Coffee Break

Ampuni Kami, Ya Rabb

SEJAK Jumat pagi lalu, menjelang dimulainya "aksi damai" di Jakarta, saya sudah menyiapkan topik kolom hari ini mengenai aksi itu.

Ampuni Kami, Ya Rabb
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SEJAK Jumat pagi lalu, menjelang dimulainya "aksi damai" di Jakarta, saya sudah menyiapkan topik kolom hari ini mengenai aksi itu. Pagi itu dada saya merasa sejuk disiram kata-kata Ustaz Arifin Ilham, yang menekankan bahwa aksi ini akan benar-benar berlangsung damai, tidak ada kaitannya dengan politik atau isu Cina. ("Menantu ane, kan, juga Cina," kata Arifin.)

Hati saya juga merasa damai mendengar kata-kata lembut Aa Gym, yang sebenarnya sampai sekarang masih saya kagumi dalam hal gayanya berdakwah, yang meminta pengikutnya untuk hadir di Jakarta dengan damai.

Namun, di tengah kedamaian itu, saya membaca sebuah status di media sosial yang membuat kening saya mengernyit. Saya kemudian menyesal telah membacanya, tapi sudah telanjur, sekaligus memberi saya inspirasi untuk mengawali kolom saya ini berdasarkan status itu. Oh, ya, status itu ditulis oleh seorang teman lulusan strata tiga. Tapi bukan soal level pendidikannya yang menjadi fokus keprihatinan saya. Saya hanya membayangkan bahwa banyak orang yang sepemikiran dengan dia, lebih-lebih yang level pendidikannya lebih rendah. Lagi pula, saya tidak tahu kata-kata itu pendapat siapa. Sebab, teman saya itu hanya mengutip dari acara sebuah radio swasta.

Begini kira-kira statusnya: "Telah terang dari rencana tanggal 4 November, golongan manusia terbagi empat: 1. Beriman dan mendukung kegiatan 2. Kafir dan menentang 3. Munafik dan mengolok-olok 4. Ragu-ragu." (Dia juga menulis bahwa mereka yang datang pada aksi itu adalah para mujahid dan mujahidah.)

Begitu sederhanakah pengelompokan manusia? Yang mendukung berarti beriman dan yang tidak mendukung berarti kafir. Tidak adakah orang beriman yang—mungkin karena melihat bahwa aksi itu tidak sepenuhnya murni membela Islam—tidak mendukung kegiatan itu? Saya membayangkan orang semacam Gus Mus dan Quraish Shihab berada di kelompok ini. Wallahualam. Kemudian, tidak adakah orang "kafir" yang, dengan motivasi tertentu, mendukung kegiatan itu? Saya sengaja memakai tanda kutip karena mereka mungkin saja mengaku Islam tapi berperilaku seperti kafir, atau memang benar-benar kafir, yakni orang-orang yang memiliki keuntungan tertentu, setidaknya politis, dengan adanya aksi itu.

Lalu di mana posisi saya dalam kelompok itu? Entahlah. Saya hanya mampu menggumam seperti ini: "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang hina ini. Hamba belum punya bekal ilmu yang memadai untuk membela agama dan kitab-Mu dengan selayaknya. Hamba masih dalam taraf belajar untuk mencari dan menjalankan kebenaran. Lagi pula, hamba yakin bahwa Engkau-lah Zat Yang Maha-Menjaga. Engkau juga tidak membutuhkan pembelaan. Kamilah, hamba-hamba- Mu, yang justru selalu membutuhkan pembelaan-Mu, perlindungan-Mu, dari segala upaya dan cara godaan setan."

Tapi sudahlah. Akhir aksi yang rusuh membuat hati saya menangis. Rancangan kolom yang hendak saya tulis berantakan. Kedatangan Fadli Zon dan, terutama, Fahri Hamzah, yang berorasi dari atas mobil, "Jatuhkan presiden itu ada dua cara, pertama lewat parlemen ruangan dan kedua lewat parlemen jalanan," dan kemudian kerusuhan, meyakinkan saya bahwa demo 4 November itu tidak lagi bertujuan membela Islam sebagaimana disuarakan para ustaz yang saya kagumi.

Sebagai kesimpulan, di sini saya pinjam dua status FB. Pertama, status T. Agus Khaidir, wartawan Tribun Medan: Seorang teman menulis di kotak pesan. Intinya, beliau hendak menggugat kalimat yang saya tulis sebelumnya. Kalimat yang menyebut aksi unjuk rasa berjalan damai dan berkesudahan juga dengan damai. Lihat televisi, katanya, sekarang sedang lempar-lemparan dan bakar-bakaran. Cepat saya balas pesannya. Saya tetap berpendapat bahwa aksi unjuk rasa hari ini berjalan damai dan berkesudahan dengan damai. Aksi selesai tepat pukul 18.00. Sampai waktu itu, unjuk rasa besar ini tetap damai, dan mereka, pengunjukrasa yang sungguh-sungguh berunjukrasa atas dasar nuraninya itu, beranjak pulang ke rumah mereka masing-masing. "Dan yang sekarang lempar-lemparan itu tidak lebih dari sekadar orang-orang berpikiran sempit dan emosional tak menentu. Pendeknya, goblok!"

Kedua, status sastrawan Anton Kurnia: Saya kira kekacauan macam ini memang yang diinginkan oleh para penjahat berbulu domba yang berada di belakang dan membayari aksi ini. Islam tentu saja agama yang damai dan penuh cinta, tetapi orang-orang yang mengaku Islam sendiri yang mengacaukan esensi itu. Islam tertutupi oleh keburukan orang Islam sendiri yang cenderung super semar (suka baper sering marah). Mahjubun bil muslimin. Serupa buih di lautan. Banyak tapi jadi tak bermakna karena mudah dihasut dan ditunggangi.

Ampuni kami, ya Rabb, atas kebodohan kami. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved