Rumah Makan Besar Dilarang Pakai Gas Melon, Disperindag Garut Sidak Penggunaan Gas 3 Kg

Sejumlah rumah makan besar di Garut terkena inspeksi mendadak (sidak) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)

Rumah Makan Besar Dilarang Pakai Gas Melon, Disperindag Garut Sidak Penggunaan Gas 3 Kg
Tribunjabar/Firman Wijaksana
Petugas dari Pertamina melakukan pemeriksaan ke sejumlah rumah makan di Garut terkait penggunaan gas elpiji, Senin (5/8/2019). Pertamina meminta pengusaha kuliner tak memakai gas subsidi dan beralih ke gas nonsubsidi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Sejumlah rumah makan besar di Garut terkena inspeksi mendadak (sidak) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) beserta PT Pertamina.

Petugas memeriksa dapur rumah makan untuk melihat penggunaan tabung gas.

Sidak tersebut dilakukan agar rumah makan tak memakai tabung elpiji subsidi. Penggunaan tabung gas 3 kilogram tak diperuntukkan bagi pengusaha rumah makan.

Salah satunya rumah makan padang di kawasan Tanjung Jalan Otista, Kecamatan Tarogong Kaler.

Yono (40), pekerja rumah makan menyebutkan sudah tak memakai gas elpiji subsidi. Selain sulit mendapatkan gas melon, harganya pun terkadang tak tentu.

"Sekarang mending pakai yang 12 kilogram saja. Barangnya lebih gampang. Sering dikirim langsung juga," kata Yono, Senin (5/8/2019).

Per hari, Yono menyebut butuh satu tabung gas 12 kilo untuk memasak. Sedangkan saat memakai gas melon, butuh lima tabung.

Listrik Padam di Jawa Barat pada 2019 Jadi yang Terparah, Terulang Kejadian pada Tahun 2002 dan 2005

"Sekarang sudah beralih. Kalau dihitung harga gasnya juga sama saja. Paling beda sedikit tapi barang lebih mudah. Yang 12 kilo itu harganya Rp 145 sampai Rp 150 ribu per tabung," ucapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Risna, pemilik warung rumah makan Ibu Ade di Terminal Guntur. Ia menuturkan penggunaan Bright Gas membuatnya lebih jarang mengganti tabung. Saat masih memakai elpiji 3 kilogram, dalam waktu dua hari sudah habis.

"Ya lebih praktis aja enggak bolak balik ganti pakai yang 5,5 kilo. Lebih tenang juga karena enggak perlu berebut cari isi ulang LPG seperti waktu masih pakai tabung melon," katanya.

Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina, Dewi Sri Utami mengatakan sidak kali ini ditujukan untuk melihat konsistensi para pengusaha kuliner untuk tetap mengunakan LPG nonsubsidi. Pihaknya pun tak menemukan pengusaha yang memakai gas subsidi.

Mobil Pelat Merah Tabrakan dengan Truk di Purwakarta, Suzuki Ertiga Hendak Potong Arus

"Sekaligus memberikan apresiasi kepada para pengusaha kuliner yang sudah mengikuti kebijakan LPG tepat sasaran ini. Sesuai program move on agar yang mampu pindah pakai LPG nonsubsidi," ucap Dewi.

Pihaknya juga menyosialisasikan cara aman menggunakan LPG kepada pengusana kuliner. Terutama terkait cara penempatan tabung yang tepat.

"Kami harapkan pelaku usaha kuliner lainnya di wilayah Kabupaten Garut yang sudah tergolong berkembang dapat terinspirasi untuk tidak lagi menggunakan LPG subsidi," katanya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved