Coffee Break

Selfie

KATA selfie pasti tidak asing lagi bagi masyarakat negeri ini. Bandingkan dengan padanannya dalam bahasa Indonesia, yang memang baru muncul belakangan

Selfie
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KATA selfie pasti tidak asing lagi bagi masyarakat negeri ini. Bandingkan dengan padanannya dalam bahasa Indonesia, yang memang baru muncul belakangan. Eh, Anda tahu padanan selfie dalam bahasa Indonesia? Kalau tidak tahu, saya yakin banyak orang lain juga sama dengan Anda. Ya, menurut Pusat Bahasa, padanannya ini: swafoto. Tapi ada juga yang mencoba mengindonesiakan selfie menjadi foto narsisis.

Namun, karena sudah terbiasa memakai kata selfie, kita mungkin akan kagok kalau memakai padanannya: "Ayo, kita swafoto dulu dengan latar belakang Jembatan Layang Antapani" atau "Ayo, kita foto narsisis dulu dengan latar belakang masjid 1 triliun." Saya malah lebih suka kalau kata selfie itu kita adopsi saja dengan adaptasi lidah kita, misalnya menjadi selfi. Toh tidak akan keliru dengan nama orang, Selfi Damayanti misalnya. Lagi pula, memangnya kata swafoto dan foto narsisis benar-benar asli bahasa Indonesia? Jelas tidak. Swa dari bahasa Sanskerta, foto dari bahasa Inggris (photo), dan narsisis juga dari bahasa Inggris.

Kata selfie konon dipergunakan pertama kali pada 2002, yakni dalam sebuah forum Internet Australia (ABC Online) pada 13 September 2002. Pada 2013, kata selfie secara resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary versi daring. Di kamus ini, selfie memiliki definisi "a photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam and uploaded to a social media website" (foto seseorang yang diambil oleh orang itu sendiri, biasanya diambil dengan menggunakan smartphone atau webcam dan diunggah ke situ media sosial.

Pada November 2013 Oxford Dictionary menobatkan kata ini sebagai Word of the Year tahun 2013 dan menyatakan bahwa kata ini berasal dari Australia.

O ya, selain selfie, ada istilah lain yang dikenal untuk menyebut foto narsisis ini, yaitu selca, singkatan dari self camera. Istilah ini dipopulerkan oleh selebritas Korea yang memang dikenal sering berfoto diri.

Kata selfie memang masih muda karena seiring dengan maraknya kamera digital dan kamera ponsel. Namun memotret diri sudah dilakukan lebih dari satu abad silam, tepatnya pada 1839, oleh seorang fotografer amatir, Robert Cornelius. Pria asal Philadelphia ini mengambil foto dirinya di toko milik keluarganya. Cornelius mengambil foto dirinya dengan cara melepas tutup kamera kemudian berlari secepat mungkin ke depan kamera agar wajahnya bisa tertangkap kamera. Di balik foto ini, Robert menulis "The first light picture ever taken. 1839." Berbeda dengan Cornelius, Anastasia Nikolaevna, putri Kekaisaran Rusia, mengambil fotonya sendiri melalui cermin untuk dikirim kepada temannya pada 1914. Dalam surat yang dikirim bersama foto itu, ia menulis: "Saya mengambil foto ini menggunakan cermin. Sangat susah dan tangan saya gemetar".

Kini, hampir siapa saja melakukan selfie. Segala kalangan, semua level usia, melakukannya. Dari pelajar sampai pejabat tertinggi, terutama presiden keenam RI, lebih khusus lagi sang istri, yang selalu memasang foto-fotonya di akun Instagram pribadi. Hampir semua kegiatan tidak bakal lengkap tanpa selfie: makan di restoran, menunggu pesawat di bandara, memamerkan mobil baru, dan sebagainya. Kalau di acara macam reuni, ketemu idola, atau jalan-jalan, itu sih sudah pasti. Termasuk kelak jalan-jalan ke Jembatan Layang Antapani.

Ngomong-ngomong, memangnya ada Jembatan Layang Antapani? Tentu. Enam bulan lagi bakal jadi, kata Wali Kota Bandung. Jumat lalu sudah dilakukan peletakan batu pertama. Anggarannya Rp 33 miliar, yang antara lain digunakan untuk mempercantik jembatan itu. Wali Kota berjanji estetika jembatan ini akan berbeda. "Saya akan undang seniman Bandung untuk mengolah jembatan ini menjadi jembatan yang unik," ujarnya.

Lalu, kata Wali Kota, keunikan itu cirinya hanya satu, yaitu saat banyak orang foto-foto (alias selfie). Jika tidak ada yang berfoto-foto di Jembatan Antapani, kata Wali Kota, berarti ia gagal membuatnya unik.

Saya senang menyimak canda Wali Kota, yang selalu segar dan cerdas. Tapi sayang sesekali lebay. Misalnya canda-candanya dengan kata jomblo. Juga canda tentang kriteria keberhasilan membangun Jembatan Layang Antapani ini. Kenapa harus dengan kriteria banyak yang selfie?

Kita tahu, kata-kata pejabat yang banyak penggemarnya macam Kang Emil pasti akan dituruti. Jadi, bukan tidak mungkin, kelak setelah jadi, jembatan layang itu alih-alih memecahkan kemacetan, malahan menjadi sumber kemacetan baru karena banyaknya orang yang selfie.

Memangnya jembatan layang itu tempat wisata? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved