Coffee Break

Maskot

Mungkin kita lebih akrab dengan maskot pada acara olahraga. Piala dunia sepak bola dan Olimpiade ...

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Maskot
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KAMUS besar kita mendefinisikan maskot sebagai orang, binatang, atau benda yang diperlakukan oleh suatu kelompok sebagai lambang pembawa keberuntungan atau keselamatan. Wikipedia lebih detail: maskot adalah bentuk atau benda yang dapat berbentuk seseorang, binatang, atau objek lainnya yang dianggap dapat membawa keberuntungan dan untuk menyemarakkan suasana acara yang diadakan.

Mungkin kita lebih akrab dengan maskot pada acara olahraga. Piala dunia sepak bola dan Olimpiade adalah dua contoh acara olahraga level dunia yang selalu memakai maskot. Maskot Piala Dunia 2014 di Brasil adalah Fuleco, perwujudan hewan armadillo, hewan mamalia kecil asli Amerika Selatan. Maskot Olimpiade 2016, yang juga berlangsung di Brasil, adalah Vinicius, sejenis kucing yang memiliki bulu berwarna kuning dan mewakili kekayaan fauna Brasil.

Ajang olahraga yang lebih kecil, Asian Games dan SEA Games, misalnya, juga selalu memiliki maskot, yang disesuaikan dengan tokoh atau binatang khas negara penyelenggara.

Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak mau ketinggalan. Maskot PON XVIII di Riau adalah Bujang Serindit, yang terinspirasi dari bentuk burung serindit yang juga simbol fauna khas Riau. Lalu, apa maskot PON XIX di Jawa Barat? Ups, jangan menjawab Aher. Maskot PON XIX adalah Lili dan Lala, dua tokoh yang diilhami surili, hewan primata asli Jawa Barat. Surili (Presbytis comata) adalah sejenis kera yang hanya ada di kawasan hutan Taman Nasional Gede Pangrango. Populasinya kini 4.000-6.000 ekor dan terancam punah.

Menurut Wikipedia, punggung surili ditutupi bulu abu-abu, cokelat gelap, dan hitam pekat, kontras dengan tubuh bagian bawahnya yang berwarna pucat. Kepalanya kecil dan lebih gelap dibandingkan anggota tubuh yang lain. Surili berwajah hitam manis dan berjambul dengan warna mencolok. Wajahnya tidak ditumbuhi bulu, berwarna hitam kemerahan dengan titik putih samar di dahi. Raut mukanya tampak jenaka dan menggemaskan.

Surili dipilih sebagai maskot PON XIX (dan Pekan Paralimpik Nasional 2016) Jawa Barat karena kelucuan, kebersahajaan, kelincahan, dan kehangatan lengkingannya mewakili sebagian sifat dan kemampuan para atlet. Sebagai maskot, surili mengenakan iket (ikat kepala khas Jawa Barat), yang disebut-sebut mencerminkan nilai luhur tradisi dan karakter masyarakat Jawa Barat, yakni cageur, bageur, bener, dan pinter. Pemilihan satwa endemik tersebut sebagai maskot PON XIX dan Peparnas XV 2016 Jawa Barat ini juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat guna semakin melindungi dan melestarikannya.

Kenapa tulisan ini menyebut-nyebut Aher? Tentu saja, karena Aher tak lain Ketua Panitia PB PON XIX. Aherlah orang nomor satu yang bertanggung jawab atas sukses tidaknya PON XIX. Nah, beberapa hari lalu, beredar kicauan dan komentar di media sosial mengenai bertebarannya gambar Aher, yang dianggap lebih mencolok dibandingkan dengan gambar Lili dan Lala. Pada salah satu bilbor, Aher menghabiskan hampir separuh bidang gambar. Lili dan Lala, yang letaknya tepat di bawah ketiak Aher, berukuran bagai liliput. Oh, iya, spanduk, baliho, dan banner PON bergambar besar Aher juga disebar di luar Jabar: Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, Medan, Bali, dan beberapa kota besar lain, dan dipasang pada lokasi srategis dekat bandara atau stasiun kereta api. "Supaya masyarakat yang menggunakan jasa transportasi tersebut dapat mengetahui PON nanti digelar di Jabar," kata Ketua Bidang Penyiaran dan Pelayanan Media PB PON Jabar, Ateng Kusnandar.

Sebuah akun di Twitter menulis kicauan begini: Maskot PON Jabar teh kang @aheryawan atanapi SURILI??? Ari di baliho mah seueurna foto gubernur.... Kata-kata senada dikicaukan akun lain: Nanya donk pak @aheryawan Ini Bpk sebagai Maskot PON nya ya?

Lalu, bagaimana tanggapan Aher? Sebagaimana ditulis sejumlah laman berita, Aher menanggapi begini: "Itu kan muncul belakangan dari netizen. Alasannya kayak apa, tanya aja netizen itu. Tidak ada unsur politis di balik itu. Saya tahu orangnya (yang menyebar informasi ke media sosial)." Tiga hal itu—tanya netizen, tak ada unsur politis, tahu orangnya—sebetulnya menarik untuk dibahas panjang lebar. Tapi di sini cukuplah jika pernyataan Aher itu dikomentari begini: tidak perlu tanya netizen sudah jelas alasannya, pernyataan "tidak ada unsur politis" itu sangat kental politisnya, tahu siapa yang menyebarkan menunjukkan penyederhanaan masalah.

Okelah, kita berharap PON akan berlangsung sukses, secara pelaksanaan dan prestasi. Namun, sampai kemarin, belum semua tempat pertandingan benar-benar selesai. Sebelumnya, sesumbar bahwa Jalan Tol Soroja bakal selesai menjelang PON nyatanya tidak terwujud.

Kalau saja semboyan "Jabar Kahiji" serta "Berjaya di Tanah Legenda" gagal terwujud, mungkin saja nanti akan ada netizen yang menyebut Aher sebagai maskot kegagalan PON. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved