Ketindihan ''Eureup-Eurep'' Saat Tidur, Mistis atau Gangguan Medis?

Rasanya seperti ada kehadiran sesuatu di kamar atau sesuatu yang menduduki Anda

nova/web
ILUSTRASI gangguan tidur 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Ketika tengah malam dan tiba-tiba terbangun dari tidur pernah kah mengalami kondisi tak bisa bergerak sama sekali?

Padahal, Anda berusaha melihat sekeliling ruangan, tapi yang tampak hanya gelap. Dan rasanya seperti ada kehadiran sesuatu di kamar atau sesuatu yang menduduki Anda sehingga rasanya dada sesak tak bisa bernapas.

Bahkan untuk membuka mata sekali pun tak bisa dilakukan. Apa yang terjadi?

Fenomena ini seringkali dialami setiap orang dan dikenal dengan sebutan `ketindihan' atau dalam bahasa Sunda disebut eureup-eureup. Tapi, secara medis disebut sleep paralysis.

`Ketindihan' adalah kondisi tidur yang disalahpahami dalam budaya kita sebagai gangguan makhluk halus, ditunggangi oleh entitas gaib, bahkan serangan santet.

Sebenarnya hal ini bukan kondisi medis berbahaya, namun bagi sebagian orang bisa menjadi pengalaman yang traumatis sebab tubuh terasa lumpuh, tidak bisa teriak atau bicara, namun masih bisa menyadari keadaan sekitar membuat diri tidak berdaya.

Untuk menjawab fenomena tersebut, sebuah studi terakhir menemukan alasan agar orang-orang yang pernah mengalaminya merasa lebih baik. Pasalnya, mempercayai `ketindihan' sebagai fenomena mistis akan membuat masyarakat terus terjebak dalam ketakutan yang tidak beralasan.

Penjelasan yang dilansir dari HelloSehat ini memuat fakta bahwa selama siklus tidur REM (Rapid Eye Movement), otak manusia akan mengirimkan sinyal (glycine dan GABA) untuk `mematikan' otot-otot tubuh sehingga kita tidak ikut bergerak selama bermimpi.

Ini adalah sebuah keterampilan evolusi yang penting untuk mencegah kita melukai diri sendiri atau teman tidur ketika kita bermimpi.

Lalu apa penyebab `ketindihan'?

Sebanyak 4 dari 10 orang pernah mengalami sleep paralysis. Gangguan tidur ini umumnya dialami oleh orang-orang di tahun remaja hingga usia dewasa muda.

`Ketindihan' bisa jadi faktor genetik, namun terdapat sejumlah faktor lain yang mungkin terkait dengan fenomena ini, seperti:

1. Kurang tidur

2. Waktu tidur yang berubah

3. stress atau gangguan bipolar

Halaman
123
Sumber: Nova
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved