Berawal dari Pilkada DKI Jakarta, Kelompok MCA Kian Brutal Sebarkan Fitnah
Kelompok ini terkenal karena kerap menyebarkan isu tidak benar mengenai Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan sebutan Ahok.
Penulis: Isal Mawardi | Editor: Isal Mawardi
MCA kerap menggunakan isu agama dalam menyerang lawan-lawan politiknya. Salah satunya dipraktekan saat menjatuhkan Ahok.
Peneliti Departemen Komunikasi dan Informasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Savic Ali mengatakan isu agama adalah isu yang dengan cepat dapat mempengaruhi rakyat Indonesia.
#Bareskrim
— BARESKRIM POLRI (@BareskrimPolri) February 28, 2018
The Family MCA rutin melakukan unggahan tentang penghinaan agama.
Ada 15 isu lain yang bohong dan disebarkan.
Bareskrim siber masih mendalami kasus mereka termasuk siapakah penggerak mereka, tujuan, serta darimana aliran dana yang mereka dapat. #Bareskrim
Usai ahok tumbang dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, MCA mengalihkan targetnya ke Presiden Joko Widodo.
Kali ini, isu yang diangkat adalah kebangkitan PKI. Saat pilpres 2014, Jokowi kerap diserang oleh hatersnya dengan isu kebangkitan PKI. Salah satunya oleh Jon Riah Ukur Ginting (Jonru).
Mirip Sarachen
Penangkapan yang dilakukan terhadap kelompoh The Family MCA ini tampak persis dengan penangkapan kelompok penyebar hoaks, Sarachen, Agustus 2017 silam.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Mohammad Iqbal mengakui bahwa secara karakteristik, MCA menyerupai Saracen.
[VIDEO] Satu Tersangka Jaringan Hoaks MCA adalah Dosen UII https://t.co/4cyZrZCuEl pic.twitter.com/aT84jwR6l7
— KOMPAS TV (@KompasTV) February 28, 2018
"Ada beberapa karakteristik yang agak mirip, tetapi ini berbeda," ujar Iqbal di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/2/2018).
Namun, Iqbal belum memberikan pernyataan dibalik motif kelompok MCA menyebarkan kebencian. Sedangkan Sarachen memiliki motif ekonomi dibalik lahirnya berita-berita fitnah yang dibuatnya.
Para anggota Saracen, Sri Rahayu Ningsih, Muhammad Faisal Tonong, Jasriadi, dan Mohammad Abdullah Harsono, menetapkan tarif sekitar Rp 72 juta dalam proposal yang ditawarkan kepada sejumlah pihak.
Mereka bersedia menyebarkan konten ujaran kebencian dan berbau SARA di media sosial milik mereka sesuai pesanan
Berita Terbaru: Hoaks Mengenai Muadzin yang Dibunuh.
Kelompok MCA baru-baru ini menyebarkan berita hoaks mengenai seorang muadzin yang dibunuh oleh orang dengan gangguan kejiwaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mca_20180228_191333.jpg)