Coffee Break

Pesta

BANYAK orang yang menyebutnya pesta. Mungkin karena acara pembukaan dan penutupannya selalu berlangsung megah dan meriah

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Pesta
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

BANYAK orang yang menyebutnya pesta. Mungkin karena acara pembukaan dan penutupannya selalu berlangsung megah dan meriah: hiburan musik, tari, kembang api, dan entah apa lagi. Mungkin kita sekadar meniru apa yang berlangsung di level yang lebih tinggi: Asia dan dunia.

Secara resmi, namanya memakai kata pekan meski berlangsung dua pekan atau lebih. Mulai tingkat pelajar hingga umum, mulai cakupan RT, perusahaan, pemerintah daerah, provinsi, hingga nasional, semua memakai pekan.

Di kamus besar kita (termasuk di edisi IV), kata pekan memiliki dua arti: pasar dan minggu (tujuh hari). Makna kata pertama tentu tidak bisa dipakai. Jadi, tinggal makna kedua. Namun, sebagai gabungan kata, kamus tidak menyertakan pekan olahraga sebagai contoh. Di kamus, contoh yang diberikan hanya pekan budaya, pekan raya, dan pekan seni. Pekan budaya didefinisikan sebagai pameran kegiatan kebudayaan selama sepekan; pekan raya dijelaskan sebagai pasar malam besar dan bermacam-macam pameran (baik dari dalam negeri maupun luar negeri) dan pertunjukan; pekan seni adalah pameran kegiatan kesenian selama sepekan.

Jika mengacu pada kamus besar itu, kita jelas tidak dapat mengartikan pekan olahraga sebagai pasar malam atau semacam itu. Namun kita juga sulit menyebut pekan olahraga sebagai pameran olahraga, apalagi cuma dalam sepekan. Pekan olahraga, mestinya, adalah kegiatan pertandingan dan lomba olahraga selama sepekan. Tapi nyatanya tidak selalu. Pekan Olahraga Nasional (PON) I sampai III memang berlangsung sepekan. Tapi setelah itu bisa sampai 10 hari atau lebih.

Beberapa PON terakhir malah berlangsung lebih lama daripada jadwal resminya. Pada PON XIX di Jawa Barat, misalnya, jadwal resminya 17-29 September (13 hari), tapi sejak pekan lalu sejumlah cabang olahraga sudah menggelar pertandingan. Tidak hanya babak-babak penyisihan, tapi juga hingga babak final. Sudah puluhan medali emas terbagi ke berbagai peserta.

Tapi sudahlah. Nama pekan olahraga sudah paten, pas sebagai alih bahasa games. Kita, toh, sudah terbiasa dengan pembentukan kata (atau gabungan kata) yang tidak taat asas. Kita punya cabang olahraga sepak bola, tapi juga bulu tangkis (bukan tangkis bulu). Di luar itu, angkatan darat kita punya korps wanita angkatan darat, tapi kepolisian punya polisi wanita (bukan wanita polisi).

Oh, ya, karena sejumlah cabang olahraga sudah membagikan medali emas, mungkin sebagian atlet sudah tidak lagi bertanding ketika PON XIX belum dibuka secara resmi. Jika berasal dari provinsi lain, mereka tinggal menikmati jalan-jalan atau mungkin pulang kampung lebih awal. Tapi boleh jadi mereka memilih ikut berpesta dulu di acara pembukaan. Masa jauh-jauh datang tidak ikut berpesta?

Pesta? Acara pembukaan dan penutupan memang tak ubahnya seperti pesta. Sudah disebut-sebut bahwa acara pembukaan PON XIX merupakan yang paling megah sepanjang sejarah PON. Mungkin sekadar ungkapan klise, seperti yang selalu disesumbarkan panitia PON sebelum- sebelumnya. Tapi mungkin juga benar. Kabarnya, acara pembukaan dan penutupan PON XIX menghabiskan anggaran sekitar Rp 90 miliar. Padahal, Presiden Jokowi sudah berpesan agar acara pembukaan berlangsung "merakyat dan sederhana". Hanya saja, sulit mengukur kata sifat "merakyat" dan "sederhana", seperti halnya belum tentu acara berdana 90 miliar itu memang bisa disebut "mewah dan eksklusif" atau tidak.

Bagi penonton dan peserta PON yang meraih sukses (mendapat medali emas atau mencapai target tertentu), acara pembukaan dan penutupan bisa saja dirasakan sebagai pesta. Tapi bagi peserta yang kalah atau meleset dari target, kemeriahan itu mungkin dirasakan menyayat hati. Ibarat ungkapan "sepi di tengah keramaian".

Nah, acara pembukaan dan penutupan saja belum tentu merupakan pesta, bagaimana dengan suasana di tiap arena? Arena pertandingan pasti diwarnai dengan berbagai drama dan perjuangan. Para atlet bermandi peluh dan, bisa saja, berdarah-darah. Semua kemampuan dikerahkan demi satu tujuan: menjadi yang terbaik.

Jadi, sebenarnya, tak ada pesta di arena olahraga. Kecuali bagi sang juara. Itu pun berlangsung beberapa saat saja, seperti pernah diucapkan sang maestro Susy Susanti: "Kita juara hanya ketika di podium." Setelah turun dari podium, setelah medali disimpan atau dipajang, dimulai lagi perjuangan meraih target-target berikut.

Bagi juara seperti Susy, perjuangan itu tidak hanya setahun dua tahun, tapi menghabiskan hampir seluruh usia.

Sebuah perjuangan sangat panjang demi sebuah pesta beberapa saat saja.

Dengan sepenuh hati, saya menyebut mereka dengan satu kata: pahlawan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved