Rabu, 20 Mei 2026

Ada Pesawat Tempur MiG-21 di ITB, Ini Ceritanya Mengapa Bisa Ada di Sana

Di sana mukim satu unit MiG-21 yang pernah memperkuat AURI (kini TNI AU) yang khusus dibeli untuk mengusir Belanda dari Irian Barat.

Tayang:
Editor: Ravianto
net
Mikoyan Gurevich 21 (MiG-21) 

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Meski kedigdayaannya telah padam setengah abad lalu, legenda MiG-21 masih hidup sampai sekarang.

Tidak hanya di berbagai negara, tapi juga di Indonesia. Para pengagumnya tak hanya memburu kisah-kisah pertempurannya, tapi juga cerita dari jet-jet ini yang “masuk” laboratorium untuk dipelajari keunggulannya.

Seperti juga dilakukan di Amerika, enjinir Indonesia diam-diam ikut membedah kekhasan maupun keunggulannya.

Setidaknya hal inilah yang dicatat Angkasa setelah beberapa kali berkunjung ke Laboratorium Fakuktas Teknik Mesin dan Dirgantara, ITB, Bandung, Jawa Barat.

Di sana mukim satu unit MiG-21 (Mikoyan-Gurevich MiG 21) yang pernah memperkuat AURI (kini TNI AU) yang khusus dibeli untuk mengusir Belanda dari Irian Barat.


Pencegat bernomor 2158 ini dihibahkan pada 1973 khusus untuk didedikasikan sebagai alat peraga dalam berbagai mata kuliah di FTMD. Bagi Angkasa, ada satu fakta yang amat mengejutkan dari warisan berharga ini .

“Pesawat ini baru dipakai terbang 10 jam!” Demikian tertulis dalam Buku Emas 50 Tahun Program Aeronautika/Astronautika ITB (2012).

Kenapa AURI menghibahkannya kepada ITB? Langkah ini rupanya diambil untuk mengapresiasi perjuangan Dr. Ir. Oetarjo Diran dan Dr. Ken Liem Laheru yang begitu gigih mendirikan Pendidikan Teknik Penerbangan di ITB (kini Jurusan Teknik Penerbangan di FTMD).

Demi memajukan Indonesia, mereka sampai-sampai meninggalkan jabatan bergensinya di Jerman.

Jet yang satu ini amat ditakuti Barat. Tak ayal keberadaannya pun sangat dieman-eman.

“Bagaimana tidak? Jika Departemen Pertahanan AS saja harus susah payah ingin mencurinya, masak pemberian yang amat berharga ini kami sia-siakan?” ujar sumber Angkasa.

Sayangnya, ketika itu ITB belum punya tempat yang dianggap cocok. Sehingga untuk sementara waktu terpaksa ngendon di hanggar Lipnur (kini PT Dirgantara Indonesia).

Di sana, supersonik sayap delta ini selanjutnya di antaranya dirawat oleh Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo dan Dr. Said D. Jenie, dosen teknik penerbangan lulusan Massachussetts Institute of Technology, AS.

Keunggulan dan kelemahan

Kala itu kisah keunggulan MiG-21 beranjak mendunia. Itu karena jet yang sejatinya dirancang Mikoyan-Gurevich, Rusia, untuk membunuh pembom strategis andalan AS, B-52 Stratofortress ini, ternyata juga mampu membabat jet unggulan AS seperti F-4 Phantom II, F-104 Starfighter dan F-105 Thunderchief.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved