Sorot

Suara Keras Dedi dan Kursi Gubernur

PEMERINTAH Provinsi dan DPRD Jawa Barat dinilai terlalu banyak menghambur-hamburkan uang rakyat.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun. 

PEMERINTAH Provinsi dan DPRD Jawa Barat dinilai terlalu banyak menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kegiatan-kegiatan seremonial, studi banding, dan rapat-rapat yang digelar di hotel mewah.

Kegiatan-kegiatan rutin tersebut dianggap hanya bersifat seremoni sehingga tidak memberikan apa pun kepada masyarakat.

Pernyataan atau kritik di atas dilontarkan Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi (Tribun Jabar 15/5/2016).

Dedi juga meminta Pemprov dan DPRD Jabar memelopori dan memberi contoh kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan efesiensi anggaran.

Dedi yang menjabat Bupati Purwakarta ini juga meminta anggota dewan dari Golkar untuk tidak gemar menghamburkan anggaran untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk masyarakat.

Setelah menjabat Ketua DPD Golkar Jabar, Kang Dedi memang giat melontarkan pernyataan yang mengkritisi kebijakan dan kinerja Pemprov dan DPRD Jabar.

Sebelumnya Dedi mengkritisi rencana DPRD Jabar untuk belanja puluhan Toyota Fortuner yang ditaksir akan menghabiskan anggaran senilai Rp 50 miliar.

Masih soal rencana belanja puluhan mobil mewah tersebut, Dedi juga tidak lupa mengkritisi para petinggi di Gedung Sate yang dinilai tidak ada upaya untuk mencegah rencana bejalan Fortuner tersebut.

Entah karena ada suara keras dan lantang dari Dedi, rencana belanja puluhan Fortuner itu seperti ngabuntut bangkong alias tak terdengar ending-nya. Kita tidak atau apakah rencana itu jalan terus atau dihentikan.

Atau mungkin rencana belanja Fortuner itu dilanjutkan seiring dengan meredupnya gaung suara- suara penolakan yang dilontarkan orang seperti Dedi atau mereka yang rajin berdemo di Gedung Sate.

Bila hal ini yang terjadi, pada titik ini kita pantas berterima kasih kepada mereka yang berani untuk bersuara lantang dan siap turun ke jalan untuk membela kepentingan rakyat.

Keberanian Dedi untuk bersuara lantang menentang dan mengkritisi DPRD dan Pemprov Jabar, memang meninggalkan gaung yang tidak merdu.

Sikap Dedi tersebut, oleh banyak orang dinilai sebagai pencitraan belaka. Banyak orang yang menilai sikap Kang Dedi seperti itu hanya sebagai upaya mencari banyak simpati (kalau tidak mau disebut dukungan) sambil mengintip peluang.

Sikap kritis Dedi seperti itu, oleh banyak orang disebut bukan tanpa pamrih.

Bagi mereka yang berseberangan dengan Dedi, suara keras orang nomor satu di Purwakarta yang sedang memegang pucuk pimpinan Golkar Jabar ini, adalah jurus politik untuk memuluskan langkah Dedi untuk meraih kursi Gubernur Jabar lewat Pilkada 2018.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved