Cerpen Topik Mulyana
Kimri
Itulah desa kami dulu. Di sinilah pelajar Soekarno bertemu dengan salah seorang leluhur kami, petani Marhaen.
"Kimri?" Wak Ekih menegurnya. Namun, Kimri masih bergeming. Tampak mata merahnya seakan tak berkedip. Wak Ekih akhirnya urung menyuruhnya. Ayannya bakal kambuh, pikirnya. Ia pun bergegas pergi meninggalkan bujang yatim itu.
Keesokan harinya, ketiga desa kecil itu geunjleung. Kimri ditemukan mati di Situ Haji Tamrin. Jasadnya ditemukan kedua saudaranya yang tengah mencarinya karena dua hari tidak pulang ke Cibintinu. Kepalanya dalam keadaan terbenam ke dalam lumpur. Saat diangkat, tubuhnya telah kaku. Kedua batang lengannya terjulur lurus dengan telapak mengepal. Kepalanya merunduk.
Hampir semua penduduk berkumpul di sana. Saat hari beranjak siang, tampak lima orang lelaki berseragam polisi di sana. Abah Sumanta dan kedua orang saudara Kimri dipanggil dan dibawa sebagai saksi. Penduduk lainnya membantu janda Juanah mengurus mayat Kimri.
Para penduduk betul-betul dibuat sangat kaget dengan peristiwa ini. Terlebih Wak Ekih.
"Pantesan atuh kemarin saya suruh-suruh, Kimri diam saja. Sinarieun!" serunya berkali-kali kepada semua orang.
Mereka merasa kehilangan, sekaligus ngeri karena Kimri mati dalam keadaan tidak wajar. Kabar santer menyebutkan, jiwanya diambil siluman situ untuk dijadikan penduduk di kerajaannya.
Kengerian itu berlanjut dan bertambah-tambah saat dua orang perawan Karasak, Rukmini dan Suramah, berlarian sembari berteriak-teriak sejadi-jadinya saat mereka hendak melewati petak sawah milik Haji Warsid. Setelah ditanya, mereka mengaku melihat sosok Kimri tengah berdiri tegak dengan mata merah menatap kosong tanpa berkedip di antara padi-padi yang mulai menguning.
**
JIKA Tuan kebetulan melalui Jalan Karasak dari arah Jalan Soekarno-Hatta, Tuan akan mendapati lembah kecil. Tepat pada titik turunan, di sebelah kiri jalan, ada tanah kecil bekas Tugu Marhaen. Lihatlah bengkel mobil di sebelahnya. Itulah bekas rumah janda Juanah. Lalu, Tuan pun akan melewati rumah besar yang di halamannya terdapat pohon cemara yang tinggi. Itulah bekas sawah Haji Warsid. Jika di dekat-dekat sana Tuan kebetulan melihat sosok bujang berkopiah melintang di kepala, berselendang sarung, dan bermata merah sedang berjongkok di tepi jalan, sapalah ia atau suruhlah ia membantu Tuan melakukan suatu pekerjaan. Namun, jangan gusar jika ia bergeming saja. Sebab, Tuan tahu, ia hanya kenangan. Sisa kenangan kami. Sebagai ahli sejarah, Tuan tentu mengerti, betapa berharganya ia bagi kami.
***
Bandung, 17-18 Agustus 2010
Keterangan
bogo: gabus, tutut: keong sawah, situ: kolam besar yang secara periodik dikuras untuk diambil ikan-ikannya, séké: kolam alami yang tak pernah dikuras, belekok: burung kuntul, kadal meteng: kadal siluman, negér: menangkap ikan dengan cara menjebaknya ke dalam borongsong yang telah diberi umpan, borongsong: kantong yang terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk bulat, wanci janari: waktu sebelum subuh/waktu sahur, ayakan: saringan dari anyaman bambu, lingas: lincah/susah ditangkap, nyiru: nampan, geunjleung: heboh karena sesuatu yang menakutkan atau aib, sinarieun: tidak seperti biasanya/tumben.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kimri_20160806_220358.jpg)