Cerpen Yetti AKA
Pintu
AKU memandang pintu dan yang kuingat pertama kali adalah Lilu.
Lilu tidak tahu kalau aku menangis karena menyesal telah tumbuh menjadi dewasa. Aku mau kembali menjadi anak kecil yang diasuh Lilu selama bertahun-tahun. Aku mau mencuri kue ibuku dan bersembunyi di balik pintu. Lilu pura-pura mencariku ke mana-mana, padahal ia tahu persis di mana aku berada. Aku mau mematahkan raket bulu tangkis ayahku dan mendengar suara lelaki itu menggelegar dan aku buru-buru menghambur keluar. Aku mau menyembunyikan kaus kaki milik kakakku yang sedang siap-siap pergi ke sekolah pada hari Senin dan semua panik mencari kaus kaki itu dan mengira seekor tikus telah melakukan kejahatan tak termaafkan karena telah membuat kakakku terlambat mengikuti upacara bendera.
Besok paginya baru aku mengakui perbuatanku, sebab kata Lilu seorang pemberani harus belajar mengaku salah. Aku tidak dihukum dalam kamar kosong. Aku hanya tidak diajak bicara oleh semua orang dan selama berjam-jam aku berada di balik pintu seakan ada orang yang mencari dan akhirnya menemukanku dan segalanya menjadi normal kembali.
Pintu, kata Lilu, tak selamanya menjadi tempat bersembunyi. Sekali waktu kau harus menerobos keluar, melewatinya.
Kenapa? tanyaku.
Itu tentang pilihan, apakah kau ingin terus bersembunyi atau membebaskan dirimu.
Kalau Lilu ada di sini, aku ingin bilang: Aku sudah membebaskan diri. Pintu itu sudah pernah kulewati dan kini ingin kuterobos sekali lagi, bukan untuk keluar, melainkan memasukinya kembali.
Namun, benarkah semua itu mudah seperti ketika Lilu mengajakku bermain jauh keluar dan kembali lagi tak lama setelah itu? Aku meremas jari tanganku dan berharap ada kejadian aneh yang membuat pintu itu tiba-tiba menghilang dan aku lepas, tak perlu memikirkan apa yang semestinya kulakukan, aku cukup berbalik, lalu melupakan segalanya. Anak perempuan harus pemberani! bisik Lilu tiap kali aku ketakutan berhadapan dengan sesuatu. Kau harus berani, kataku kepada diri sendiri dan memilih tidak lari dari sebuah pintu dengan cat putihnya yang sudah kelabu. Aku yang memesan sendiri pintu itu kepada tukang kayu setelah pintu lama hancur menjadi bubuk. Ini kayu terbaik, katanya. Segala dalam hidupku adalah yang terbaik, tapi apa aku bahagia? bisikku dalam hati. Aku menggigit ujung lidahku.
Kau hanya tertimpa sedikit masalah, kata Lilu.
Tapi rasanya seperti terjatuh di tanah kering, kataku.
Berhentilah berpikir. Sekali-sekali kau dengarkan saja hatimu.
Hatiku lebih payah sekarang ini, kataku.
Lilu tertawa. Lilu memang suka tertawa sejak dulu sampai-sampai aku mengira ia orang paling berbahagia di dunia. Namun, itu sebelum satu hari, waktu itu usiaku sudah 22 tahun, aku tak sengaja bertemu dengannya di jalan—dan itu pertemuan pertama kali setelah ia meninggalkan rumah keluargaku demi pacarnya. Lelaki itu menipuku, ujarnya. Aku menggenggam tangan kanannya dan tak berkata apa-apa. Dia tidak pernah menikahiku, keparat itu hanya menginginkan uang simpananku, Lilu mengusap air mata dengan sapu tangan ungu tua. Aku mengenggam tangan Lilu lebih erat. Jangan terlalu percaya kepada lelaki, pesan Lilu. Kemudian Lilu bilang bahwa ia akan meneruskan hidup dan kembali ke kampung saja setelah bertahun-tahun terdampar di kota bersama lelaki yang salah.
Paling tidak hidupku akan menyenangkan karena aku akan sering bertemu ular, ujarnya. Aku senang sebab di bibir Lilu tumbuh sebuah senyuman.
Aku tentu saja tidak bertemu lelaki yang salah. Namun, di telepon aku berkata kepada Lilu: rasanya semua dalam hidupku ini, salah.
Kau ingat pintu tempat kau sering bersembunyi di baliknya? tanya Lilu.
Ya, kataku tidak terlalu yakin ke mana arah pembicaraan Lilu.
Sekali waktu kau harus kembali ke sana—saat kau benar-benar lelah.
**
SEKARANG, aku masih memandang pintu itu dan terus teringat kepada Lilu.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pintu_20160813_223526.jpg)