih biasanya masih merasa memiliki harga diri.

Lain halnya dengan penderita depresi, biasanya mereka merasa tidak berharga dan membenci diri sendiri.

Untuk memberi penanganan yang tepat, kita benar-benar harus bisa membedakan mana kesedihan biasa dan mana yang masuk dalam kategori depresi.

Depresi bisa dialami oleh siapapun, bahkan oleh orang yang hidupnya nampak ideal.

Pelajar SMK di Bali Nekat Bunuh Diri Setelah Didatangi Mantan Pacar yang Mengaku Hamil

Beberapa faktor dapat berperan dalam depresi:

  • Biokimia: Perbedaan bahan kimia tertentu di otak dapat berkontribusi pada gejala depresi.
  • Genetika: Depresi dapat terjadi dalam keluarga. Sebagai contoh, jika satu kembar identik mengalami depresi, yang lain memiliki kemungkinan 70 persen untuk menderita suatu penyakit dalam kehidupan.
  • Kepribadian: Orang-orang dengan harga diri rendah, yang mudah diliputi oleh stres, atau yang umumnya pesimistis tampaknya lebih mungkin mengalami depresi.
  • Faktor lingkungan: Paparan terus menerus terhadap kekerasan, penelantaran, pelecehan atau kemiskinan dapat membuat beberapa orang lebih rentan terhadap depresi.

Pencegahan

Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi gejala depresi.

Bagi banyak orang, olahraga teratur membantu menciptakan perasaan positif dan meningkatkan suasana hati.

Tidur teratur dan berkualitas, mengonsumsi makanan yang sehat dan menghindari alkohol juga dapat membantu mengurangi gejala depresi.

Depresi adalah penyakit nyata yang harus segera ditangani. Dengan diagnosis dan perawatan yang tepat, gangguan mental ini bisa segera ditangani.

Jika kita mengalami gejala depresi, langkah pertama adalah menemui dokter keluarga atau psikiater.

Bicarakan masalah kita dan minta evaluasi menyeluruh. Ini adalah awal untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mental.

(Kompas.com/Ariska Puspita Anggraini)

Diduga Depresi, Pria di Purwakarta Ditemukan Tewas Gantung Diri

Sahabat Sulli, Goo Hara Meninggal Dunia di Rumahnya, Alami Depresi hingga Sempat Coba Bunuh Diri

Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved