Cerpen Yudhi Herwibowo

Maaf_

AKHIRNYA, keinginan yang tak pernah sekali pun terlintas selama ini muncul juga di kepala Barun: sebuah permintaan maaf. Ini tentu suatu yang aneh.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Maaf 

AKHIRNYA, keinginan yang tak pernah sekali pun terlintas selama ini muncul juga di kepala Barun: sebuah permintaan maaf. Ini tentu suatu yang aneh. Sesuatu yang nyaris tak mungkin. Tapi entah kenapa, beberapa kejadian di hari ini membuat Barun—mau tak mau—harus memikirkannya.

Hari ini, sejak ia terbangun, kata maaf seperti sudah menelisip di telinganya. Itu saat seekor cecak membuang kotoran tepat di hidungnya. Ia terbangun seiring ucapan istrinya, "Ah, cecak kurang ajar! Maafkan dia, namanya juga binantang...."

Saat ia berangkat bekerja ke pabrik tahu miliknya, tanpa sengaja seekor sapi menabrak dirinya yang sedikit melamun. Sapi itu melenguh kencang, namun entah kenapa, di telinga Barun lenguhan itu seperti terdengar, "maaa-aafff...."

Tak sampai di situ, saat Barun makan siang di rumah, ia melihat kawanan semut tengah menghisap air teh yang berbekas di meja. Yang mengejutkan, deretan semut itu seperti membentuk satu kata begitu jelas: M A A F.

Barun benar-benar ingin berteriak. Ia menjambak rambutnya sambil berencana memeriksa mata dan telinganya di dokter. Namun istrinya, yang secara ringkas sudah mendengar ceritanya, hanya menghela napas panjang dan berkata pelan, "Sepertinya... kejadian itu bukan kejadian biasa, Mas. Itu mungkin sebuah... tanda dari Gusti Allah."

Walau ucapan seperti itu sudah terlintas di otak, tetap saja Barun mendengus kesal. Ia tahu istrinya selalu berusaha nampak bijak. Namun itu malah membuatnya seperti bukan berada di pihaknya. Tapi entah mengapa, seperti tak bisa dielak, sejak itulah ia memang mulai memikirkan kata maaf secara lebih dalam.

TAPI kata maaf tentu bukan perkara yang sederhana baginya. Apalagi bagi keluarganya. Ini seperti sebuah kutukan lama yang belum juga berakhir.

Barun masih mengingatnya, awal dari ini semua sudah berlangsung sejak masa muda kakeknya. Dulu kakeknya bersahabat baik dengan kakek Marga. Toh, mereka tumbuh bersama. Namun karena berkali-kali putus cinta, kakek Marga kemudian menjadi gila. Sejak itulah, kakek Marga suka mengepruk orang dengan batu. Ia selalu membawa pecahan batu bata di tangannya, dan akan dengan tiba-tiba memukulkannya pada orang di dekatnya. Sialnya, karena dulu kakek masih kerap berusaha menyadarkan kakek Marga, ia jadi orang yang paling sering kena kepruk. Tapi kakek sama sekali tak membalas semua itu. Baru saat anak semata wayang—ayah—dan istrinya yang tak tahu-menahu dikepruk hingga kepalanya berdarah, kakek tak lagi bisa menahan kemarahannya.

Kakek langsung mendatangi kakek Marga, lalu menghajarnya berkali-kali. Satu hajaran akhirnya sampai membuat kakek Marga tersuruk. Kepalanya terantuk batu. Ia mati saat itu juga dalam kondisi mata mendelik.

Tentu saja kejadian ini tak bisa diterima oleh keluarga Marga. Semua keluarga jauh Marga—bahkan yang ada di kampung-kampung sebelah—segera berdatangan. Mereka berupaya membalas. Tapi untungnya, kakek dilindungi keluarga besarnya.

PERMUSUHAN dua keluarga terjadi sejak itu. Kejadian ini membuat suasana di kampung menjadi dingin. Penduduk seperti terbagi dua. Sebagian memihak keluarga Marga dan sebagian yang lain memihak keluarga Barun.

Sampai bertahun-tahun berlalu, keduanya selalu nampak siaga. Pertengkaran mulai merembet pada keluarga lainnya. Sepertinya, setiap ada kesempatan kecil saja, satu pihak akan menyerang, dan lainnya akan bertahan.

