Coffe Break

Akrabnya Jokowi-Prabowo

SUNGGUH, saya terharu melihat keakraban Jokowi dan Prabowo di dua kesempatan, di kediaman Prabowo di Hambalang dan di Istana Merdeka

Akrabnya Jokowi-Prabowo
TRIBUN JABAR
Hermawan Aksan 

SUNGGUH, saya terharu melihat keakraban Jokowi dan Prabowo di dua kesempatan, di kediaman Prabowo di Hambalang dan di Istana Merdeka. Setidaknya, begitulah yang tampak di layar kaca. Seorang teman saya bahkan mengaku matanya berkaca-kaca melihat adegan itu. "Adem di mata, mudah-mudahan di hati juga," ucap teman saya.

Saya berharap kejadian itu bukan fiksi, bukan drama, melainkan realitas, bahwa keduanya memang benar-benar akrab. Rivalitas di masa pemilihan presiden dua tahun lalu sirna sudah. Kalau saja sistem kenegaraan memungkinkan, saya membayangkan salah satu menjadi presiden dan yang satu lagi perdana menteri.

Tentu saja tidak mungkin. Lagi pula, keakraban keduanya tidak perlu diwujudkan dalam jabatan kenegaraan. Jokowi adalah presiden dan Prabowo adalah "bapak bangsa". Tapi apa pun posisi masing-masing, yang paling penting keakraban itu akan menyebarkan aroma kedamaian kepada para pendukung kedua pihak. Amin.

Dua tahun lebih sudah Indonesia terbelah. Kompetisi pilpres berlanjut menjadi dua kubu yang tak henti baku serang: Jokower vs Prabower, lover vs hater, kubu sini vs kubu sana, kita vs mereka—apa pun namanya. Melelahkan. Kontraproduktif. Hanya memelihara dan memupuk kebencian.

Keterbelahan itu pun tidak hanya pada objek Jokowi. Setelah pilpres, dalam banyak perkara, kedua kubu itu nyaris tidak pernah akur, terutama di media sosial. Akun-akun tertentu terus- menerus memosting tulisan, foto, dan meme bernada saling cemooh, bahkan saling maki. Hampir apa pun program atau tindakan (pemerintahan) Jokowi pasti dicemooh kubu anti-Jokowi. Sebaliknya, apa saja gerak langkah kubu pro-Prabowo (yang mewujud antara lain dalam Koalisi Merah Putih) niscaya mendapat perlakuan serupa dari kubu pr-Jokowi.

Ketika heboh kasus Yulianus Paonganan, yang diduga melakukan penghinaan terhadap Jokowi tahun lalu, misalnya, terjadi pro-kontra yang panas. Tentu saja bisa ditebak kubu mana yang pro dan mana yang kontra. Kubu yang satu pasti mendukung tindakan Yulianus, sedangkan kubu yang lain sebaliknya.

Para politikus tentu saja dengan jelas terbelah, berada di dua koalisi yang berlawanan. Media massa, baik cetak maupun elektronik, sebagai simbol dunia nyata, pun turut larut dalam polarisasi. Media yang mendukung Jokowi kerap menyerang kubu Prabowo. Begitu juga sebaliknya. Bahkan narasumber yang disebut pengamat politik pun dengan kasatmata menunjukkan keberpihakan kepada kubu-kubu tertentu.

Terbelahnya masyarakat negeri ini menjadi dua kubu, sekadar memberikan gambaran ulang, menyebabkan hubungan saudara menjadi renggang dan persahabatan menjadi hambar. Jumlah teman di media sosial berkurang tanpa disadari si pemilik akun karena banyak terjadi aksi blokir. Hanya belum diketahui apakah ada pasangan suami-istri yang bercerai gara-gara berbeda dukungan.

Dan yang terakhir, meskipun sedikit berbeda, rakyat Indonesia terbelah dalam kasus Ahok. Dalam hal ini mungkin perlu riset yang lebih mendalam buat memastikan—entah perlu entah tidak—tapi diduga kuat dalam silang pendapat mengenai Ahok bahwa secara umum kubu anti- Ahok tidak lain adalah anti-Jokowi—dengan kata lain: pro-Prabowo. Begitu juga dalam kasus dugaan penistaan yang dilakukan Ahok: kubu pro-Jokowi berpendapat tidak terjadi penghinaan oleh Ahok, sedangkan kubu pro-Prabowo berpendapat sebaliknya.

Perkara terakhir ini saya katakan "sedikit berbeda" karena diduga ada "kubu" lain selain kubu Jokowi dan kubu Prabowo, yang memainkan peran penting. Banyak analisis yang menyebut bahwa "aksi 411" dikendalikan oleh "kubu" tersebut. Presiden Jokowi sendiri menyebutkan ada aktor politik yang menunggangi aksi demo itu. Memang pada aksi itu ada Fadli Zon dari Gerindra dan Fahri Hamzah dari PKS—sama-sama pendukung Prabowo—yang terkesan memprovokasi massa melalui seruan mereka dari atas mobil. Namun diduga ada aktor lain yang lebih kuat daripada mereka.

Baiklah, perkara itu mungkin berbeda. Kembali ke perkara yang sudah pasti. Seusai pertemuan, Prabowo antara lain berkata, "Nilai-nilai yang kami pegang sama sehingga saya merasa berkewajiban, jika dibutuhkan, saya siap untuk membantu pemerintah, kapan pun dan di mana pun."

Menyejukkan, bukan?
Apakah kita, para pengikut yang selama ini terbelah menjadi dua kubu, tidak lelah terus-menerus berseteru? (*)

Berita Terkait :#Coffe Break
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved