Breaking News:

Cerpen Luhur Satya Pambudi

Rumah Percikan Api Neraka

Dahulu, penghuninya yang merupakan sepasang suami-istri kerap terdengar berselisih paham.

Ilustrasi Rumah Percikan Api Neraka 

RUMAH itu kemudian hampa belaka. Ketua RT mencoba menghubungi kakak sang nenek yang konon pemilik asli rumah itu. Upayanya tak berbuah positif. Ketimbang dibiarkan kosong tanpa guna, Ketua RT, atas persetujuan warganya, memutuskan menyewakan rumah itu kepada siapa pun yang bersedia tinggal di situ. Uang hasil sewa disepakati akan dimasukkan ke kas warga RT. Awalnya tiada masalah berarti, kendati ada satu tetangga terdekat yang sempat keberatan. Namun sesudah hampir dua tahun berselang, sebuah lembaga sosial, yang dahulu ikut mengurus pemakaman sang nenek, tiba-tiba datang melaporkan diri kepada Ketua RT. Mereka mengaku telah mendapat hak dari pemilik rumah sesungguhnya, yang tinggal di lain kota, untuk menempati rumah yang sedang disewakan itu. Ketua RT tentu tidak bisa serta-merta menerimanya.

"Memang ke mana saja selama ini, orang yang mengaku sebagai pemilik sah rumah itu? Di mana dia ketika adik iparnya sakit keras hingga meninggal dunia? Apakah ada yang dilakukannya ketika adik kandungnya menjadi janda, hidup menderita sebatang kara, lalu akhirnya padam nyawa tanpa sanak saudara?"

"Kami siap membayar jasa baik warga di sini, meski sebenarnya kami tak wajib melakukan hal itu," ujar wakil lembaga sosial tersebut.

"Kalian mau bayar berapa? Selama ini kami ikhlas merawat beliau hingga wafatnya tempo hari. Berapa pun uang kalian tampaknya mustahil untuk membayar kebaikan hati warga di sini. Kami hanya tak rela dengan perlakuan buruk pemilik rumah itu terhadap mendiang tetangga kami."

"Jadi, apa yang harus kami lakukan? Tolong diingat, kami sudah membawa surat bukti yang sah dari pemilik rumah yang secara sukarela menyerahkan miliknya untuk kepentingan sosial. Apakah kami perlu membawa aparat keamanan kemari?"

"Silakan kalian menempati rumah itu, tapi maaf saja jika saya tidak bersedia membantu apa-apa."

Ketua RT memilih mengalah. Risikonya terlalu besar sekiranya ia tetap ngotot mempertahankan rumah itu. Tentu ia tak mau terjadi sesuatu yang mengusik ketenteraman dan kedamaian hidup yang selama ini terjaga senantiasa di lingkungan tempat tinggalnya.

Tetapi rumah itu tetap menyimpan api dalam sekam. Jika ungkapan terkenal berbunyi "rumahku adalah surgaku", maka tempat tersebut barangkali layak dijuluki "rumah percikan api neraka". Sudah sekian bulan berlalu, rumah itu nyatanya dibiarkan hampa belaka.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved