Ratusan Penulis Asing Turut Ramaikan Konferensi Internasional SCBTII ke-10 dan ISCLO ke-7 di Bandung

200 penulis yang berasal dari lima negara di Asia dan Eropa yaitu, Inggris, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Indonesia menghadiri SCBTII dan ISCLO

Ratusan Penulis Asing Turut Ramaikan Konferensi Internasional SCBTII ke-10 dan ISCLO ke-7 di Bandung
Tribun Jabar/Cipta Permana
Suasana berlangsungnya kegiatan seminar internasional SCBTII ke-10 dan ISCLO ke-7 di Hotel El Royal, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (10/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana 
 
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebanyak 200  penulis yang berasal dari lima negara di Asia dan Eropa yaitu, Inggris, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Indonesia menghadiri seminar internasional Sustainable Collaboration in Business, Information and Innovation (SCBTII) ke-10 dan International Seminar & Conference on Learning Organization (ISCLO) ke-7.

Para penulis yang menjadi peserta seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University (FEB Tel-U), tersebut berlatar belakang sebagai akademisi dan praktisi industri.

Seminar yang mengusung dua tema besar yakni, "Exploring Opportunities, Challenges, and Sustainibility of Digital Economic for Customer Benefit and Business Fairness” serta “Enhancing Organization’s Competitive Advantages Through Knowledge Sharing and Learning Culture in the Era 4.0 Technology”.

Tujuannya selain untuk meningkatkan kolaborasi antara para pelaku industri dan akademisi, tetapi juga meningkatkan kemampuan para tenaga dosen dan peneliti, sehingga dapat menghasilkan sebuah karya ilmiah publikasi internasional yang prosiding terindeks scopus.

1.500 Pelari Tua dan Muda Ramaikan Telkom University Half Marathon 2019

Adiwijaya Kembali Jadi Rektor Telkom University, Siap Bawa Telkom Masuk QS World University Ranking

Salah satu topik hangat dalam pembahasan di seminar internasional tersebut, adalah bangsa Indonesia perlu meningkatkan kemampuan inovasinya, karena hasil indeks inovasi global Indonesia saat ini berada pada peringkat 85 dari 129 negara.

Dosen FEB Telkom University, Indrawati, Ph.D menjelaskan, revolusi industri 4.0 telah mengubah wajah marketing dan manufaktur.

Sebagian perusahaan mengalami disrupsi. Dimana saat ini semua perusahaan telah menjelma menjadi perusahaan berbasiskan  teknologi, dengan menginvestasikan sebagian besar modalnya untuk perkembangan teknologi.

"Meski telah berinvestasi untuk kemampuan teknologinya menjadi lebih inovatif, berdasarkan fakta di lapangan tidak semua perusahaan bisa tiba-tiba menjadi lebih besar atau lebih inovatif, dan perusahaan lain yang justru melakukan investasi tidak lebih besar bisa jadi justru peforma inovasinya lebih baik. Jadi kunci sebenarnya adalah bagaimana  kemampuan inovasi yang dilakukan," ujarnya saat menjadi salah seorang narasumber seminar internasional tersebut di Hotel El Royale Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (10/10/2019)

Menurutnya, kemampuan inovasi merupakan kemampuan untuk menyerap, beradaptasi, dan mengubah sebuah teknologi menjadi aktivitas operasional, manajerial, dan transaksi yang spesifik untuk menghasilkan produk bernilai, yang mampu mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Oleh sebab itu, terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam membangun kemampuan inovasi. Pertama, kemampuan pengembangan teknologi.

Halaman
123
Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved