Sorot
Mundur
Mungkinkah Atep cs tidak nyaman di bawah asuhan Dejan sehingga ogah-ogahan menjalani pertandingan.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dedy Herdiana
Oleh: Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun Jabar
KEBERSAMAAN Dejan Antonic bersama Persib berakhir sudah. Pelatih asal Serbia ini mundur setelah Persib dipermak Bhayangkara Surabaya United (BSU) 1-4 pada pertandingan lanjutan Indonesia Soccer Championship 2016 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (11/6).
Bersama Persib, Dejan memang tidak bernasib baik. Di bawah komandonya, tim Maung Bandung kehilangan darah petarungnya. Selama diasuh Dejan, Atep dkk seperti kehilangan gairah bermain.
Mungkinkah Atep cs tidak nyaman di bawah asuhan Dejan sehingga ogah-ogahan menjalani pertandingan. Ada pula yang mencium aroma konspirasi dari sebagian pemain yang membuat Dejan tidak nyaman bekerja. Wallahu alam.
Tudingan tersebut sulit dibuktikan. Yang pasti, Dejan mengaku tidak tahan oleh tekanan bobotoh yang gerah karena prestasi Persib jauh dari harapan.
Dejan pun mengucapkan pileuleuyan (selamat tinggal) kepada Persib.
Dia kehilangan kesempatan mendampingi Persib bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang jadi homebase tim Maung Bandung selama Si Jalak Harupat dipakai untuk hajat besar Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat.
Dejan telah pergi tanpa meninggalkan jejak prestasi di Persib. Namun ada yang patut dicatat dari pelatih kelahiran Beograd, 22 Januari 1969 ini. Dejan mengajarkan kepada kita semua tentang bagaimana bersikap kesatria.
Berbekal jiwa seorang kesatria, Dejan tidak lari dari tanggung jawab ketika Persib terpuruk di bawah komandonya. Berbekal sikap kesatria, dia rela meninggalkan kursi pelatih Persib yang banyak diincar banyak orang itu.
Berbekal jiwa kesatria dan juga jiwa sportif, Dejan tidak berkelit dengan segudang alasan untuk mempertahankan "kekuasaannya" di tim Persib.
Ada tekanan atau tidak, Dejan sangat tahu apa yang harus dia lakukan ketika gagal memberi prestasi kepada tim yang dibesutnya.
Dengan mengundurkan diri tanpa harus dilengserkan manajemen (apalagi bobotoh), Dejan berhasil menunjukkan jatidiri dia yang sebenarnya. Dejan lengser tanpa harus kehilangan harga diri.
Sungguh kita semua bisa belajar banyak dari Dejan, tak terkecuali para politikus, pejabat, dan para pemegang kekuasan di negeri ini.
Bukankah kita mafhum belaka, mundur atau lengser secara sekarela setelah melakukan kesalahan atau terbukti gagal mengemban tugas, bukan tradisi di negeri tercinta ini. Yang kita saksikan justru sebaliknya.
Di negeri ini, mereka yang divonis bersalah pun, mati-matian mempertahankan jabatan dan kekuasaan yang mereka rebut dengan penuh "perjuangan dan pengorbanan".
Memang ada satu-dua pejabat yang mundur atau lengser tanpa harus menunggu rakyat turun ke jalan, namun itu hanya noktah kecil di keluasan negeri yang bernama Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/deni-ahmad-fajar_20150615_151507.jpg)