Sampai pada akhirnya, kakek meninggal dunia karena tersedak saat menelan daging yang terlalu besar. Tapi kematian ini rupanya tak membuat persoalan jadi selesai. Ayah seperti diwarisi untuk melanjutkan perkara ini. Di lain pihak, keluarga Marga juga terjadi demikian. Saat ayah Marga semakin dewasa, semua kendali persoalan ini seperti diambil alih olehnya.

Keadaan semakin parah. Pagar mulai dibangun untuk memisahkan kedua keluarga itu. Salah satu ustaz paling terpandang di kampung ini berulang kali berusaha mendamaikan. Tapi upayanya sepertinya sia-sia. Saat ia datang ke rumah keluarga Marga, ayah Marga malah berteriak-teriak, "Bisa saja kami berdamai. Tapi aku menuntutnya meminta maaf di depan makam ayah, juga di depan seluruh keluarga besar kami."

Semua orang merasa kalau tuntutan keluarga Marga sebenarnya mulai mengendur. Ini mungkin karena kakek—yang selama ini mereka salahkan—sudah meninggal. Tapi ayah berpikir lain. Ia merasa keluarga Marga menyadari bahwa kakek sebenarnya memang tak sepenuhnya bersalah. Toh, selalu ada asap pada api?

Maka ayah Barun pun meludah dengan marah, "Meminta maaf? Dasar manusia tak tahu diri!"

BARUN sendiri merasakan permusuhan dua keluarga ini sejak masih sangat kanak-kanak. Doktrin-doktrin ayah selalu diterimanya setiap saat. Kelahiran Barun kebetulan berbarengan dengan kelahiran Marga sehingga jadilah ia mendapat pembanding yang pas untuk menjalani hidup. Marga akan selalu menjadi contoh buruk baginya. Ayah akan mudah sekali bicara, "Jangan mengompol! Itu seperti Si Marga!" atau "Jangan mencuri! Itu seperti si Marga!"

Untungnya, sepanjang sekolah, keduanya selalu berada di kelas yang berlainan. Awalnya Barun berpikir ini hanya kebetulan, tapi semakin dewasa ia tahu, pihak sekolah ternyata sengaja membuatnya demikian.

Barun tumbuh sebagai lelaki yang mirip dengan ayahnya, demikian juga Marga yang tumbuh begitu mirip ayahnya. Bila diamat-amati karakter keduanya hampir sama. Beberapa kali keduanya hampir terlibat perkelahian. Saat pertandingan bola, dan keduanya harus berhadap-hadapan, Barun selalu mencari cara untuk menjegal Marga. Dan ternyata, Marga juga melakukan hal yang sama.

Yang membuat Barun begitu jengkel, di lingkungan kawan-kawannya, Marga selalu menyebutnya: cucu si pembunuh. Ia melukiskan kakek dengan begitu mengerikan. Mendramatisasinya hingga di luar logika otak. Kisah saat kakeknya meninggal diceritakan layaknya film Hollywood. Kakek dikabarkan melakukan penyiksaan, memotong kemaluan kekeknya sambil bernyanyi-nyanyi gembira.

Selain itu, Marga juga menyebar cerita tentang ayah dengan begitu buruknya. Ia mengatakan ayah adalah seorang yang pengecut, bodoh, dan tak bisa apa-apa. Bahkan saat keluarga Marga sudah melapangkan diri untuk melupakan masa lalu, ayah Barun tetap tak punya keberanian untuk meminta maaf.

Barun hanya bisa memaki-maki. Ingin sekali ia melabrak Marga. Namun kawan-kawannya selalu bisa menahannya.

Kemarahan makin memuncak saat Barun merasakan belakangan ini ia merasa kehidupan sepertinya berpihak pada keluarga Marga. Ia mengamati, keluarga Marga sepertinya berhasil bekerja di tempat-tempat yang strategis. Salah satu sepupu Marga menjadi seorang penulis sehingga ia bisa menulis tentang kisah itu dalam sebuah buku, dan menyebarkannya di kampung kami. Tentu hanya berupa tulisan-tulisan busuk. Tapi Barun yakin, beberapa orang yang otaknya pas-pasan pasti akan dengan mudah percaya. Selain itu, salah seorang paman Marga berhasil menjadi dalang yang sukses, yang sering sekali memasukkan cerita tentang meninggalnya kakek di setiap pertunjukannya. Di situ—menurut laporan beberapa tetangga yang mendukung keluarganya—kakek dilukiskan begitu kejam. Bahkan melebihi kekejaman para Kurawa.

Asuuu! Asuuu! Barun hanya bisa mengepal marah.

