Breaking News:

TGPF Kasus Novel Baswedan Sebut Periksa 3 Jenderal Aktif, Siapa Mereka?

Menurut anggota TGPF, Hermawan Kiki Sulistyo, selama investigasi kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan, ada 3 jenderal aktif yang diperiksa

KOMPAS.com/Devina Halim
Tim gabungan pencari fakta ( TGPF) kasus dengan korban Novel Baswedan, saat konferensi pers di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/7/2019). 

Beragam aksi telah dilakoni Wadah Pegawai KPK untuk mengingatkan bahwa kasus Novel Baswedan, sahabat mereka, penting dan harus segera terungkap.

Pada 27 Juli 2018, Wadah Pegawai KPK memajang dua unit sepeda di lobi Gedung KPK. ‎Sepeda ini bisa dibawa pulang oleh mereka yang bisa menyebut pelaku teror terhadap Novel Baswedan.

Tidak hanya sepeda, ada juga TV layar datar yang terus mengupdate waktu lamanya pengungkapan kasus Novel Baswedan.

Melengkapi jam waktu itu, ada pula tulisan 'Sejak Novel Baswedan Diserang, Selama Itu Pula Polisi Gagal Ungkap Pelaku.'

‎Lantas, bagaimana respons Presiden Jokowi terhadap kasus Novel Baswedan yang cenderung jalan di tempat?

Menjawab itu, Jokowi menyerahkan sepenuhnya pada tim gabungan yang telah dibentuk.

"Itu kan sudah ada tim gabungan terdiri dari polisi, Ombudsman, dan KPK sendiri. Tanyakan kepada mereka, kejar mereka hasilnya seperti apa" ujar Jokowi di kawasan Sentul, Jawa Barat, Jumat (12/4/2019).

"Jangan dikembalikan ke saya lagi. Apa gunanya sudah dibentuk tim gabungan seperti itu?" kata Jokowi.

Kembali ditanya bagaimana jika memang belum ada hasil atau titik terang yang didapatkan oleh tim gabungan, Jokowi kembali meminta agar perkembangan kasus ditanyakan langsung ke tim gabungan.

"Ya tanyakan ke mereka (tim gabungan), belum ditanyakan ke sana kok," ucapnya.

Tak takut teror

Akibat teror yang diterima Novel Baswedan, mata kirinya mengalami kerusakan hingga 95 persen, begitu juga dengan mata kanan yang tidak dapat‎ melihat sempurna.

Selama berbulan-bulan, Novel Baswedan harus mendapatkan perawatan mata khusus di Singapura, serta beberapa kali menjalani operasi mata.

Sebelumnya, Novel Baswedan mengaku tidak takut menghadapi teror.

Pasca-penyiraman air keras tepat dua tahun silam, ada saja teror yang dialamatkan kepadanya dan anggota KPK lainnya.

“Itu (teror) sedikit banyak ada. Intinya saya mau katakan mau teror seperti apa pun saya enggak akan takut,” kata Novel Baswedan di kediamannya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (11/4/2019).

Menurut Novel Baswedan, teror yang dialamatkan ke anggota KPK, harus menjadi perhatian tersendiri oleh pemerintah.

Jangan sampai dalam hal ini negara, katanya, hanya berpangku tangan menghadapi kondisi tersebut.

“Poin yang paling penting adalah teror-teror begini enggak boleh dibiarkan. Karena kalau dibiarkan, seolah-olah negara kalah, seolah-olah negara abai. Ini hal yang penting,” tegas Novel Baswedan.

Sebab, apabila terus menerus dibiarkan, maka secara tidak langsung negara akan kalah, dan upaya pemberantasan korupsi yang menjadi tugas utama dibentuknya KPK, bakal mengalami hambatan.

"Karena kalau dibiarkan negara seolah kalah, negara seolah-olah abai," ucap Novel Baswedan. (Budi Sam Law Malau)

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved