Coffee Break

Torabika Soccer Championship

NAMA resminya sungguh wow, Torabika Soccer Championship (TSC), dibuka dengan pertandingan antara Persipura Jayapura dan Persija Jakarta

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Torabika Soccer Championship
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

NAMA resminya sungguh wow, Torabika Soccer Championship (TSC), dibuka dengan pertandingan antara Persipura Jayapura dan Persija Jakarta, di Stadion Mandala Jayapura, Jumat lalu, mulai pukul 20.00 dan berakhir sekitar pukul 22.00 WIB (alias pukul 24.00 WIT).

Ajang sepak bola ini mungkin akan membangkitkan lagi gairah sepak bola di negeri ini. Mungkin juga tidak. Masa depan sepak bola kita belum juga pasti karena FIFA masih menghukum negeri ini dari kegiatan sepak bola internasional.

Tapi, mengapa soccer? Mengapa championship?

Istilah soccer untuk permainan sepak bola yang kita kenal selama ini hanya dipakai di Amerika dan Australia. Di sebagian besar negara di dunia, kata yang dipakai adalah football, dengan beberapa variasi di banyak negara, misal futebol di Brasil, futbal di Spanyol, dan fussball di Jerman.

Konon perang istilah antara football dan soccer sudah meletus sejak 1900-an, tapi belum juga usai sampai sekarang. Dan mungkin tak akan berakhir. Seperti dikutip dari sebuah literatur, orang Inggris menganggap football adalah istilah terbaik untuk menyebut sepak bola. Sebagai negara peramu konsep olahraga ini, emosi orang-orang Inggris selalu meletup jika mendengar kata soccer. Mereka menganggap kata itu tidak jelas asal-usulnya dan sebuah kesalahan besar menamainya demikian. "Sudah berkali-kali saya berbicara dengan orang-orang Amerika, tapi mereka tak pernah mengerti bahwa tidak ada olahraga yang bernama soccer. Ingin rasanya membenturkan kepala mereka ke tembok agar mengerti bahwa soccer untuk menamai sepak bola adalah salah! Silakan jika mereka punya football versi sendiri. Tapi jangan sekali-kali menyebut sepak bola kami dengan soccer!" tulis Daniel Gooch berapi-api di media Inggris Bleacher Report, Maret 2010.

Sebaliknya, orang AS bersikeras bahwa istilah yang tepat adalah soccer. Di Amerika, football adalah sebutan untuk olahraga "absurd" yang semua pemainnya menggunakan helm, bergulat di lapangan memperebutkan sebuah benda berbentuk oval yang mereka sebut bola, dan sedikit sekali menggunakan kaki untuk menendang "bola" itu.

Mungkin panitia TSC hendak memulai langkah baru: menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat sepak bola. Mungkin.

Padahal, menurut saya, istilah sepak bola sudah sangat pas dan keren. Setidaknya sejak PSSI lahir, pada 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda yang menjunjung Bahasa Indonesia, kita memakai kata sepak bola. Ya ampun, mengapa harus soccer?

Lalu, mengapa championship? Umumnya, kata ini diterjemahkan menjadi kejuaraan. Kejuaraan dalam sepak bola bersifat turnamen, bukan kompetisi, dan di akhir kejuaraan akan ada partai final untuk memperebutkan posisi juara. TSC ini akan berlangsung dengan sistem kompetisi penuh, seperti hampir semua liga sepak bola di dunia, yakni semua tim peserta saling bertemu dua kali, kandang dan tandang, dan tidak ada partai final. Tim juara adalah tim yang meraih poin paling banyak. Mengapa tidak memakai kata liga? Kurang kerenkah?

Lebih dari definisi, mengapa harus menggunakan kata-kata asing? Malu, ya, memakai kata-kata bahasa sendiri? Sungguh penyakit yang sangat menyedihkan!

Poin lain dari gong pembuka TSC kemarin: mengapa laga perdana diundur sampai empat jam dari rencana pukul 18.00 waktu setempat? Ada yang bilang menyesuaikan diri dengan acara televisi yang tidak dapat diganggu gugat. Tapi ada juga yang bilang karena menyesuaikan diri dengan kedatangan Presiden Jokowi yang direncanakan membuka kejuaraan ini.

Namun, terlepas dari mana alasan yang benar, pertandingan yang berakhir tengah malam itu sungguh tidak manusiawi. Dan tentu saja tidak sehat. Bagaimanapun, tubuh manusia secara alami harus istirahat pada jam-jam seperti itu, bukan sebaliknya malah dipaksa untuk berolahraga.

Di Eropa, pertandingan sepak bola paling malam berlangsung pukul 21.00 waktu setempat—tentu saja dini hari waktu Indonesia. Itu juga hanya satu-dua pertandingan dalam sebuah kompetisi. Sebagian besar pertandingan berlangsung siang dan sore hari waktu setempat.

Ingat kasus Muhammad Alfarizi? Petinju asal Bandung ini meninggal setelah koma tiga hari karena cedera otak gara-gara dipukul KO pada ronde kedelapan oleh Khongtawat Sorkiti dari Thailand pada pertandingan 30 Maret 2001 di Jakarta.

Ayah Alfarizi, H. Josis Siswoyo, yang juga pelatih tinju, pernah memprotes penyelenggara karena pertandingan berlangsung hampir tengah malam. Waktu pertandingan itu, kata Josis, sangat memengaruhi penampilan sang anak.

Jangan sampai jatuh korban sia-sia gara-gara jadwal pertandingan yang tidak masuk akal sehat. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved