Coffee Break
Logika Rokok
TULISAN ini tidak akan menyinggung hiruk-pikuk kenaikan harga rokok. Saya hanya ingin menulis tentang beberapa logika aneh berkenaan dengan rokok.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
TULISAN ini tidak akan menyinggung hiruk-pikuk wacana kenaikan harga rokok. Yang itu sudah lewat. Saya hanya ingin menulis tentang beberapa logika aneh berkenaan dengan rokok.
Suatu saat, saya pernah ditawari rokok oleh seorang teman. Saya menggeleng karena memang tidak (lagi) merokok. Dia pun berkomentar, "Kayak banci aja, nggak merokok." Kata-katanya memang mengandung canda, tapi saya yakin lebih dari separuhnya serius. Lalu saya membalas, "Bukannya para banci malah senang merokok?" (Merokok dalam arti sebenarnya, tentu.) Lihat saja kalau mereka mangkal malam-malam di tepi jalan tertentu, mereka sering tampak sedang merokok. Siapa sebenarnya yang banci? Yang merokok atau yang tidak?
Lantas, bagaimana bisa muncul ungkapan bahwa orang yang tidak merokok mirip banci? Entahlah. Salah satunya, mungkin, karena begitu masifnya upaya membangun citra melalui iklan dan reklame bahwa perokok adalah pemberani, sukses, kuat, gagah, macho, dan gambaran- gambaran lain yang setara dengan itu. Dengan citra seperti itu, orang yang tidak merokok dianggap sebaliknya: penakut, gagal, lemah, dan gambaran-gambaran lain yang serupa.
Kalau Anda bukan perokok dan pernah meminta orang yang merokok mematikan rokoknya, lantas si perokok itu marah-marah, Anda tidak sendirian. Kejadian seperti itu dialami banyak orang, di banyak tempat: di mal, di angkot, di ruang diskusi, dan sebagainya. "Hak gue dong, ngerokok di sini. Punya hak apa lu ngelarang gue ngerokok?" Begitulah mungkin pikir si perokok. Si perokok barangkali menyangka bahwa merokok sama saja dengan bernapas, ngemil, bersiul, atau main gim di ponsel, siapa pun berhak melakukannya. Dia lupa—atau tidak mau tahu?—bahwa bernapas, ngemil, bersiul, atau main gim di ponsel itu tidak mengganggu orang lain, berbeda dengan merokok. Kalau si perokok merasa memiliki hak untuk merokok, terutama di tempat umum, dia mestinya tahu bahwa banyak orang yang, pertama, juga berhak menghirup udara bersih dan, kedua, merasa terganggu oleh asap rokok, yakni pusing, mual, dan sebagainya.
Ketika saya kerap bersikap keras mengenai rokok, ada teman yang bilang, "Kamu ngotot sekali soal rokok. Belum pernah merasakan enaknya merokok, sih, ya?" Lalu saya menyahut, "Saya merokok mulai kelas dua SMA. Sehari 6-10 batang. Enam tahun kemudian saya berhenti. Jadi, saya tahu perbedaaan rasa antara merokok dan tidak merokok. Ya, merokok memang enak, tapi tidak merokok jauh lebih enak."
Saya berhenti merokok karena keinginan sendiri, bukan karena membaca tulisan mengenai bahaya merokok terhadap kesehatan atau karena ancaman diputus pacar. Sebelum merokok, saya kuat berlari pagi sejauh 5-7 km tanpa berhenti. Namun setelah bertahun-tahun merokok, saya tidak kuat meski hanya 1 km. Dada rasanya terbakar. Mungkin paru-paru saya tidak punya daya tahan terhadap asap rokok, berbeda dengan banyak orang yang tetap kuat bermain sepak bola meskipun merokok sebungkus tiap hari. Jadi, pagi itu, ketika saya merasa dada saya terbakar, saya memutuskan berhenti merokok. Saya benar-benar berhenti merokok, hingga sekarang.
Kembali ke logika aneh soal rokok. Ada kesan bahwa kaum perokok merasa dizalimi oleh banyaknya larangan merokok. Mereka merasa bahwa hak mereka untuk merokok makin ditindas. Karena itu, muncul perlawanan dari mereka. Kenaikan harga rokok sampai Rp 50.000 per bungkus, misalnya (padahal hanya isu dan wacana), ditentang habis-habisan, dengan mengajukan banyak alasan, antara lain kenaikan seperti itu akan mematikan petani tembakau.
Siapa sebenarnya yang zalim? Perokok yang merokok seenaknya atau pihak yang membuat larangan merokok di tempat umum?
"Perlawanan" kaum perokok terhadap "kezaliman" yang mereka alami makin menguat ketika cendekiawan tersohor Mohammad Sobary angkat suara. Ia mengaku, sampai usia 58 tahun, ia tidak pernah merokok. Dan tiba-tiba ia merokok. Dalam tulisan-tulisannya, sang kolomnis bilang bahwa gerakan antirokok itu didukung oleh kekuatan barat dan didasarkan oleh klaim-klaim yang keliru. Ia merokok juga sebagai ungkapan dukungan terhadap para petani tembakau, pabrik rokok nasional, dan jajarannya, untuk melawan kolonialisme barat melalui gerakan antirokok. Tentu saja ia didukung kaum perokok.
Entahlah, seberapa banyak kebenaran yang diyakini Sobary. Tapi inilah yang membuat saya sedih: karena kaum antirokok juga tak kurang militan, perlawanan itu bukan tidak mungkin akan menyebabkan negeri ini menjadi terbelah lagi: kaum pro berhadapan dengan kaum antirokok. Keterbelahan ini melengkapi perseteruan Pilpres 2014 yang masih bergaung hingga sekarang: pro melawan anti-Jokowi.
Ketika negeri-negeri lain meraih banyak emas Olimpiade, kita masih berkutat di kubangan perselisihan yang kontraproduktif. (*)