Coffee Break
Marwah
Embah yang satu ini, kata teman saya, punya kemampuan mendatangkan uang. Dari mana uang itu?
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
DI kampung, saya punya teman yang sangat percaya terhadap seseorang yang disebutnya Embah. Dukun, paranormal, atau yang sejenis itu memang kerap disebut Embah, bahkan jika usianya masih di awal separuh baya. Embah yang satu ini, kata teman saya, punya kemampuan mendatangkan uang. Dari mana uang itu? Teman saya menyebutnya "uang Bung Karno". Bung Karno, masih kata teman saya, memiliki harta karun di suatu tempat entah di mana di Eropa. Si Embah hanya mengambilnya sedikit dan tidak berpengaruh banyak terhadap keseluruhan "harta karun Bung Karno".
Teman saya boleh disebut pengikut Embah. Secara rutin, dalam periode tertentu ia mendatangi rumah Embah, lebih dari seratus kilometer dari kampung kami. Tujuannya, ya itu, ingin turut merasakan "uang Bung Karno". Sudah pernah dapat? "Belum." Alasannya, "Banyak syarat untuk itu. Aku sampai sekarang belum bisa memenuhinya. Tapi aku akan terus berusaha. Aku sudah lihat beberapa orang yang sudah dapat."
Begitulah kira-kira. Anda boleh tertawa atau yang semacamnya. Misalnya soal logika kenapa "uang Bung Karno", yang tersimpan di Eropa, bisa muncul dalam bentuk rupiah zaman sekarang. Tapi sekeras apa pun kita tertawa, keyakinan teman saya tampaknya tidak akan luntur.
Oh, ya, teman saya ini seorang PNS golongan rendah. Dulu ia sering bercerita tentang gajinya yang "minus". Entah sekarang, ketika PNS mulai terlihat lebih sejahtera.
Heboh mengenai dukun atau paranormal yang punya kemampuan menggandakan uang bukanlah kabar istimewa. Rasanya sering sekali kita mendengar kasus banyak orang tertipu oleh dukun pengganda uang. Tapi orang-orang seakan-akan tidak belajar dari pengalaman orang lain. Selalu muncul para dukun baru pengganda uang dan begitu pula orang-orang yang tertipu.
Saya tidak tahu persis bagaimana teman saya itu dulu bisa menjadi PNS, tapi saya tahu tingkat kecerdasannya selevel apa—kami berteman sejak ingusan—yang bisa dikatakan lulus SMA saja beruntung. Saya kerap bilang bahwa menggandakan uang—atau menurut dia mendatangkan uang—itu tidak mungkin bisa dilakukan. Tapi pendiriannya bagai batu karang. Jadi, saya maklum jika orang-orang yang tertipu termasuk jenis teman saya itu.
Tapi selevel Marwah Daud Ibrahim?
Sesungguhnyalah, sampai beberapa tahun lalu, kisah hidupnya sangat inspiratif, tipikal kisah Laskar Pelangi: anak kampung yang miskin tapi cerdas, bisa melanjutkan sekolah di kota, lalu ke luar negeri, dan pulang dengan gelar bergengsi. Marwah Daud mengawali hidupnya di pedalaman Soppeng, sebuah kecamatan di Sulawesi Selatan, sekitar 200 kilometer utara Makassar. Begitu terpencilnya, ia terbiasa belajar dengan nyala lampu teplok. Bahkan mengangkat batu dan pasir sebelum berangkat sekolah dan ikut ke sawah untuk bercocok tanam.
Kecerdasannya dikenal sejak sekolah dasar. Ia tak sampai kelas enam karena begitu menginjak kelas lima ia ikut ujian akhir dan lulus sebagai juara. Marwah muda kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Pacongkang, dan lulus 1970. Selanjutnya ia menginjakkan kakinya di SPG Negeri Soppeng, Namun di kelas dua dia pindah ke SPG Negeri I Ujungpandang (sekarang Makassar), lulus tahun 1973. Ia terpilih sebagai pelajar teladan se-Sulsel.
Ia melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin, dan lulus tahun 1981. Ia pernah juga terpilih sebagai mahasiswa teladan se-Sulawesi. Berbekal beasiswa, ia terbang ke Amerika untuk meraih master di American University, Washington DC, Amerika Serikat, jurusan Komunikasi Internasional, tahun 1982. Di universitas yang sama, ia mengambil Komunikasi Internasional bidang satelit, dan meraih gelar doktor tahun 1989 sebagai lulusan terbaik.
Catat sekali lagi, pada usia 33 tahun, ia meraih gelar doktor di American University sebagai lulusan terbaik!
Seterusnya, ia bergabung dengan ICMI, aktif di Partai Golkar, yang membawanya ke DPR, dan pernah disebut-sebut akan diangkat menjadi menteri.
Entah kenapa, selama beberapa tahun terakhir nama Marwah Daud Ibrahim seakan tenggelam. Lalu tiba-tiba muncul lagi bukan karena prestasi gemilangnya di masa lalu, melainkan karena kasus Kanjeng Dimas Taat Pribadi.
Siapa pun yang bernalar sehat pasti tak akan habis pikir: bagaimana mungkin doktor lulusan terbaik American University bisa taklid buta terhadap orang macam Kanjeng Dimas? Jadi, apa bedanya teman saya di kampung yang hanya beruntung lulus SMA dengan Marwah Daud?
Tak ada bedanya: berkenaan dengan uang, kerap kali nalar tak berkembang. (*)