TAPI seberapa lama kemarahan bisa dipendam? Seberapa lama kebencian bisa dirawat? Setelah ayah meninggal, Barun merasa semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit. Ibu Barun, yang selama ini lebih banyak diam, mulai kerap mengingatkan hal-hal baik di kehidupan ini. Ia sepertinya berupaya keras terus meredam kemarahan Barun yang tak henti-hentinya hadir.

Awalnya Barun tak menyadarinya, karena begitu halusnya ibu mengingatkan. Sampai saat Barun menikah, ia ternyata mendapatkan istri yang karakternya mirip dengan ibunya. Perempuan itu lebih banyak diam daripada bicara. Bila Barun marah, ia akan membiarkannya tanpa berujar apa-apa. Namun malamnya, saat Barun akan tidur, ia akan memeluk dengan lembut sambil berbisik, "Lain kali, jangan semarah itu, Mas. Aku takut melihat wajah Mas saat marah...."

Ucapannya selalu berhasil menerpa kekerasan hati Barun. Tanpa ia sadari, perlahan-lahan benteng kebenciannya mulai terkikis sedikit demi sedikit. Walau tetap saja, saat ia mengingat ayah dan kakeknya, kemarahannya akan kembali meluap-luap.

Tapi waktu selalu meredakan semua yang bergejolak di dalam dada. Alam kemudian seperti mendukungnya. Satu per satu yang ada di sekeliling Barun mulai berubah. Keluarga Marga, yang selama ini berada di putaran roda teratas, kini perlahan mulai jatuh terjerembah. Sebuah mobil yang membawa belasan keluarga mereka jatuh ke dalam jurang. Tak ada yang selamat dari kejadian itu. Tentu, saat pertama kali mendengar berita itu, Barun diam-diam tersenyum gembira.

Beberapa hari kemudian, padepokan paman Marga yang dalang itu terbakar habis. Anak-anaknya—para sepupu Marga—terluka parah. Sehari berselang, mereka semua meninggal seluruhnya.

Sungguh, kesialan ini berlangsung berturut-turut. Herannya kali ini, Barun tak lagi bisa tersenyum gembira. Ia bahkan tak berkomentar apa-apa. Pikirannya seperti berbalik padanya: bagaimana bila kejadian itu menimpa pada keluargaku?

Lalu, sampailah di hari itu, saat Barun terbangun setelah seekor cecak membuang kotoran tepat di hidungnya. Kejadian berturut-turut setelah itu seperti menjadi pertanda baginya. Maka malam harinya, Barun pun memutuskan bicara dengan ibunya. Tanpa berpanjang lebar, ibu langsung memintanya meminta maaf pada keluarga Marga, dan melupakan semua yang sudah terjadi.

Tentu saja Barun hanya bisa menggeleng lemah. "Aku hanya bisa berjanji akan melupakannya, dan tak akan berbuat buruk lagi pada mereka, Bu."

Ibu nampak kecewa. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

SAMPAI beberapa tahun kemudian, ibu meninggal. Pesan terakhirnya pada Barun, sama seperti ucapannya hari itu: mintalah maaf pada keluarga Marga.

Kini tak ada lagi alasan bagi Barun untuk menolaknya. Bagaimanapun pesan terakhir bagai amanat dari ibunya.

Dengan langkah berat, Barun melangkah ke rumah keluarga Marga. Semula ia merasa kedatangannya bukan di saat yang tepat. Rumah Marga sedang dipenuhi anggota keluarga Marga lainnya. Entah sedang apa mereka. Barun mencoba berpikir positif, setidaknya dengan keberadaan mereka di sini, akan menyelesaikan semuanya dengan tuntas.

Marga, yang melihat kedatangannya sejak di pagar rumah, segera melangkah ke ambang pintu, "Mau apa kau kemari?" ia berkacak pinggang.

Barun membuka kopiahnya. Ia menarik napas panjang, "Aku ke sini... karena amanat ibuku. Aku ingin meminta maaf atas semua yang sudah terjadi di masa lalu...."

Barun menarik napas lega. Kata-kata terberat sepanjang hidupnya itu berhasil juga diucapkannya. Membuat mata Marga membulat tak percaya.

Namun hanya sedetik saja seperti itu. Detik berikutnya, mata Marga nampak berkilat, ia tiba-tiba berteriak keras, "Kalian dengar?" serunya sambil menoleh pada saudara-saudara yang ada di belakangnya. "Cucu pembunuh ini meminta maaf pada kita. Ia akhirnya mengaku salah!"

***

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved