Coffee Break

Dari Golkar Hingga PKI

MENENTUKAN topik tulisan yang akan diangkat di rubrik ini gampang-gampang susah. Topik itu biasanya tentang peristiwa paling menonjol dalam sepekan.

Dari Golkar Hingga PKI
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MENENTUKAN topik tulisan yang akan diangkat di rubrik ini gampang-gampang susah. Topik itu biasanya tentang peristiwa paling menonjol dalam sepekan. Atau tidak menonjol tapi menarik. Gampang kalau dalam sepekan hanya ada satu peristiwa yang menonjol. Sebaliknya, sulit kalau tidak ada peristiwa besar. Namun, kesulitan juga muncul ketika terjadi dua, tiga, atau lebih peristiwa menghebohkan yang nilai beritanya sama besar.

Mungkin bisa diibaratkan seorang pelatih tim sepak bola yang mengalami kesulitan jika tim itu tidak memiliki ujung tombak yang hebat. Tapi ia akan pusing juga jika daftar pemain depannya berisi pemain-pemain yang sama hebatnya. Seorang pelatih baru merasa mantap menentukan pilihan jika ia memiliki satu penyerang yang sangat menonjol dibanding yang lain.

Di awal pekan, saya berniat menulis tentang kiprah Partai Golkar. Partai ini dikenal memiliki kader-kader yang hebat. Menghadapi persoalan macam apa pun, mereka selalu banyak akal dan cerdik. Kadang terkesan licik. Dan licin. Bayangkan, menjelang pemilu pertama era reformasi, 1999, Golkar menghadapi banyak hujatan di berbagai tempat. Sampai-sampai sang ketua, Akbar Tandjung, pernah dilempar dengan telur busuk. Tapi pada Pemilu 1999 mereka masih bisa menjadi runner up di bawah PDI-P. Pada 2004 malah kembali menjadi pemenang pemilu.

Pada Pemilu 2014, dengan sejumlah partai lain, Golkar membentuk Koalisi Merah-Putih untuk bertempur melawan PDI-P dan kawan-kawan. Hasilnya, kalah. Tapi tak lama kemudian, Golkar keluar dari KMP dan bergabung dengan sejumlah partai pendukung pemerintah.

Mungkin karakter Golkar bisa disimbolkan dengan pernyataan Nurul Arifin yang bertolak belakang. Dua tahun lalu Nurul mencemooh Jokowi dengan menyebutnya melakukan kebohongan besar soal kartu sehat, malah sempat bilang "ingin muntah" segala. Beberapa hari lalu Nurul berbalik pendapat dan menyebut Nawacita yang digembar-gemborkan Presiden Jokowi sangat cocok dengan visi dan misi Golkar.

Saya sempat memikirkan judul tulisan tentang Golkar itu "Belut Putih", sebuah ajian yang membuat seseorang sulit ditangkap lawannya karena sangat licin.

Namun, berita tentang Golkar dengan cepat dilibas berita-berita lain yang lebih baru dan lebih menghebohkan. Sempat muncul gagasan untuk menulis tentang "hari tanpa tembakau sedunia" yang jatuh pada 31 Mei lalu. Alasannya, topik tentang rokok selalu ramai kalau diangkat dalam diskusi. Dua kubu, pro dan antirokok, selalu berdebat panas tanpa ujung. Persis seperti dua topik lain yang juga selalu panas jika jadi bahan diskusi: poligami dan Jokowi.

Sayangnya, topik tentang rokok dengan cepat menjadi basi karena nyaris tidak ada isu baru selain berputar-putar di perdebatan yang sama. Lagi pula, peristiwa-peristiwa lain, seperti biasa, muncul dan menggilas topik tentang rokok.

Sempat juga terlintas ide untuk menulis soal isu-isu lokal. Misalnya tentang pembangunan padepokan seni dan budaya di Ujungberung yang mangkrak, tentang penerimaan siswa baru dengan SKTM (yang tahun lalu sempat semrawut), atau tentang Hari Lahir Pancasila yang baru ditetapkan Presiden Jokowi di Bandung. Namun, saya pikir topik-topik itu kurang "seksi". Jadi, saya eliminasi saja dari daftar.

Beberapa hari belakangan justru mencuat isu tentang munculnya kembali komunisme. Lebih mengerucut lagi Partai Komunis Indonesia. Di antara berbagai pernyataan yang berseliweran di jagat maya, salah satu yang mengemuka adalah pendapat Kivlan Zein, "Dua minggu lalu Partai Komunis Indonesia sudah berdiri. Pimpinannya namanya Wahyu Setiaji. Cari itu orang," katanya seperti dikutip Tribunnews.com Rabu lalu. Partai ini, kata Kivlan, sudah terstruktur dari pusat hingga ke daerah dan pendukungnya diperkirakan 15 juta.

Tentu hanya ada dua kemungkinan dari pernyataan Kivlan ini: benar dan salah. Kalau benar, mengapa kita tidak tahu ada PKI baru, yang sudah terstruktur dari pusat hingga daerah, apalagi dengan nama asing sebagai ketua dan jumlah pendukung yang aduhai banyaknya? Kalau benar, andai PKI ini ikut pemilu, setidaknya mereka akan meraih posisi ketiga di bawah PDI-P (yang pada 2014 meraih suara 23,6 juta) dan Golkar (18 juta) serta di atas Gerindra (14,7 juta).

Kalau pernyataan itu salah, tentu wajar jika orang menyebut Kivlan sebagai pembual.

Tapi orang yang percaya terhadap pernyataan Kivlan, atau memiliki pemikiran yang serupa, masih sangat banyak. Menhankam Ryamizard Ryacudu pun mengaku memiliki hasil intelijen TNI yang menunjukkan kebangkitan PKI. Dalam acara debat di sebuah stasiun televisi tokoh FKPPI dan PP sangat yakin bahwa komunisme sedang bangkit lagi di Indonesia. Debat yang panas terjadi juga di stasiun televisi yang sama, antara Fadli Zon dan Asvi Warman Adam. Fadli, yang yakin bahwa fakta dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI itu benar, bahkan menyebut fakta sejarah yang dikemukakan Asvi keliru. Padahal, Asvi dikenal sebagai sejarawan. Menurut Anda, siapa yang membual: Fadli atau Asvi? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved