Rabu, 20 Mei 2026

Jejak Soekarno

Menguak Misteri Tongkat Komando dan Peci Miring Soekarno, Benarkah Berbau Mistis?

Tongkat komando, kacamata dan peci hitam, serta jas, menjadi ciri khas Soekarno yang tak pernah bisa dilepaskan.

Tayang:
Penulis: Indan Kurnia Efendi | Editor: Indan Kurnia Efendi
Kolase
Misteri tongkat komando dan peci miring Soekarno 

Selain tongkat komando, ciri khas Soekarno yang lain adalah peci miring. Ternyata ada cerita di balik itu semua.

Presiden Soekarno
Presiden Soekarno (ISTIMEWA)

Kisahnya bermula saat Soekarno kecil kerap bermain di Ndalem Pojok. Desa Pojok, Kediri.

Di tempat itu juga ada pohon beringin yang sering dipanjat Soekarno saat bermain.

Apes, suatu hari ia terjatuh hingga jidatnya terluka.

Baca: Soekarno Bersumpah Mati-matian Bela Palestina, Korbankan Piala Dunia dan Musuhi Orang Israel

Baca: Sebelum Bacakan Pancasila untuk Pertama Kali, Soekarno Menangis Hebat dan Meratap

Baca: Bung Hatta Sempat Tulis Wasiat pada Putra Soekarno, Isinya Ungkap Otak Pertama Lahirnya Pancasila

Sebagai trik untuk menutupi lukanya itu, Soekarno kemudian memakai peci dengan posisi sedikit miring.

RM Soeharyono, keponakan RM Soemosewoyo, yang juga bapak angkat Bung Karno pun mengatakan Sukarno memang memiliki bekas luka.

Namun, cerita peci Soekarno tidak berhenti sebagai penutup luka semata.

Bung Karno bisa dibilang menjadi trendsetter peci pada masanya.

Ia pertama kali mempopulerkan peci pada tahun 1920-an saat berpidato di Kongres Jong Java Surabaya.

Soekarno juga dianggap sebagai contoh model pemuda era 1940-an.

Lihat saja dalam cerpen Mas Saleh Sastrawinata berjudul Peci.

“...gambar Soekarno yang berpeci sambil memegang dagu, menjadi model yang suka ditiru pemuda dan dengan tiada sengaja menjadi alat reklame peci juga."

Bung Karno menegaskan peci adalah simbol nasionalisme. Ia juga menggabungkan fesyen peci dengan kas dan dasi.

Peci di kepala Soekarno juga menarik perhatian Inggit Garnasih, istri kedua Bung Karno.

"Ia mengenakan peci beludru hitam kebanggaannya, pakaian putih-putih. Cukup tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang pesolek, perlente,” kata Inggit, seperti yang tertulis dalam buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Inggit dengan Soekarno.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved