Coffee Break

From Zero to Zero

MEDIA sosial bisa secara mendadak melambungkan seseorang dari status entah siapa menjadi tokoh ternama. From zero to hero.

From Zero to Zero
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MEDIA sosial bisa secara mendadak melambungkan seseorang dari status entah siapa menjadi tokoh ternama. From zero to hero.

Ingat Norman Kamaru? Sewaktu menjadi anggota Brimob Polda Gorontalo, lima atau enam tahun lalu, Norman mengunggah video goyang chaiya chaiya di Youtube. Dalam waktu hanya sepeminuman teh video itu ditonton jutaan orang dan sang briptu melejit menjadi bintang. Mungkin karena merasakan nikmatnya popularitas, ia kemudian lebih sering memilih memenuhi undangan pentas dan meninggalkan tugas. Akibatnya, ia pun dipecat sebagai anggota Brimob dan melanjutkan kariernya sebagai penyanyi. Sayangnya, ketenaran Norman hanya berlangsung selintasan. Sinarnya dengan cepat meredup dan tidak lama kemudian namanya terlupakan. Ia sempat berjualan bubur dan konon juga menjadi pengamen jalanan dan membuat video klip. From hero back to zero.

Sebelum mengunggah postingan video Ahok, Buni Yani bukanlah siapa-siapa. Konon ia lahir di Lombok, 16 Mei 1969, lulus S1 dari Fakultas Sastra Inggris Universitas Udayana, Bali, meraih S2 di Ohio University pada 2002, dan kini tengah menyusun disertasi di Leiden University, Belanda, sejak 2010 dan belum selesai. Ia mungkin tidak berniat menjadi selebritas ketika mengunggah video itu. Namun, dilihat dari video unggahannya yang sudah dipenggal-penggal dan transkripnya yang berbeda dengan aslinya, ditambah judulnya yang tendensius, terkesan bahwa Buni Yani melakukannya dengan sadar dan niat tertenu. Mungkin itu gagasannya sendiri, mungkin juga ia bekerja sama dengan orang lain. Wallahualam. Yang pasti, berkat postingannya, Buni Yani mendadak menjadi buah bibir dan jagat politik Nusantara, baik di dunia nyata maupun di jagat maya, terguncang-guncang untuk beberapa lama. From zero to hero.

Namun, Buni Yani harus melalui jalan terjal ketika ia dilaporkan karena diduga melakukan pencemaran nama baik dan penghasutan terkait dengan SARA. Ia kini sudah berstatus tersangka dan terancam dipenjara beberapa lama. Belakangan, ada kalangan yang menyebut nasib Buni Yani "habis manis sepah dibuang". Dalam sebuah pertemuan, Aa Gym sempat menyiramkan nasihat yang saaangat bijak: "Pak Buni Yani, terima kasih atas silaturahimnya, saya berterima kasih. Sudah jadi jalan dari Allah karena tidak ada satu pun yang terjadi kecuali pasti Allah yang atur. Jangan kecil hati. Bersyukur saja. Tidak akan ada yang keluar dari lauh mahfudz.... Kalaupun ditahan, dinikmati di penjara sebagai bagian daripada pematangan pribadinya dan bisa menemukan keindahan Islam. Kita doakan." Saya lebih suka menganalogikan jalan hidup Buni Yani dengan mengutip baris puisi Chairil Anwar: "Sekali berarti, sesudah itu mati." From hero back to zero.

Berbeda dengan Buni Yani, Dwi Estiningsih tampaknya berhasrat besar menjadi tenar. Ia berkali- kali mencuit di Twitter dengan nada yang aduhai provokatif. Ia kabarnya pernah menyebarkan isu lambang PKI di lembar uang Rp 100.000. Yang terakhir, ia menyebut lima pahlawan dalam uang baru rupiah sebagai pahlawan kafir. Siapa Dwi Estiningsih? Ia perempuan berusia 36 tahun, kader PKS, telah menikah, dan memiliki gelar pendidikan magister psikologi. Ia pernah menjadi caleg PKS untuk DPRD DIY pada Pemilu 2014 tapi hasilnya gagal. Kini namanya sudah tenar. From zero to hero—setidaknya hero bagi kelompoknya.

Namun—seperti dalam kisah fiksi, selalu saja ada kata namun—banyak orang yang terluka akibat cuitannya. Cuitannya dianggap bernuansa ujaran kebencian. "Kami sebagai anak bangsa, kebetulan ayah kami pejuang, merasa sangat terluka dan ini bagian dari upaya mengadu domba dan memecah belah seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke dengan ujaran kebencian dan SARA," kata Ketua Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia (Forkapri) Birgaldo Sinaga. Maka, Forkapri melaporkan Dwi Estiningsih ke Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Mungkin nasib Dwi akan mirip dengan nasib Buni Yani. From hero back to zero.

Oh, ya. Banyak yang menyebut Buni dan Dwi bodoh. Benarkah? Saya justru melihat mereka cerdik. Bukan cerdas, ya. Dwi, misalnya, dengan ilmu psikologinya yang mungkin mumpuni, mampu mengacaukan daya tahan psikologis siapa pun, terutama mereka yang selama ini berpikir waras dan merdeka, apalagi hanya para bocah yang masih mentah. Dia juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bukankah tokoh antagonis umumnya memang cerdik dan percaya diri?

Kisah Superman tentu tidak seru kalau Lex Luthor orang dungu. Serial Mac Gyver selalu ditunggu karena musuh besarnya, Murdoc, cerdik dan tidak pernah mati.

Karena cerdik dan percaya diri, Lex Luthor, Murdoc, The Joker, dan sebagainya selalu punya trik untuk melawan para jagoan.

Trik yang baru selalu lebih canggih daripada sebelumnya. Dan lebih berbahaya. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved