Coffee Break

Provinsi (Tidak) Bahagia

KEBAHAGIAAN bisa dirasakan di mana saja, termasuk di kota yang buruk sanitasinya dan minim fasilitasnya, oleh orang-orang yang kelaparan.

Provinsi (Tidak) Bahagia
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KEBAHAGIAAN bisa dirasakan di mana saja, termasuk di kota yang buruk sanitasinya dan minim fasilitasnya, oleh orang-orang yang kelaparan. Hasari Pal, sang penarik angkong (becak yang ditarik manusia); Anouar dan penghuni rumah lepra, serta Kalima, seorang sida-sida (kaum transvestit kasta Hijra yang berperan dalam perayaan penyambutan kelahiran bayi) merasakan aura spiritualitas yang membahagiakan justru di tengah kehidupan yang pahit dan perih.

Dominique Lapierre, penulis kelahiran Prancis, 30 Juli 1931, mengisahkan para urban miskin di Calcutta, India, itu dalam sebuah novel berjudul City of Joy (1985)—dialihbahasakan menjadi Negeri Bahagia dan diterbitkan Bentang Pustaka—yang kemudian diangkat ke layar kaca dengan judul yang sama pada 1992 dengan sutradara Roland Joffé.

Para urban itu semula petanis miskin di Bengali. Karena penghidupan di kampung tak lagi menjanjikan, para petani itu bermigrasi ke Calcutta. Harapannya, penghasilan mereka meningkat. Namun, mereka justru jatuh ke kehidupan kota yang sangat kejam. Mereka kemudian berkumpul di sebuah kawasan bernama Anand Nagar, sebuah perkampungan kumuh, tempat tinggal orang-orang miskin dan terbuang di Calcutta. Penghuninya terdiri atas segala jenis manusia yang terpinggirkan: kaum paria, penderita lepra, sida-sida, dan sebagainya; menderita TBC, desentri, dan malnutrisi.

Justru di tempat melarat itulah mereka menunjukkan sikap tolong-menolong dan saling mencurahkan kasih sayang. Perbedaan agama bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Orang- orang yang sehari-hari harus berjuang keras untuk memperoleh beberapa rupee itu menunjukkan bagaimana seharusnya hidup bersama. Pendeknya, situasi seburuk apa pun bukan penghalang untuk berbagi dan berbahagia.

City of Joy memang kisah fiktif. Namun Lapierre menulisnya berdasarkan penelitiannya selama dua tahun tinggal di salah satu bagian Kota Calcutta. Bukan tidak mungkin salah satu tokoh dalam cerita itu, Stephan Kovalski, seorang misionaris Polandia yang memilih hidup sebagai kaum tertindas untuk melaksanakan tugas panggilannya, mewakili karakter Lapierre sendiri. Bagi Kovalski, tugas misionarisnya bisa terpenuhi hanya jika ia menjadi salah seorang dari mereka yang dipinggirkan.

Memang tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan. KBBI memerikan bahwa bahagia adalah "keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)", sedangkan kebahagiaan adalah "kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin". Menurut Aristoteles, bahagia adalah "suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang menurut kehendak masing-masing". Alquran, seperti dikutip dari sebuah literatur, menegaskan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang nilai kebaikannya lebih berat daripada keburukannya walaupun bedanya cuma sedikit.

Lagi pula, kebahagiaan sulit diukur secara kuantitatif. Apakah orang-orang Anand Nagar lebih berbahagia dibandingkan dengan warga Jawa Barat? Ah, pertanyaan yang mengada-ada, barangkali. Yang pasti, menurut hasil survei periode Juni-Juli 2014 oleh BPS, indeks kebahagiaan masyarakat Jabar berada di urutan ke-28 dari 34 provinsi di Indonesia—peringkat tertinggi ditempati Provinsi Kepulauan Riau. Khusus di Pulau Jawa, Jabar berada di posisi terendah di bawah DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Jawa Tengah.

Ada sepuluh poin penilaian untuk menakar indeks kebahagiaan itu, yakni pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kondisi rumah dan aset, pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, ketersediaan waktu, kondisi lingkungan, dan kondisi keamanan.

Bagaimana mungkin Jabar, yang tanahnya subur, warganya mayoritas muslim, sejahtera, dan berpendidikan tinggi—juga memiliki sejumlah perguruan tinggi yang bergengsi—serta memiliki para pemimpin yang sangat islami, menempati urutan buncit di Pulau Jawa dan beberapa tingkat mendekati buncit di Indonesia?

Hasil survei itu bisa saja berkembang dalam diskusi yang hangat—atau bahkan panas. Yaelah, namanya juga survei. Apa saja kriterianya? Bagaimana prosedurnya? Emang kebahagiaan bisa diukur dengan angka? Kebahagiaan adalah urusan batin, bukan semata-mata menjawab pertanyaan "apakah kamu bahagia?".

Beberapa waktu lalu survei oleh Wahid Foundation menempatkan Jabar di urutan pertama provinsi dengan kasus intoleransi paling banyak. Seakan-akan menegaskan hasil survei itu, sekelompok warga yang menyebut diri mereka Pembela Ahlus Sunnah membubarkan penyelenggaraan kebaktian kebangunan rohani di Sabuga.

Mungkin Gubernur dan Wagub dapat berperan menjadi Stephan Kovalski guna meyakinkan diri apakah posisi Jabar serendah itu. Atau, karena keduanya muslim, mereka bisa beraksi seperti Umar bin Khattab, blusukan tanpa diketahui siapa pun, demi mengetahui kondisi rakyatnya.

Tidak sekadar merenung dan meneteskan air mata. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved