Coffee Break

Supri

Victor hanya tokoh fiktif dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, sedangkan Supri tokoh nyata.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Supri
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SUPRIYANTO mungkin tidak mengenal nama Victor Frankenstein. Tapi pria 40 tahun asal Dusun Ngrancang, Desa Bojonegoro, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu memiliki hasrat yang serupa dengan Victor, yang berasal dari Swiss. Keduanya ingin menciptakan kehidupan dari sosok yang sudah mati.

Bedanya, Victor merangkai bagian-bagian tubuh orang mati dengan cara dijahit, lalu berusaha menghidupkan sosok ciptaannya itu dengan bantuan petir, sedangkan Supri berupaya menghidupkan jasad orang mati dengan ritual dan mantra-mantra. Victor berhasil menghidupkan sosok ciptaannya, meski kemudian menjadi monster yang mengerikan, sedangkan Supri gagal. Victor hanya tokoh fiktif dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, sedangkan Supri tokoh nyata.

Cerita Supriyanto bermula ketika ia mendapat wangsit dan mimpi untuk membongkar makam ibunya, Parimah, agar bisa dihidupkan lagi. Parimah dikubur pada 14 April 2016, tapi sebulan kemudian, 24 Mei 2016, Supri, dibantu sembilan orang, membongkar makam ibunya.

Supri kemudian membawa jenazah ibunya ke rumah. Dia menyimpan jasad ibunya yang masih lengkap dengan kain kafan di dalam kamar. Jenazah Parimah diletakkan di atas ranjang kayu beralaskan tikar merah. Wajah dan kondisi jasad sudah berwarna hitam dan mengeluarkan bau tak sedap. Untuk mengakalinya, Supri meletakkan jasad ibunya di atas plastik transparan, lalu menyiramkan minyak wewangian.

Supri kerap melakukan ritual doa agar jenazah ibunya hidup lagi. Namun, ritual yang dilakukan oleh Supri dan rekan-rekannya tidak menggunakan sesaji apa pun. Selama sebulan pula Supri tidur di dekat jenazah sang ibu.

Upaya Supri gagal dan ia justru berakhir di tahanan polisi.

Di Toraja, ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman. Konon, mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun di sebuah tebing tinggi dan kuburan batu tiba-tiba jasadnya bangkit. Mayat itu kemudian berjalan mencari rumahnya. Setiba di rumah, dia akan tidur lagi.

Di jagat iptek, pernah dikabarkan, dalam sebuah pertemuan New York Academy of Science, dipresentasikan gagasan tentang menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Disebutkan bahwa metode pendinginan tubuh alias proses hipotermia ditambah dengan pengurangan suplai oksigen bisa membantu orang yang baru saja meninggal untuk sadar kembali atau mengalami resusitasi.

Sebuah startup Australia belum lama ini juga mempunyai gagasan tentang menghidupkan orang yang sudah meninggal, dengan catatan otaknya masih bisa berfungsi. Humai (Human Resurrection Through Artificial Intelligence), nama perusahaan tersebut, mengklaim dapat membangkitkan manusia lewat kecerdasan buatan. Caranya, dengan memanfaatkan otak orang yang sudah meninggal, yang nantinya akan dipindahkan ke tubuh buatan. Proyek ini diklaim akan berjalan 30 tahun ke depan.

"Kami ingin membawa sebuah pengalaman baru kepada orang-orang, yakni pengalaman hidup setelah meninggal," ujar CEO Humai, Josh Bocanegra. "Kami menggunakan kecerdasan buatan dan teknologi nano untuk menyimpan data percakapan, pola perilaku, proses berpikir, dan informasi tentang bagaimana (fungsi) tubuh Anda bekerja ketika di dalam dan di luar. Nantinya, data ini akan dikodekan menjadi beberapa teknologi sensor, yang akan dipasang ke badan buatan dengan otak manusia yang sudah meninggal."

Di Rusia, pernah diberitakan, sebuah perusahaan telah membuka sebuah laboratorium baru bernama "KrioRus", yang menyimpan tubuh manusia yang telah meninggal delapan tahun. Mayat-mayat ini diawetkan dengan nitrogen cair untuk menghidupkan kembali mereka di masa depan.

Kitab Suci menyebutkan sejumlah nabi yang dapat menghidupkan orang atau makhluk yang sudah mati. Namun, dijelaskan bahwa semua itu bisa terjadi atas izin Allah.

Bagi sebagian besar orang, kehidupan dan kematian memang hanyalah urusan Tuhan. Namun sebagian lainnya tetap penasaran mengenai proses kematian dan percaya bahwa manusia bisa menciptakan kehidupan. Banyak tempat di berbagai penjuru dunia yang menyimpan kisah tentang upaya menghidupkan orang mati.

Kisah Supriyanto salah satunya.

Dan bagi banyak orang, tentu saja, Supri tak lebih dari orang gila.

Kita tidak tahu mengapa kegilaan seperti itu bisa muncul: apakah karena kesedihan yang begitu hebat? Atau karena tekanan hidup yang kian dahsyat? (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved