Cerita Mereka yang Tetap Bertahan, Walau Seni Reak Tak Menghasilkan Uang
Yandi Supriyandi mengungkapkan, hampir semua penggiat seni reak memiliki pekerjaan lain.
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Yudha Maulana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina
TRIBUNJABAR.CO.ID, SUMEDANG - Seni reak Sunda merupakan seni budaya tradisional yang sudah ada sejak dahulu.
Sayangnya, seni reak ini tak cukup untuk menjadi sandaran hidup dan sumber penghidupan bagi para penggiatnya.
Meski begitu, masih banyak anak muda yang terjun dan ikut bergabung dalam grup-grup seni reak sunda yang lebih dulu ada dibanding seni kuda renggong ini.
Apa alasannya?
Baca: Sering Dianggap Musyrik, Begini Filosofi di Balik Seni Reak Sunda yang Dekat Dengan Ajaran Agama
"Memang untuk hidup tidak cukup, karena tidak bisa dikira-kira dapat berapa," ujar Yandi Supriyandi (21), anggota grup seni reak, ketika ditemui Tribun Jabar di Lapangan Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis (21/12/2017).
Tak Disangka, Wanita Ini Bertemu Jodohnya Setelah Jadi Sopir Taksi Online, Kisahnya Romantis Banget! https://t.co/O966podDPS via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) December 21, 2017
Bahkan, Yandi Supriyandi mengungkapkan, hampir semua penggiat seni reak memiliki pekerjaan lain.
Seni Reak ini hanya menjadi selingan, disamping pekerjaan utama.
Meski begitu, Yandi mengaku, dirinya dan anak muda lain yang juga terjun ke dunia seni reak, tidak mau meninggalkan seni tradisional ini.
Baca: 7 Tanda pada Tubuh Jika Mengalami Stres, Jangan Sampai Kecolongan dan Segera Atasi Permasalahannya!
"Karena tujuannya bukan untuk mendapatkan uang, tetapi untuk melestarikan budaya sunda," ujar Yandi.
Yandi mengungkapkan, anak-anak muda ikut melestarikan budaya reak karena mengikuti kata hati.
"Kalau tidak oleh kita, ya oleh siapa," ujar Yandi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kelompok-seni-reak-sunda-tampilkan-atraksi-di-lapangan-desa-sayang-jatinangor_20171221_150450.jpg)