Coffee Break

Haters

MEMANGNYA masih ada yang disebut haters, ya? Masa, sih? Sudah dua Ramadan, lho. Masa bulan suci tidak memberikan efek apa-apa?

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Haters
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MEMANGNYA masih ada yang disebut haters, ya? Masa, sih? Sudah dua Ramadan, lho. Masa bulan suci tidak memberikan efek apa-apa? Ramadan itu bulan baik, bulan suci, bulan saling memaafkan. Sayang sekali kalau kita tidak memanfaatkan pintu surga yang sedang dibuka lebar-lebar dan pintu neraka yang ditutup rapat-rapat.

Saya memang sudah lama tidak menengok media sosial dan mengira tidak ada lagi (pemakaian istilah) haters. Haters adalah istilah yang diberikan pendukung Jokowi kepada orang-orang yang (dianggap) membenci Jokowi. Setelah dua tahun, saya pikir dua kubu, pendukung dan pembenci Jokowi, sudah lebur. Tapi ternyata perkiraan saya keliru.

Fan page Jonru mungkin dapat dijadikan barometer. Ada yang belum kenal Jonru? Di fan page-nya, dia menyebut diri sebagai content writer dan socialpreneur. Conten writer kira-kira adalah seseorang yang bertugas menulis artikel pada blog atau laman tertentu, sedangkan socialpreneur (lebih tepatnya sociopreneur, singkatan dari social entrepreneur) adalah pengusaha yang menjalankan usahanya tidak semata-mata hanya memikirkan keuntungan pribadi, tetapi juga memikirkan membangun dan mengembangkan komunitasnya agar lebih berdaya.

Dalam tulisan terdahulu tentang Jonru, saya mengagumi betapa banyaknya orang yang me-like, mengomentari, dan membagikan apa pun tulisan Jonru (atau anggota timnya). Waktu itu yang mengklik like bisa sampai ribuan. Ketika saya lihat lagi kemarin, jumlah like, komentar, dan share tiap postingannya tetap sampai ribuan, malah belasan ribu. Luar biasa.

Yang pasti, Jonru sangat konsisten dengan postingannya: menyerang Jokowi. Kadang mencoba santun, kadang sarkastis. Konsistensinya itulah yang membuat Jonru diberi sebutan hater oleh pendukung Jokowi. Kadang postingannya dianggap fitnah, sampai-sampai ada yang kreatif membuat kata kerja menjonru yang bermakna memfitnah. Namun, Jonru sendiri menyebut menJONRU sebagai MENtioning & JOiNing the tRUth, seperti yang ditulis di fan page-nya. Masing-masing menganggap diri benar.

Pada 14 Juni lalu, Jonru memposting tulisan berikut, yang entah apakah buatan dia atau bukan: Eni warteg dijadikan senjata untuk mendongkrak nama dengan ratusan juta dan Jokowi ikut nyumbang, sementara Kp. Luar Batang kehilangan tempat tinggal harta benda morat-marit malah di-bully habis-habisan. Jokowi, anda sehat? Anda itu presiden atau relawan? Sampai Jumat malam, postingan ini mendapat 27 ribuan like dan 10 ribuan share.

Mengomentari sebuah berita di sebuah media berjudul "Jokowi Hapus 3.143 Perda", beberapa hari lalu, pada Kamis lalu Jonru membuat postingan seperti ini: Penghapusan sejumlah perda bernuansa Syariat Islam menjadi bukti nyata bahwa Rezim Jokowi = Anti Islam. Jadi, apa sebenarnya agamamu, Jokowi? Dulu saat kampanye, fotomu ketika shalat beredar ke mana-mana. Juga foto saat naik haji. Kau juga umroh sebelum pilpres. Istrimu pakai jilbab. Bahkan kau pakai baju ulama dan datang ke pesantren. Kini makin jelas, itu semua hanya kamuflase. Kau jual agama demi meraih kekuasaan. Kau tipu rakyat MUSLIM Indonesia!!! Kini makin terbukti kau anti Islam. Jadi, apa sebenarnya agamamu, Jokowi? Postingan ini, sampai Sabtu pagi, sudah memperoleh 12.000-an like dan 6.100-an share.

Jumat sekitar pukul 6 pagi, Jonru memposting tulisan berikut: Dulu, saat Jokowi belum dilantik jadi Presiden, beredar berita di media bahwa Jokowi membentuk kabinet. Dan di dalamnya tidak terdapat departemen agama. Lalu banyak pihak yang memprotes. Bahkan MUI pun saat itu marah pada Jokowi. Berita tersebut beredar di sejumlah media. Dan saya pun memuatnya di fan page ini. Lalu tiba-tiba Jokowi membantah, "Tidak benar saya meniadakan departeman Agama." Lalu setelah itu, para Jokowers pun menuding saya, "Jonru memfitnah Jokowi, menuduh Jokowi meniadakan Departemen agama."

Dan kini, KEJADIAN SERUPA PUN TERULANG. Tepatnya mengenai info "penghapusan ribuan perda bernuansa syariat Islam." Sudah demikian banyak media yang memuat itu. Termasuk para tokoh Islam pun angkat suara untuk memprotes keputusan tersebut. Namun tiba-tiba, mendagri dengan sok imutnya membantah. "Tidak ada perda syariat Islam yang dihapus."

Saya kira, kita semua sudah hafal TABIAT PLIN PLAN dari pemerintah yang seperti ini. Bikin kebijakan sendiri, lalu rame pro kontra, lalu dibantah sendiri. Entah apa maksudnya.

Dan makin terbukti bahwa MEREKA YANG SELAMA INI MENUDUH SAYA TUKANG FITNAH, TERNYATA MEREKALAH TUKANG FITNAH YANG SEBENARNYA.

Insya Allah saya tak akan pernah gentar menghadapi fitnah-fitnah seperti itu.. Karena SAYA YAKIN Allah bersama saya. Allahu Akbar!!! Empat belas jam kemudian postingan ini sudah mendapat 7 ribu lebih like dan hampir seribu share. Sekali lagi, luar biasa.

Tentang siapa sebenarnya yang memfitnah, wallahualam. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved