Coffee Break
Anak-anak Bahagia
SEMENTARA banyak perempuan mungkin melarang anak-anak mereka yang masih kecil bermain hujan-hujanan, istri saya tidak pernah melarang...
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
SEMENTARA banyak perempuan mungkin melarang anak-anak mereka yang masih kecil bermain hujan-hujanan, istri saya tidak pernah melarang, termasuk kepada anak-anak kami yang perempuan. Alih-alih, ia malah menyuruh anak-anak kami main hujan-hujanan. Dan anak-anak kami memang sangat menyukai bermain di tengah hujan lebat. Tanpa disuruh pun, mereka sendirilah yang minta.
Awalnya, saya kurang setuju dengan sikap istri saya, tapi lama-lama saya ikut mendukung. Seingat saya, anak-anak kami tidak pernah sakit karena hujan-hujanan. Kata para ahli, saat bermain hujan, tubuh anak berupaya mengimbangi perubahan suhu yang drastis, sama dengan mandi air dingin. Dengan membiarkan anak sesekali bermain hujan, tubuhnya akan lebih mampu berdaptasi dengan hujan (suhu dingin).
Kami baru melarang anak-anak main hujan-hujanan kalau kondisi tubuh mereka kurang baik. Kami juga tidak membolehkan mereka hujan-hujanan pada hujan pertama setelah kemarau panjang. Selain itu, kami tidak setuju kalau yang turun baru tahap gerimis.
Jika anak sedang kurang sehat lalu hujanan-hujanan, kata para ahli juga, daya tahan tubuh si anak akan menurun dan ia menjadi lebih mudah sakit. Namun, sekalipun anak jatuh sakit karena bermain hujan, dalam beberapa hari tanpa diberi obat pun biasanya sudah sehat kembali. Dan sebenarnya, bukan bermain hujan yang menyebabkan anak sakit, melainkan terpapar kuman penyebab penyakit. Kuman penyakit itu bisa datang dari air kotor, yaitu air hujan yang keluar melalui pancuran atap atau air banjir karena mungkin sudah tercampur dengan berbagai kotoran.
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik berkata: Kami bersama Rasulullah kehujanan. Rasulullah menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini? Beliau menjawab: Karena ia baru saja datang dari Allah.
Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi, termasuk Utsman bin Affan, pun sengaja hujan-hujanan. Abdullah bin Abbas, jika hujan turun, berkata: Wahai Ikrimah, keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu, agar terkena hujan.
Ibnu Rajab juga mengisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib, jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah, dan badannya, kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.
Hari-hari ini, meski sudah lewat dari pertengahan Juli, hujan masih kerap turun di banyak tempat di negeri ini. Beberapa hari lalu anak terkecil kami, umur tujuh tahun, bergembira di bawah hujan deras. Memang kami tidak selalu dapat memantau bermain apa saja ia dan teman- temannya. Salah satu yang terpantau, ia dan teman-temannya menghanyutkan daun atau benda apa saja di aliran air yang meluap ke jalan di depan rumah. Mereka mengikuti dari "udik" hingga "hilir", mungkin sambil membayangkan benda-benda yang hanyut itu adalah perahu.
Itulah yang membuat saya teringat masa kecil dulu. Saya juga pernah melakukan hal yang serupa: menghanyutkan daun atau ranting di satu tempat, lalu mengikuti "perahu" itu hingga terjerumus di air terjun atau lenyap di kelokan. Tentu saja banyak yang bisa kami lakukan di bawah hujan lebat: main kejar-kejaran, main luncuran di teras rumah orang yang lantainya terbuat dari tegel, bermain bola—di jalan, di halaman sekolah, atau di lapangan betulan.
Jadi, sementara banyak sekali jenis permainan yang berubah menurut laju waktu, bermain hujan- hujanan tampaknya tidak lekang oleh gemuruh zaman. Cuma, kita dapat bermain hujan-hujanan hanya jika hujan turun, berbeda dengan jenis permainan lain yang dapat dimainkan kapan saja dan di mana saja, termasuk berbagai jenis permainan yang dimainkan melalui layar komputer, tablet, atau ponsel pintar, di antaranya yang sedang panas-panasnya: Pokemon Go.
Mungkin anak-anak Anda, atau Anda sendiri, sedang keranjingan bermain Pokemon Go, game yang masih menimbulkan pro-kontra. Kalangan pertama yakin bahwa permainan ini tidak lain modus canggih intelijen negara lain yang bisa membahayakan negara kita. Termasuk kalangan ini antara lain Kapolri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Namun, kalangan kedua percaya bahwa kekhawatiran Pokemon Go bisa membahayakan keamanan negara itu berlebihan.
Bagaimanapun, kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang era Pokemon Go, bukan lagi masa engklek dan gobak sodor. Hanya saja, sebagaimana kita melarang anak-anak bermain engklek jika lupa waktu, kita juga hendaknya melarang anak-anak bermain game apa pun tanpa kenal waktu.
Kemarin memang hari anak nasional. Tapi pada hari-hari seterusnya pun biarlah anak-anak berbahagia dengan dunianya, dengan game-nya. (*)