Cerpen Teguh Affandi

Rio Menjadi Serangga

SAAT mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Rio Menjadi Serangga 

Saya, yang dalam cerita ini satu-satunya tokoh yang jatuh cinta kepada Rio, mulai mendekatinya. Saya yakin, Rio dan semua manusia selalu abai dengan hal-hal kecil seperti serangga seperti saya. Jadilah saya mulai menyelinap di antara tumpukan buku, kemudian mendekati tubuh Rio yang mencagak di depan kios.

Saya mulai menaiki kaki dan kemudian menjalari ke tubuh bagian atas Rio. Seperti semula saya hanya jatuh cinta kepada ketiak Rio, jadilah tujuan utama saya bisa menyelinap di ketiak Rio. Setelah berusaha agar tak terlihat Rio dan tidak menimbulkan kecurigaan karena kadang kaki serangga bisa menumbuhkan rasa gatal. Kalau sudah demikian, bisa-bisa Rio menggaruk-garuk. Risiko terkecil aku terjatuh dari usaha menaiki tubuh Rio, dan skenario terburuknya kuku tangan Rio bisa-bisa membuat tubuhku meletus. Kaki saya entakkan perlahan. Berjingkat agar tak menimbulkan rasa-rasa lain, kulit Rio pastilah sesensitif kulit manusia yang lain.

"Saya ambil yang ini," Rio mengangkat buku berjudul Ensiklopedia Serangga.

Sementara saya masih bersembunyi di ketiak Rio, dia membayar dan kemudian membawa pulang buku itu. Wanita itu tersenyum karena dia mendapat uang. Wajah Rio ceria karena yang dicari telah ditemukan. Dan saya sendiri bahagia dan berdebar karena berhasil menyusup dan tinggal dalam beberapa waktu di ketiak Rio.

Saya tak tahu berapa lama saya di dalam ketiak Rio. Namun ketika ada cahaya melintas masuk ketiak, saya tahu telah berada puluhan kilometer dari kios buku bekas. Kini saya ada di kamar, yang saya duga adalah kamar Rio.

Rio melepas baju dan menyalakan kipas angin. Saya masih diam di ketiaknya.

"Sayang, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan menjadi serangga. Kita adalah sepasang serangga paling bahagia. Lupakan kehidupan manusia yang serba-dusta ini! Tuhan memang kurang kerjaan, mengapa aku harus jatuh cinta kepada serangga." Rio merapal mantra sambil membaca-baca ensiklopedia serangga itu.

Dada saya bergemuruh. Mungkinkah Tuhan sedang ingin mempertemukan saya dengan Rio? Kalau Rio menjadi serangga, saya bisa bersua langsung dan kami akan jadi sepasang serangga, bercinta ala serangga, dan menghasilkan banyak larva. Kalau benar, itu akan membuat saya sebagai kutu buku paling beruntung.

Sebentar lagi saya bisa seperti yang dilakukan oleh dua spesies yang dimabuk cinta.

"Sayang, karena kamu telah berganti wujud menjadi kupu-kupu, aku akan menyusulmu menjadi kupu-kupu juga," kalimat Rio seketika meruntuhkan.

Aroma hangat ketiak Rio yang semula hangat mendadak apak. Saya kembali menjadi kutu buku yang hanya hidup terimpit. Kemudian saya rasakan tubuh Rio menyusut, dan sedikit demi sedikit sayap tumbuh di punggung Rio. Rio sebentar lagi akan paripurna menjadi kupu-kupu demi kekasihnya. Dan saya tetap menjadi kutu buku. Sekali lagi, Tuhan menciptakan permainan demi kepuasan-Nya sendiri.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved