Cerpen Toni Lesmana
Cerpen R
RAKIN sudah bugil. Berlari-lari dalam kamar. Berlari gelisah dalam kepungan tulisan huruf R yang memenuhi tembok kamarnya. Kamar yang hijau.
Jalan selalu sibuk. Rakin menyeberang. Tak mau menunggu. Jerit rem dan gaduh tubrukan di belakang punggungnya. Alun-alun masih hancur bekas ledakan bom yang dipasang anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang marah karena tak bisa lagi bermain dengan gratis. Anak-anak kecil yang nakal dan beringas. Bom dipasang seenaknya. Masjid Agung ikut hancur, kubahnya terlontar jauh dan jatuh di atas sebuah mal. Mal yang kemudian menjadi laku dan diserbu orang-orang sebab tempat jatuhnya kubah diyakini sebagai tempat yang penuh berkah. Mal yang buka 24 jam. Selalu penuh dan sibuk.
Tubuh Rakin mandi keringat. Di bekas reruntuhan Alun-alun dan Masjid Agung terlihat ada banyak tangan yang melambai. Rasa. Rasa dengan baju compang-camping. Melambai dan menadahkan tangan. Rasa berkerumun. Rakin disergap labil. Rasa, begitu banyak Rasa. Tapi Rasa tak pernah menengadahkan tangan. Rasa selalu menyediakan sebuah tempat untuk para pembeli jamu membayar dan mengambil sendiri kembaliannya. Tangan Rasa hanya untuk meracik, menuang, dan menyajikan jamu. Tangan yang lembut dan harum.
Sebuah pesan singkat masuk lagi. Ponsel bergetar hebat di saku celananya. Getaran yang membatalkan tangan yang hendak membalas lambaian. Hampir saja.
"Cepatlah! Sekali lepas, tak akan tertangkap!" Rakin seakan melihat kepala kribo Buloh nongol dan sepasang mata belonya melotot dari layar ponsel.
Cepat Rakin menepuk-nepuk kedua kaki. Seakan memberi isyarat untuk lebih kencang lagi berlari. Hanya tinggal satu perempatan lagi. Kaus oblong sudah kuyup. Rakin berlari di trotoar sedang keringat berlari di tubuhnya.
Perempatan yang lampu lalu lintasnya selalu berwarna hijau. Perempatan yang macet. Macet. Macet gara-gara mal penuh berkah berkat kubah. Mal yang megah itu berdiri pongah di sana. Mal yang transparan sehingga seluruh isinya nampak jelas. Jalanan menjadi tempat parkir. Orang-orang berdesakan. Di trotoar, jalan. Berebut ingin masuk ke dalam mal. Ingin berbelanja berkah. Sudah banyak korban jatuh gara-gara perkelahian yang cenderung menjadi pertempuran. Aparat dan pejabat juga tak mau kehabisan berkah. Mereka bahkan lebih buas. Sesekali terdengar suara salak tembakan. Jerit dan teriakan.
Rakin melesat. Matanya semakin hijau. Hijau redup. Rakin melompat ke atas mobil. Berlari dan melompat di atas mobil-mobil yang kaku. Tepat di tengah perempatan dalam kepung empat warna hijau di empat tiang lampu lalu lintas, Rakin tiba-tiba terhenti.
Rakin limbung. Rasa ada di mana-mana. Orang-orang yang berdesakan di jalan, yang berkelahi di pintu mal, yang bertempur di dalam mal. Orang-orang itu adalah Rasa.
Rasa berteriak di jalan. Rasa memukul Rasa. Rasa menembak Rasa. Rasa melempar Rasa dari atas kubah.
Rasa ada di mana-mana. Semua Rasa mendadak diam dan bersamaan menatap Rakin. Mereka melambaikan tangan. Lambaian tangan Rasa di mana-mana.
Rakin berlari di tempat, di atas sirene mobil polisi.
Rasa mengepalkan tangan. Rasa membidikkan senapan. Rasa melempar.
Rakin memukul-mukul kepala gundulnya. Tidak, mereka buka Rasa. Tangan Rasa selalu lembut. Sesekali tanpa sengaja, Rakin suka menyentuh tangan Rasa jika menerima gelas yang disodorkan. Halus sekali. Tangan-tangan yang mulai kasar dan beringas itu tentunya bukan tangan Rasa.
Rakin semakin cepat berlari di tempat. Kakinya hampir tak terlihat. Lantas melesat meninggalkan ratusan mungkin ribuan Rasa yang kembali berdesakan, berkelahi, bertempur. Ribuan Rasa yang rakus berbelanja berkah.
Patung pahlawan di pertigaan. Pintu pasar sudah terlihat. Lengang. Selengang langit dari garis-garis pajar. Patung juga berubah menjadi patung Rasa, bukan lagi patung pahlawan yang membawa obor, tapi menjadi patung Rasa yang menggendong bakul jamu dan mengangkat tinggi-tinggi gelas jamu. Rakin tak menghiraukannya, sekalipun pinggul patung itu sedikit menggodanya, bergoyang-goyang persis gerak khas pinggul Rasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cerpen-r_20160730_211325.jpg)