Sorot

Akhir Dejan Antonic

Pelatih asal Serbia itu mengundurkan diri di tengah keterpurukan Persib.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

Oleh: Machmud Mubarok, Wartawan Tribun

UMUR pengabdiannya hanya seumur jagung. Hanya lima bulan. Ditutup dengan sebuah kekalahan memalukan, 1-4. Itulah akhir perjalanan Dejan Antonic di Persib Bandung. Pelatih asal Serbia itu mengundurkan diri di tengah keterpurukan Persib.

Melawan Bhayangkara Surabaya United merupakan laga keenam Persib di Indonesia Soccer Championship 2016. Baru tujuh poin yang didapat Maung Bandung, hasil sekali menang, empat kali imbang, dan sekali kali.

Rupanya tuah Dejan yang membawa tim muda Pelita Bandung Raya melaju ke semifinal ISC 2014 tak cukup ampuh membangkitkan kekuatan sebenarnya Maung Bandung.

Pascajuara liga 2014 dan Piala Presiden 2015, Persib ditinggal pelatih Djadjang Nurdjaman. Ia menimba ilmu ke Inter Milan, Italia ketika liga tengah vakum. Djanur pun berencana melanjutkan "sekolahnya" ke DC United di Amerika Serikat, sebelum munculnya pengumuman pengunduran diri Dejan.

Memang berat menjadi pelatih Persib. Setumpuk harapan tinggi menggunung di pundak setiap orang yang dipercaya melatih para penggawa Pangeran Biru ini.

Harapan itu tak hanya dipercayakan oleh manajemen, tapi para pendukung setia Persib, Bobotoh. Bobotohlah yang menjadi pemain kedua belas saat bertanding di stadion.

Bayangkan, pendukung Persib adalah yang terbesar di planet ini dibandingkan dengan Barcelona atau Real Madrid sekalipun. Karena itu, suaranya akan sangat berpengaruh terhadap jalannya roda Persib.

Ketika suara-suara sumbang dari luar lapangan bermunculan seiring penampilan Persib yang menurun, saat itu pula telinga manajemen menjadi runcing dan tajam agar bisa menyerap aspirasi bobotoh.

Kadang-kadang, tekanan bobotoh pun begitu luar biasanya, sehingga seorang pelatih pun akhirnya harus memainkan pemain yang dinilai bagus, namun tak pernah dimainkan. Itu semua karena suara bobotoh.

Dan Dejan tak mampu melewati kutukan pelatih asing di Persib. Tengok saja pelatih-pelatih asing sebelumnya, Marek Andrejz Sledzianowksi (Polandia, tahun 2003), Arcan Iurei Anatolievici (Moldova, 2007), Daniel darko Janackovic (Montengero, 2010), Jovo Cuckovic (Montengero, 2010), dan Drago Mamic (Kroasia, 2011).

Semuanya tak mampu memperpanjang kontrak, bahkan ada yang tak sanggup menuntaskan satu musim, seperti halnya Dejan. Dejan baru masuk ke Persib awal 2016.

Ia mengisi posisi yang ditinggalkan Djanur. Tentu harapannya Dejan bisa mengembalikan performa Persib seperti ketika juara ISC 2015.

Harapan itu mencuat ketika Persib yang tertatih-tatih menyiapkan skuad di Bali Island Cup 2016 dan bisa menjadi runner up Piala Bhayangkara 2016. Tapi bekal itu rupanya tak cukup menguatkan mental Dejan.

Di tangan pelatih lokal, Persib memang lebih banyak bersinar. Hanya Risnandar Sundoro (almarhum) yang harus rela meninggalkan kursi panas pelatih lebih cepat setelah Persib tampil buruk di awal-awal liga.

Indra Thohir dan Djadjang Nurdjaman mampu membalikkan stigma bahwa pelatih lokal tak bisa berkutik. Mereka menunjukkan mental baja bisa membuat Persib menjadi juara.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved