Karena Pesan Hoaks di Grup WhatsApp, Pria Ini Dituding Sebagai Penculik dan Tewas Dihajar Massa
Mohammad Salman (22) dan dua temannya bernama Azam dan Mohammad Afroz menjadi korban pengeroyakan warga satu desa, Kamis (19/7/2018).
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Seli Andina Miranti
TRIBUNJABAR.ID - Anda sering mendapat pesan yang tak tahu kebenarannya di grup WhatsApp?
Anda perlu cermat bila mendapat pesan tersebut, bisa jadi pesan tersebut adalah hoaks.
Sebaiknya Anda mencari tahu dulu kebenarannya sebelum meneruskan atau menyebarkan pesan tersebut ke grup WhatsApp lainnya.
Kasus pengeroyokan yang terjadi di India ini bisa jadi contoh akibat pesan hoaks.
Melansir dari Intisari yang mengutip dari BBC, seorang pria bernama Mohammad Salman (22) dan dua temannya bernama Azam dan Mohammad Afroz menjadi korban pengeroyakan warga satu desa, Kamis (19/7/2018).
Mereka dipukuli secara brutal karena diduga menculik anak-anak di sana.
"Mereka terus memukul kami, menuntut untuk mengetahui berapa banyak anak yang telah kami culik," kata Mohammad Salman.
Wajah dan tubuh Salman penuh memar, di dahi kirinya terdapat jahitan. Ia juga mengalami syok.
Awalnya ketiga pria itu dan temannya yang lain mengunjungi kerabat mereka untuk menghabiskan akhir pekan.
Mereka mengunjungi Desa Handikera, desa kecil di negara bagian Karnataka.
Mohammad Salman mengatakan, mereka pergi menuju danau menggunakan mobil berwarna merah.
• Nih Cara Baca atau Balas Chat WhatsApp Diam-diam, Dia Tak Tahu Kamu Lagi Online
• Dua Cara Baca Pesan WhatsApp Tanpa Masuk Aplikasi dan Terlihat Online, Langkahnya Mudah Lho
Danau tersebut letaknya di pinggiran desa.
Mereka melihat sekelompok anak-anak pulang dari sekolah.
Satu di antara temannya membagikan cokelat yang mereka bawa kepada anak-anak tersebut.
Setelah sampai di danau, Salman dan dua temannya duduk bersantai di kursi lipat.
Baru juga beberapa jam mereka menikmati pemandangan danau, tiba-tiba saja mereka dituduh sebagai penculik anak oleh warga desa.
Warga desa yang marah itu juga menyerang mereka.
"Sebelum kami menyadari apa yang terjadi, penduduk desa berkumpul dan mulai menuduh kami sebagai penculik anak," ucap Mohammad Afroz yang merupakan teman Salman yang juga ikut diserang.
Afroz mengatakan saat itu ia berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada warga desa namun usaha tersebut sia-sia.
"Mereka mulai melempari batu dan memukuli teman-teman saya," ujarnya.
Para pemuda yang semula akan berlibur itu langsung tancap gas.
Mereka berusaha melarikan diri dari amukan massa menuju desa tetangga yakni Desa Murki.
• Bermula Dari Teater, Pria asal Inggris Ini Kini Tekuni Dunia Wayang
• Sempat Bungkam Setelah Kalah Taruhan dari David Beckham, Ibrahimovic Kini Siap Penuhi Janjinya
• Pecinta Kopi? Yuk Cobain Kopi Seru, Dibuat dengan Teknik Japanese Brewed
Namun, usaha tersebut sia-sia sebab salah satu warga telah memberitahu temannya di Desa Murki untuk mewaspadai mobil berwarna merah.
Warga di Desa Murki memblokir jalan dengan kayu gelondongan.
Mobil yang dikemudikan Salman melaju kencang sehingga oleng dan terbalik ketika berbelok.
"Mereka mulai melempari mobil dengan batu dan memecahkan jendela dengan tongkat dan batu. Saya terseret keluar dan dipukuli secara brutal," ujarnya.
Selain itu, warga desa juga membawa senjata dalam aksi pengeroyokan itu.
"Mereka memukuli kami dengan pisau, arit, dan tongkat. Ada juga wanita di sana," katanya.
Salman dan temannya berhasil selamat karena polisi menyembunyikan mereka di dalam bagasi mobil untuk melindungi mereka dari amukan massa.
Namun, teman Salman yang lainnya bernama Azam tak bisa diselamatkan.
Azam meninggal karena diseret dengan tali di lehernya dan badannya penuh luka-luka.
Warga desa yang berjumlah ratusan tersebut tidak membubarkan diri selama lebih daru satu jam.
Hingga lima kendaraan polisi dikerahkan.
Massa juga melukai delapan petugas yang mencoba menghentikan mereka.
Polisi menangkap 22 orang termasuk admin grup WhatsApp.
Sebanyak 20 grup WhatsApp juga telah dihapus sebagai bentuk pencegahan timbulnya pesan hoaks.
Salman dan teman-temannya dituduh sebagai penculik karena pesan hoaks yang menyebar di grup WhatsApp.
Setidaknya 17 orang telah tewas di India diduga akibat rumor penculikan anak sejak April 2018 lalu.
Hasil investigasi terhadap insiden tersebut menunjukkan kecenderungan orang meneruskan pesan palsu atau video ke grup yang memiliki anggota banyak di WhatsApp.
Bahkan beberapa grup berisikan 100 lebih anggota.
Massa yang mudah terhasut oleh pesan palsu akan main hakim sendiri terhadap orang asing yang mereka curigai.
Sementara polisi tidak bisa cepat untuk merespons.
Pemerintah setempat telah melakukan program penyadaran di desa-desa akan pesan hoaks di Whatsapp setelah beberapa insiden serupa terjadi.
• Guru Besar London University Ini Pandai Mainkan Wayang dan Akan Adakan Roadshow
• Program Pesantren Lapas 2 Garut, Peserta Bisa Mendapat Remisi
• Iis Dahlia Serang Balik Komentar Fatin, Sebut Harus Dididik Sopan Santun, Kini Upload Video Waode
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/salman-dituduh-sebagai-penculik_20180722_151824.jpg)