Coffee Break

Demiz

NAMA Demiz baru saya dengar dalam dua tahun ini. Berbeda dengan nama Deddy Mizwar, yang sudah saya dengar sejak 1980-an.

Demiz
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

NAMA Demiz baru saya dengar dalam dua tahun ini. Berbeda dengan nama Deddy Mizwar, yang sudah saya dengar sejak 1980-an. Entah siapa yang punya gagasan gemilang menyingkat nama orang. Perskah? Stafnya? Atau keinginan pribadi?

Pada awalnya, "rasa bahasa" saya belum dapat menerima nama Demiz untuk menggantikan Deddy sebagai nama panggilan aktor hebat ini. Jadi, jika sedang menyunting berita dan menemukan nama Demiz, saya ganti dengan Deddy saja. Tapi lama-lama, toh, saya jadi terbiasa. Mungkin saja orangnya sendiri senang-senang saja. Kenapa saya yang riweuh? Jadi, ya, terima saja. Seperti Jokowi, Setnov, atau Akom yang lebih masyhur daripada hanya Joko, Setia, dan Ade, ke depan pastilah nama Demiz akan langsung menancap di kepala daripada hanya Deddy.

Sebelum menjadi Demiz (baca: Wakil Gubernur Jawa Barat), Deddy Mizwar adalah sosok yang sangat saya kagumi. Perjalanan dan karyanya di dunia film nasional sulit dicari padanannya. Permainannya, baik di film maupun sinetron, selalu memikat dan lekat di ingatan. Saya pernah bilang kepadanya bahwa saya masih ingat kata-katanya di sebuah sinetron tahun, hmmm, awal 80-an kalau tidak salah, "Saya bukan polisi," dengan intonasi yang khas. Dia sendiri mengaku tidak ingat pernah mengucapkan kalimat seperti itu di sebuah sinetron. Ah, tentu saja, dia sudah mengucapkan beribu-ribu kalimat dalam semua film dan sinetron (serta iklan-iklan) yang dibintanginya.

Ketika mendengar Bang Haji—panggilan akrabnya menurut sahabat saya (almarhum) Arief Gustaman—hendak bertarung dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur Jabar, mendampingi Ahmad Heryawan, tiga tahun lalu, saya, kok, merasa tidak setuju. Entah mengapa. Sebabnya, mungkin, itu tadi, saya mengaguminya sebagai tokoh hebat di bidang seni. Jauh di lubuk hati, saya khawatir namanya merosot kalau di kemudian hari ia terpilih. Dunia politik adalah rimba yang penuh intrik. Lagi pula, ia hanya calon wakil gubernur. Di film ia sudah menjadi presiden. Masa seorang "presiden" bertarung memperebutkan hanya kursi wagub? Namun tentu saja itu cuma gerenengan dalam hati. Apa hak saya melarangnya? Da aku mah apa atuh.

Di kolom ini saya pernah menyinggung namanya tak lama setelah Aher-Deddy—waktu itu belum muncul nama Demiz—terpilih menjadi gubernur dan wagub Jabar. Waktu itu saya membandingkan hari pertama Jokowi-Ahok sebagai gubernur-wagub DKI dan hari pertama Aher-Deddy sebagai gubernur-wagub Jabar. Kalau Jokowi-Ahok langsung bekerja pada hari pertama, Aher-Deddy tidak. Pagi itu hanya ada acara pisah-sambut wakil gubernur di Gedung Sate. Deddy kemudian melaksanakan salat Jumat di Masjid Pusdai. Nah, seusai salat, saat ditanya wartawan tentang informasi gempa di Tasikmalaya malam sebelumnya, Deddy berujar, "Kapan? Belum tahu." Saat ditanya apakah ada rencana tanggap darurat Pemprov Jabar atas kejadian itu, Deddy sekali lagi menunjukkan ketidaktahuan. "Saya cari informasi dulu, apa itu tanggap darurat," katanya.

Apakah ini pertanda kekhawatiran saya mulai terbukti? Tentu terlampau dini membuat kesimpulan seperti itu.

Selama sekitar dua tahun terakhir, saya tidak terlalu mengikuti sepak terjang Demiz sebagai wagub Jabar. Padahal, nama dan wajahnya rutin hadir di media massa, baik sebagai pejabat maupun bintang televisi. Mungkin karena tidak terlalu mengikuti itulah saya tidak tahu apa jejak penting sepak terjangnya untuk Jabar.

Lalu, beberapa hari silam, saya membaca sebuah judul berita di media daring: "Wagub Heran Data Kemiskinan Jabar Tinggi". Dalam berita itu ditulis bahwa Deddy merujuk pada angka kemiskinan di Provinsi Jabar yang masih terbilang tinggi, yakni berdasarkan data BPS, pada Maret 2015, 4,4 juta jiwa penduduk Jabar (9,53 persen) dikategorikan miskin. Angka ini naik dari September 2014, yakni 4,2 juta (9,18 persen).

Wagub dikabarkan heran dengan kondisi ini. Sebab, angkanya berbanding terbalik dengan hasil presentasi pendidikan dan perekonomian Jabar yang tahun ini cenderung meningkat. "Perkembangan pendidikan dan perekonomian di Jabar cukup tinggi dan anggaran dikeluarkan pemerintah untuk program penanggulangan kemiskinan juga sudah cukup besar," kata Deddy seperti ditulis sebuah situs berita.

Mungkin Pak Wagub berharap, jika presentasi pendidikan dan perekonomian cenderung meningkat, otomatis angka kemiskinan turun. Tapi apakah sesederhana itu? Silakan para ahli statistik membahas soal ini.

Saya hanya mau bilang begini: kalau Pak Wagub heran data kemiskinan Jabar tinggi, saya heran kenapa Pak Wagub heran. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved