Empat ASN Tersangka Korupsi Sapi Perah Terima Rp 100 Juta, Imbalan Beli Sapi dari Penyedia Barang

Kasus dugaan korupsi pengadaan sapi perah yang menyeret empat Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Perikanan

Empat ASN Tersangka Korupsi Sapi Perah Terima Rp 100 Juta, Imbalan Beli Sapi dari Penyedia Barang
Tribunjabar/Firman Wijaksana
Kasipidsus Kejari Garut, Deny Marincka Pratama. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kasus dugaan korupsi pengadaan sapi perah yang menyeret empat Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Garut merugikan negara hingga Rp 400 juta. Selain itu, pengadaan sapi perah juga tidak sesuai spesifikasi.

Kasipidsus Kejari Garut, Deny Marincka Pratama, menuturkan, modus yang dilakukan para tersangka yakni dengan mengadakan sapi perah oleh mereka. Padahal prosesnya sudah melalui lelang dan dimenangi oleh tersangka YS selaku penyedia barang.

"Jadi yang menang lelang itu perusahaan YS. Tapi orang dinas yang mencari sapinya. YS lalu memberi uang Rp 100 juta ke dinas setelah sapi didapatkan," ujar Deny, Rabu (16/10/2019).

Pengadaan sapi perah bunting dari APBN 2015 itu memiliki pagu anggaran sebesar Rp 2,4 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk membeli 120 sapi perah bunting, pakan, dan uji laboratorium.

Amalia Sianti Anak Wiranto, Isunya Pernah Dijodohkan dengan Cucu Soeharto, Anggota MPR 1997 Termuda

Dari 120 sapi perah, terdapat 22 sapi yang tidak bunting. Padahal dalam pagu anggaran sudah dijelaskan jika sapi yang dibeli harus sapi bunting usia empat bulan.

"Dari 22 sapi itu ada yang tidak bunting dan ada sapi bunting tapi belum empat bulan. Jadi sudah ada pelanggaran yang terjadi," katanya.

Anggaran satu ekor sapi ditetapkan sebesar Rp 19,5 juta. Sebanyak 22 sapi tidak bunting itu menghabiskan anggaran sebesar Rp 429 juta. Anggaran untuk pakan dan uji laboratorium sebagian tidak dilaksanakan.

"Biaya uji lab itu Rp 45 ribu per ekornya. Sedangkan pakan sebesar Rp 120 ribu per ekor. Dana itu sebagian tidak dipakai," ucapnya.

Patut Dicoba Nih, Kelezatan Sajian Mie Nyemek Ala Warunk Endolita Yey

Dalam menentukan sapi bunting dan tidak, tambanya, para tersangka hanya berbekal sertifikat kebuntingan dan pemeriksaan otodidak. Padahal seharusnya, untuk menentukan usia sapi bunting, harus memakai alat pendeteksi.

"Kalau sudah tahu sapinya tidak bunting atau belum empat bulan bunting, harusnya ditolak. Tapi mereka sengaja memasukannya," katanya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved