Operasi Senyap CIA Hancurkan Komunisme Korbankan Banyak Nyawa Tak Berdosa
Di kawasan Asia Tenggara, wilayah Kamboja dan Thailand menjadi basis CIA untuk memerangi komunis yang sedang mengancam Vietnam dan Indonesia.
Baca: VIDEO TEASER- Gomes Puji Perjuangan Persib, Seri ke-14 Sepanjang Musim
Pada saat itu anggota SIFAR merupakan polisi rahasia yang bertugas mengawal Mussolini tapi pasca PD II anggota SIFAR sudah direkrut oleh CIA.
Sebagai organisasi yang antikomunis, keberadaan Gladio di Italia cukup berpengaruh dan menjadi andalan militer Italia dalam upaya memerangi pengaruh komunis.
Demikian kuatnya keberadaan Gladio, CIA sampai memutuskan preemptive attack terhadap kekuatan komunis di Italia.
Operasi CIA dan Gladio untuk menggulingkan pemerintah komunis di Italia kemudian dinamai Operatiion Gladio dan mulai digelar pada bulan Desember 1969.
Niat Foto Cantik, Pose Nia Ramadhani Ini Justru Bikin Ngakak Netizen: Saudara Limbad Yah Mbak? https://t.co/sajNawzxTW via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) October 19, 2017
Modus Operasi Gladio adalah membonceng aksi kudeta militer di Italia yang didalangi oleh Jenderal Giovanni de Lorenzo.
Tujuan aksi kudeta Jenderal Giovanni adalah menggulingkan parlemen Italia yang berideologi sosialis.
Aksi Gladio sebenarnya tidak secara langsung mendukung manuver militer Jenderal Giovanni tapi lebih kepada menciptakan suasana panas (Strategy of Tension) dan chaos di seantero Italia.
Untuk mmanaskan situasi, Gladio melancarkan sejumlah aksi pengeboman di sejumlah lokasi penting.
Satu bom diledakkan di kawasan National Agrarian Bank sehingga menewaskan 17 orang dan melukai 88 orang lainnya.
Baca: Kali Ini, KPPU Hadirkan Saksi dari Aqua Yang Menurunkan Status Toko
Sejumlah bom lainnya diledakkan di dua kota yang menjadi simbol politis Italia, Roma dan Milan.
Badan intelijen Italia yang dipimpin oleh Jenderal Gianadelio Maletti langsung melakukan penyelidikan (counterintelligence) atas aksi teror itu.
Penyelidikan berlangsung cukup lama antara tahun 1971-1975 dan meneukan bukti bahwa aksi pengeboman yang menimbulkan kerugian besar itu berkaitan dengan agen CIA yang bermarkas di Jerman.