Coffee Break

Doa-doa

BERAPA kali kita berdoa setiap hari? Jika kita hanya berdoa setelah salat lima waktu, setidaknya sehari semalam kita lima kali berdoa.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Doa-doa
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

BERAPA kali kita berdoa setiap hari? Jika kita hanya berdoa setelah salat lima waktu, setidaknya sehari semalam kita lima kali berdoa. Jika setelah salat sunah juga kita berdoa, jumlahnya akan bertambah. Jumlahnya akan makin bertambah jika kita juga berdoa setelah bangun tidur, setelah berwudu, setelah azan, ketika masuk ke masjid, ketika keluar dari masjid, sebelum dan setelah makan, ketika meninggalkan rumah, dan seterusnya hingga menjelang tidur.

Jelas bahwa waktu kita sebenarnya sangat leluasa kita isi dengan berdoa. Bahkan salat itu sendiri adalah doa. Hidup kita adalah doa.

Apa isi doa kita? Hanya kita dan Tuhan yang tahu. Doa, menurut KBBI, adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Secara lebih khusus, menurut Islam, doa adalah permohonan kepada Allah yang disertai kerendahan hati untuk memperoleh suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada di sisi-Nya. Doa adalah media antara seseorang dengan Tuhan. Dengan doa, seseorang berbicara kepada Tuhan. Jadi, tiap orang memiliki permohonan yang berbeda-beda.

Seorang pengemis, seperti dilantunkan Ebiet G. Ade, memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan istri dan anaknya. Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki/Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan/Oh, hindarkanlah mereka dari iri dan dengki/Kuatkanlah jiwa mereka/Bimbinglah di jalan-Mu....

Hadad Alwi banyak berdoa dalam lagu-lagunya, antara lain, Yaa Robbiy sudilah pandang kami/Terangi jalan gelap ini/Jangan biarkan aku terus sendiri/Mencari mendaki dan berduri.

Grup band Ungu pernah pula melantunkan doa dalam lagunya: Tuhan jamahlah hatiku/Yang kering dan hampa tanpa kasih/Atas kuasa-Mu ku terlahir/Dan hanya Pada-Mu ku kembali/Dalam Tangan-Mu ku pasrahkan/Jalan panjang hidupku/Yang kan ku tempuh/Hanya pada-Mu ku memohon/Dan hanya pada-Mu ku bersujud.

Di jagat puisi, doa Chairil Anwar merupakan salah satu doa paling termasyhur: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling.

Bisakah "seseorang" bermakna sebuah kelompok? Mungkin saja. Khatib salat Jumat, misalnya, memimpin doa di bagian akhir khotbahnya. Jemaah mengikutinya dengan ucapan aamiin (Ya Allah, kabulkanlah doa kami). Doa-doa khatib umumnya mengambil dari Alquran dan Hadis, berisi permohonan yang menyejukkan hati. Yang pasti, doa khatib mewakili isi hati seluruh jemaah—kecuali setan yang menyelip di ruang kosong di antara jemaah.

Menteri Agama memimpin doa pada upacara Hari Kemerdekaan RI: Ya Allah, Tuhan yang kasih sayangnya menyeluruh/Pagi ini, dengan rahmat-Mu yang penuh/Kami segenap bangsa Indonesia bersimpuh/bersyukur atas nikmat kemerdekaan sebagai berkah-Mu yang utuh.... Ya Allah, Tuhan penebar kedamaian/Jadikanlah peringatan proklamasi kemerdekaan sebagai momentum merekatkan persatuan/Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan/Kuatkanlah ikatan di antara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan/Eratkanlah tali silahturahim antar kami agar saling memelihara persaudaraan sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan. Doa yang kata-katanya tertata, dengan akhir baris yang berima, dan terasa sejuk di dada. (Atau adakah yang tidak sepakat dengan isi doa Menteri Agama?)

Selain memohon, doa bisa saja berisi keluhan atau curhat. Ungu menyampaikan keluhan mengenai hatinya yang "kering dan hampa tanpa kasih". Chairil mengeluhkan dirinya yang "hilang bentuk" dan "remuk". Tentu saja kita harus menyampaikan keluhan yang jujur dan benar.

Bagaimana dengan doa pada penutupan Sidang Paripurna Penyampaian Keterangan Pemerintah soal RAPBN 2017, Selasa lalu? Berikut ini sekadar cuplikannya: .... Di mana-mana rakyat digusur tanpa tahu ke mana mereka harus pergi. Di mana-mana rakyat kehilangan pekerjaan. Allah, di negeri yang kaya ini rakyat ini outsourcing wahai Allah. Tidak ada jaminan kehidupan mereka....

Benarkah di mana-mana rakyat digusur? Benarkah di mana-mana rakyat kehilangan pekerjaan? Benarkah tidak ada jaminan kehidupan rakyat? Kelompok tertentu mungkin menganggap kata-kata itu adalah kebenaran. Tapi kelompok lain tidak. Artinya, isi doa itu tidak mewakili seluruh jemaah—seluruh rakyat negeri ini.

Yakinlah, tidak seperti rakyat (meski ada ungkapan vox populi vox dei), Tuhan tidak dapat dibohongi. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved