Coffee Break

Para Pendamba Bidadara

Bagaimana jika ada perempuan menjadi pelaku aksi bom bunuh diri? Dapatkah disebut juga emansipasi?

Para Pendamba Bidadara
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

KETIKA ada perempuan menjadi sopir taksi, orang bisa saja menilainya emansipasi. Begitu juga ketika ada perempuan menjadi petugas pom bensin, menjadi pilot, atau menjadi lurah dan presiden. Tapi, bagaimana jika ada perempuan menjadi pelaku aksi bom bunuh diri? Dapatkah disebut juga emansipasi? Rasanya gimanaaa gitu.

Sidney Jones, seorang pengamat terorisme di Asia Tenggara, dalam kolomnya di majalah Tempo edisi bahasa Inggris, 26 Juli 2016, menyatakan: "Meskipun sulit dibayangkan hari ini, hanya soal waktu sebelum kita menyaksikan tampilnya perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri di Jawa."

Tidak sampai setengah tahun, prediksi Jones (nyaris) menjadi kenyataan. Tidak tanggung- tanggung, dalam waktu kurang dari seminggu, dua perempuan yang diduga hendak menjadi "pengantin bom" ditangkap di dua tempat yang berbeda. Pada 11 Desember lalu, Dian Yulia Novi ditangkap di Bekasi. Perempuan berusia 27 tahun itu diduga hendak meledakkan bom di istana kepresidenan, Jakarta. Empat hari kemudian, TS, seorang ibu rumah tangga berusia 37 tahun, ditangkap di Tasikmalaya. TS diduga terlibat dalam jaringan teroris Bekasi yang akan meledakkan bom di Istana Negara.

Apa kira-kira yang mereka harapkan dengan menjadi pelaku bom bunuh diri? Jika "pengantin bom" itu laki-laki, kita pasti pernah mendengar pengakuan mereka terhadap keyakinan bahwa mereka akan mati syahid dan kelak di surga berjumpa dan menikah dengan 72 bidadari. Apakah Dian dan TS, jika benar-benar menjadi pelaku bom bunuh diri, berharap bertemu di surga dan menikah dengan bidadara, lelaki yang tampannya tak terkira? Berapa jumlah bidadara yang akan menyambut di surga?

Baik bidadari (vidyadhari) maupun bidadara (vidyadhara) adalah sejenis makhluk supernatural dalam mitologi Hindu. Mereka abdi Dewa Siwa, yang bersemayam di Himalaya. Tugas dan fungsi mereka adalah penyampai pesan para dewa kepada manusia, sebagaimana para malaikat dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Bagaimana istilah untuk menyebut makhluk dalam agama Hindu ini dipakai dalam khazanah Islam, tentu perlu penelusuran lebih jauh.

Belum ada pengakuan baik dari Dian maupun TS ihwal bidadara ini. Mungkin juga kepercayaan mereka berbeda dengan pelaku laki-laki. Yang pasti, Nur Solihin, suami Dian, mengatakan bahwa Dian ingin menjalankan tugas amaliyah istisyhadiyah (pengorbanan nyawa untuk agama). Dalam surat wasiatnya kepada orang tuanya, Dian menulis, "... jaga diri kalian baik-baik. Semua yang terjadi karena kehendak Allah, dan apa yang saya lakukan bukan tanpa ilmu. Saya tau mana yang baik dan mana yang buruk.... Insya Allah kelak kita akan berkumpul kembali di alam yang lebih indah. Inilah caraku berbakti pada agama dan pada kalian orangtuaku. Jangan pernah kalian membenci jalanku ini...." Kepada suaminya, Dian menulis antara lain, "... Alhamdulillah cinta itu tumbuh dan semoga abadi sampai jannah-Nya."

Di Indonesia memang belum pernah terjadi pengeboman dilakukan oleh perempuan. Namun di level internasional, menurut data Yoram Schweitzer (2006) dari Jaffee Center for Strategic Studies (JCSS), antara 1985 dan 2006 kaum perempuan melakukan 220 aksi bom bunuh diri atau 15 persen dari semua kejadian. Mia Bloom (2012), peneliti dari Massachusetts University, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kaum perempuan melakukan sekitar 25 persen dari 230 serangan bom bunuh diri antara 1985 dan 2008.

Kita tidak tahu bagaimana ada perempuan di negeri ini sampai terbujuk menjadi calon "pengantin bom". Apakah kelompok mereka berpendapat bahwa perempuan memiliki kelebihan dibanding laki-laki? Menurut para ahli, perempuan dalam aksi-aksi ini memiliki nilai tambah tersendiri. Pertama, mereka biasanya bisa lebih leluasa bergerak dan tidak terlalu dicurigai aparat keamanan. Kedua, terlibatnya kaum perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri memiliki daya tarik tersendiri bagi media massa. Ketiga, keterlibatan perempuan dapat mendorong keterlibatan lebih jauh kaum laki-laki dalam aksi-aksi yang sama. Keempat, keterlibatan perempuan juga bisa dianggap sebagai indikator makin sejajarnya kedudukan perempuan dan laki-laki, yang juga menjadi indikator kemajuan perempuan.

Untunglah, kepolisian negeri ini berhasil menangkap para (calon) pelaku itu sebelum mereka melakukan aksinya.

Namun, seperti biasa akhir-akhir ini, suara-suara sinis pun merebak, terutama di media sosial: Benarkah mereka teroris? Jangan-jangan ini hanya pengalihan isu.

Dalam hal ini, apa pun yang dilakukan polisi selalu menjadi sasaran kritik.

Dengan gaya satire, Denny Siregar, penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi, menulis: Kalau terorisnya ketangkep, ente bilang pengalihan isu... Kalau bomnya meledak, ente teriak, "Kapolrinya pecat!" Ente sehat? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved