Coffee Break

Mayor (Purn) Agus Harimurti

ENTAHLAH bagaimana isi hatinya yang sesungguhnya. Apakah ia menangis bahagia karena terpilih oleh Poros Cikeas sebagai calon gubernur DKI?

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Mayor (Purn) Agus Harimurti
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

ENTAHLAH bagaimana isi hatinya yang sesungguhnya. Apakah ia menangis bahagia karena terpilih oleh Poros Cikeas sebagai calon gubernur DKI? Atau sebaliknya: ia sedih meninggalkan karier militernya yang diprediksi bakal cemerlang? Nama lengkap, pangkat, dan gelarnya adalah Mayor Inf. TNI Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., MPA., M.A.

Ia anak pertama dari Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herawati, sebuah keluarga berlatar militer yang sangat kuat. Sang ayah seorang jenderal berbintang empat. Sang kakek dari ibunya, Sarwo Edhi Wibowo, juga jenderal dan tokoh penting dalam sejarah Republik Indonesia.

Lulus dari SMPN 5 Bandung, Agus masuk SMA Taruna Nusantara Magelang pada 1994. Tiga tahun kemudian ia lulus dengan predikat terbaik. Di Akademi Militer Magelang mencatat prestasi di bidang kepribadian, akademik, dan jasmani, dengan meraih penghargaan Tri Sakti Wiratama. Pada 2000, ia lulus dengan predikat terbaik dan meraih penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama serta medali Adhi Makayasa. Di Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel, ia juga lulus terbaik pada 2001. Saat ini ia berdinas sebagai Kepala Seksi 2/Operasi di lingkungan satuan elite Kostrad, Brigade Infanteri Lintas Udara 17.

Tidak hanya di bidang militerm pada 2005 ia lulus pendidikan master di Singapura dengan predikat sangat memuaskan dan berhak atas gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Pada 2010, ia menyelesaikan pendidikannya di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, dengan predikat sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar Master of Public Administration.

Beberapa tanda jasa dan penghargaan yang diperoleh Agus antara lain Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Satya Lencana Dharma Nusa, Satya Lencana Santi Dharma, Medali PBB, Medali Penghargaan dari pemerintah dan Angkatan Bersenjata Lebanon, Medali Kepeloporan, serta medali penghargaan dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat: Distinguished Honor Graduate dan Commandant's List of the Maneuver Captain Career Course dari the US Army Maneuver Center of Excellence dan The Order of Saint Maurice dari the US National Infantry Association.

Dan dilihat dari rekam jejak prestasinya sejak remaja, Agus diramalkan akan mencapai level yang setara dengan ayah dan kakeknya: jenderal bintang empat.

Namun kini, karier militer Agus terhenti dalam usia 38 tahun.

Banyak yang menyayangkan keputusan Agus meninggalkan dunia militer karena menjadi cagub Poros Cikeas (Partai Demokrat, PPP, PKB, PAN). Tapi pasti tidak banyak yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apakah itu keputusan Agus sendiri? Atau ia terpaksa bersedia karena tidak mampu menolak keinginan sang ayah? Kemungkinan kedua itu tentu ibarat buah simalakama: dimakan bapak mati, tidak dimakan dirinya yang mati.

Satu faktor mengapa orang menyayangkan Agus mundur dari militer adalah karena peluangnya untuk memenangi Pemilihan Gubernur DKI 2017 diprediksi paling kecil dibanding dengan dua calon lain: Ahok dan Anies Baswedan. Ahok selama ini selalu menempati posisi teratas dalam survei, mengatasi nama lain yang selama ini disebut-sebut bakal bersaing dengannya. Anies, yang boleh dibilang merupakan kejutan yang coba dibikin Gerindra dan PKS, memang jarang masuk di daftar survei. Namun popularitasnya diyakin lebih unggul ketimbang Agus.

Ada yang menilai SBY panik, bingung, dan tidak bisa berpikir rasional ketika PDI-P menetapkan Ahok sebagai calon gubernurnya. SBY tentu ogah bergabung dengan PDI-P, tapi juga menolak bersatu dengan Gerindra. Dengan Megawati, SBY tetap berperang dingin. Dengan Prabowo, SBY tampaknya masih menyimpan dendam akibat sejarah masa muda. Tak satu pun kader dari empat partai Poros Cikeas yang dianggap pantas menantang Ahok. Lalu, dimunculkanlah Agus.

Agus dianggap sebagai putra terbaik SBY dan Partai Demokrat, bahkan disebut-sebut sebagai kartu as. Namun ia masih terlalu mentah untuk diangkat sebagai calon gubernur DKI, dengan dua lawan yang bukan main-main. Orang Jawa akan bilang SBY sedang nggege mongso (terburu- buru mengejar musim).

Akan jadi apa kiranya jika Agus kalah dalam pilgub DKI? Mungkin dia akan membangun lagi Partai Demokrat, yang kini berpredikat sebagai partai gurem. Atau menjadi pengusaha? Masih terbuka banyak jalan baginya. Toh dia cemerlang.

Tapi satu hal, mungkin saja untuk seterusnya ia enggan menuliskan namanya seperti ini: Mayor Inf. TNI (purn) Agus Harimurti Yudhoyono.

Nggak keren amat. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved