Opini

Generasi Millenial dan Peran Dakwah Ormas Islam

Hasil penelitian, ada 5 pendakwah yang banyak menjadi rujukan keislaman kaum milenial. Abdul Somad menjadi ustad paling banyak diikuti.

Editor: Kisdiantoro
tribunjabar/isep heri
ILUSTRASI ---Sejumlah remaja tengah melakukan kajian keislaman di Taman Dadaha Kota Tasikmalaya, untuk mengisi waktu di hari pertama Ramadan, Kamis (17/5/2018) Siang. 

Hasil penelitian menunjukkan pandangan generasi millennial di kalangan Muslim tentang Islam pertama kali berasal dari keluarga.

Bagi generasi millenial yang lahir dari keluarga yang memeluk agama Islam secara otomatis menjalankan perintah agama Islam.  

Selain faktor keluarga, keinginan untuk melakukan kajian keislaman bagi generasi millenial juga didorong oleh kemauan sendiri untuk mempelajari islam.

Dari hasil riset tim FISIP UMJ terdapat 57,14% responden sangat tertarik untuk mempelajari Islam, 40,23% tertarik, 2,04% tidak tertarik (Riset FISIP UMJ, 2019). Sehingga, lebih dari 90% generasi millenial tertarik untuk mengkaji Islam.

Media kajian keislaman Generasi Millenial

Media apa yang mereka gunakan untuk mempelajari Islam? Pertanyaan ini menjadi penting apabila dikaitkan dengan figur yang dikenal oleh generasi millenial.

Berdasarkan hasil riset FiSIP UMJ 2019, Ustad Abdul Somad merupakan penceramah yang disukai (sebanyak 53,14%),  disusul oleh Hannan Attaki 6,28%, Adi Hidayat 4,97%, Emha Ainun Najib 4,45%, serta AA Gym 3,93% yang dijadikan rujukan pengetahuan Islam oleh generasi millenial.

Kelima ustadz tersebut tidak satupun yang secara tegas berafiliasi pada ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan seterusnya yang merupakan ormas-ormas keagamaan di Indonesia.

Media yang mudah diakses oleh generasi millenial seperti internet menjadi sumber rujukan kajian keislaman bagi generasi millenial. Sebanyak 31,94% responden mengakses website www.youtube.com sedangkan 6,81% lainnya mengakses www.nu.or.id (Riset FISIP UMJ, 2019).

Sikap mengambil yang mereka mau dan menolak yang mereka tidak sukai menjadi ciri dari generasi millennial tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh Jaka (bukan nama sebenarnya) saat diwawancarai tim riset FISIP UMJ terkait dengan tema sumber kajian keislaman yang dia peroleh.

Jaka menyampaikan bahwa semua kajian keislaman itu baik sehingga dia akan mengambil yang baik dari kajian satu dan yang baik dari kajian lainnya. Tidak ada satu kajian khusus yang diikuti secara rutin dan runtut dengan guru yang tetap.

Jaka berpandangan yang sama dengan ormas Islam.

Saat ditanya terkait keikutsertaannya dengan ormas Islam tertentu, Jaka justru menjawab bahwa dia tidak berafiliasi kepada ormas Islam tertentu. Hal senada juga disampaikan oleh informan lainnya.

Temuan ini menjadi kunci penting bahwa pola kajian generasi millenial memang tidak terpaku pada satu guru atau ustadz tertentu yang mereka ikuti secara rutin sehingga membangun pemahaman yang utuh. Namun, kajian yang mereka ikuti justru bersifat parsial berdasar pada “asal suka” dan “sesuai kebutuhan mereka” dengan mengesampingkan keruntutan materi maupun kedalaman materi.

15 Universitas Terbaik di Jawa Barat Versi Kemenristekdikti, Kampus Negeri Hingga Swasta

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved