Cerpen Ayi Jufridar
Belati di Dada Alya
Beberapa perempuan di depan dan belakang Alya memekik, tersuruk beberapa langkah hingga menubruk tamu lain di dekat mereka.
Mengantre memang harus banyak bersabar, khususnya dalam resepsi pernikahan. Para tamu umumnya tak sekadar ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Banyak di antara mereka berfoto dengan mempelai yang membuat antrean tak ubahnya bagai deretan mobil yang terjebak dalam kemacetan.
Dari tempatnya berdiri, Alya bisa mendengar suara pengarah gaya yang mengatur posisi orang-orang agar membentuk lengkungan sempurna di kiri dan kanan mempelai. Posisi klise yang selalu terlihat dalam pesta pernikahan.
Sudah semakin dekat....
Alya menarik napas dalam-dalam, lalu menggeraikan rambut panjangnya ke belakang, sebuah gerakan yang sering ia lakukan untuk mengusir kegugupan. Matanya menatap punggung perempuan di depannya dengan jantung berdegup tak beraturan. Sesaat ia seperti membangun sebuah dunia kecil yang terlindungi di balik punggung perempuan itu. Suara-suara kian riuh terdengar, dan kegugupan Alya kian bertambah.
Alya meraba dadanya yang seketika basah. Ia tak melihat ke dadanya tapi bisa membayangkan darah yang mengalir di sana, menodai gaunnya. Hidungnya tidak mencium anyir darah yang menguar, tetapi kepalanya terasa pusing tiba-tiba.
Alya mengempaskan embusan napasnya, seolah melepaskan beban berat yang mengimpit.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?"
Tentu saja apa-apa, sahut Alya dalam hati. Namun ia memilih tak menjawab pertanyaan mamanya. Dadanya kian terasa nyeri. Tapi Alya tidak berani mengangkat wajahnya. Dia bersyukur perempuan di depannya bertubuh tambun dan lebar sehingga bukan saja wajahnya yang yang tersembunyi, tetapi tubuhnya pun seakan tertelan di baliknya.
Hanya beberapa langkah lagi barangkali, pikir Alya. Ia mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa agar tetap tenang dan kakinya menginjak lantai dengan benar. Banyak kejadian konyol di lantai pesta, kaki yang tersandung anak tangga, hak sepatu yang patah, kaki menginjak ujung gaun sendiri atau gaun orang lain. Tanpa mengalami semua kesialan itu pun Alya merasa tubuhnya sudah hampir rubuh. Dia ingin masuk ke dunia yang membuat lukanya berdarah dengan ketenangan yang ia sendiri tak pernah membayangkannya. Entah dari mana datangnya ketenangan itu, Alya hanya membayangkan keajaiban turun di depan pelaminan.
Sesungguhnya, Alya tidak menginginkan gempa dahsyat tiba-tiba terjadi, hanya untuk menyelamatkan atau menguburkannya. Sebab ia sudah pernah mengalami dan itu cukup membuat trauma sepanjang hidupnya. Ingatan kepada gempa dahsyat membuatnya sedih sekaligus tegar. Kalau bencana yang menelan ratusan ribu nyawa manusia sudah ia lalui, apalah artinya menghadiri sebuah pesta dengan belati terpacak di dada. Dia yakin bisa melewatinya dengan penuh ketenangan.
Tiba-tiba saja, mempelai pria sudah berdiri di hadapan Alya. Ah, tidak. Alya yang berdiri di depan mempelai pria. Alya nyaris tidak menyadarinya ketika tangannya sontak terulur. Entah apa yang meluncur dari bibirnya, ia tidak mendengar dengan jelas. Tapi telinganya mampu mendengar ketika mempelai pria mengucapkan terima kasih.
"Tidak menyangka kamu datang."
Kali ini Alya mendengar suaranya dengan lebih jelas. Justru mempelai wanita yang tidak mendengar karena masih berbasa-basi dengan para tamu lainnya.
"Kamu ingin aku tidak datang?"
Mempelai pria tersenyum masam. Butir-butir keringat memenuhi dahinya, mengotori riasan tipis di wajahnya yang pucat. Seharusnya dia tidak perlu berkeringat di ruangan yang sejuk dan nyaman. Di hari penuh kebahagiaan pula.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/belati-di-dada-alya_20170121_221720.jpg)