Cerpen Beni Setia
Karnaparwa
KARNA memejamkan matanya. Dan pelan menelan ludah setelah tertunduk di hadapan Kunti.
Editor:
Hermawan Aksan
Ilustrasi Karnaparwa
[Mereka terdiam. Angin henti. Yang ronda sudah jarang berkeliling, meski ada yang berkeliling dan jauh serta panjang memutari seluruh perkemahan, sehingga suara kentongannya terdengar sangat sayup. Malam menjelang di ujung, Karna mengajak Kunti makan—melayaninya—sebelum semuanya tuntas serta Kunti pelan menyelinap. Pergi. Kembali pada ketiadaan seperti selama ini ia terpaksa tidak pernah hadir di sisi Karna. Karna memejam sebelum sosok Kunti menghilang. Menelan ludah dan ia pun bertekad akan memilih kalah. Mati sebagai tumbal untuk keutuhan Pandawa. Sebagai ekspresi pancen profesional kesatria dan sekaligus bakti anak kepada Ibu. Memang.]
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/karnaparwa_20161119_212331.jpg)