Suporter Tewas di GBLA

Komentar Bos Persija Jakarta Soal Deklarasi 'Rivalitas Tanpa Kekerasan' Pascakasus Haringga Sirla

Kesepakatan deklarasi ini diambil sebagai respons terhadap kematian anggota The Jakmania, Haringga Sirla.

Komentar Bos Persija Jakarta Soal Deklarasi 'Rivalitas Tanpa Kekerasan' Pascakasus Haringga Sirla
Tribunnews/HO/Media Persija Jakarta
Direktur Utama Persija Jakarta, I Gede Widiade, saat ditemui di Lapangan ABC, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Senin (14/5/2018). 

TRIBUNJABAR.ID- Sebanyak 18 manajer atau petinggi klub Liga 1 2018 mendeklarasikan rivalitas tanpa kekerasan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (29/9/2018).

Deklarasi digelar sebelum laga amal yang mempertemukan tuan rumah Arema FC yang menjamu Madura United.

Kesepakatan deklarasi ini diambil sebagai respons terhadap kematian anggota The Jakmania, Haringga Sirla.

Pendukung Persija asal Cengkareng ini tewas akhir pekan lalu akibat dikeroyok oknum pendukung Persib Bandung, bobotoh di Stadion GBLA, Minggu (23/9/2018).

Pada momen ini, hanya perwakilan PSM Makassar yang tidak hadir karena berhalangan, selebihnya semua klub hadir oleh wakil mereka masing-masing.

Kendaraan Sudah Bisa Melintas di Jalur Darat Palu-Mamuju dan Palu-Poso

Jadwal MotoGP Thailand 2018 - Pertama Kalinya Negeri Gajah Putih jadi Tuan Rumah

Persija Jakarta turut serta dalam deklarasi dengan kehadiran perwakilan klub, Gede Widiade selaku direktur utama Macan Kemayoran.

Gede Widiade pun mendukung penuh ide perdamaian antarklub dan suporter agar terciptanya iklim sehat di sepak bola Indonesia.

"Sekali lagi, saya setuju dengan deklarasi ini," kata Gede Widiade dikutip BolaSport.com dari laman resmi Persija Jakarta.

"Mudah-mudahan, ini langkah positif untuk sepak bola Indonesia. Saya harap tidak ada kejadian serupa yang terulang lagi," katanya.

BMKG Ungkap Alasan Akhiri Peringatan Dini Tsunami Palu, Peneliti Sebut Ada yang Lupa Diperhitungkan

Perwakilan Madura United lewat Manajer Haruna Soemitra menyebut bahwa kematian suporter adalah permasalahan serius yang tak bisa dianggap remeh.

"Kompetisi saat ini dihentikan. Kami di sini sepakat, bahwa penghentian karena adanya peristiwa sadis di luar nalar yang bertentangan dengan nilai-nilai sepak bola yang mengedepankan sportivitas," kata Haruna.

"Rivalitas adalah dinamika yang harus dijaga. Bila tidak, maka sepak bola itu kosong," ucapnya.

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: BolaSport.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved