Teras
Otoritas
COPERNICUS dan Galileo termasuk korban karena berani melawan otoritas.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
OTORITAS selalu merasa punya hak untuk menyampaikan kebenaran. Maka tidak heran di kemudian hari banyak tersingkap kebenaran palsu.
Ada satu masa yang disebut masa kegelapan, yaitu ketika gereja memegang otoritas dan yang paling berhak menyampaikan kebenaran.
Dalam segala hal, termasuk lapangan ilmu pengetahuan. Copernicus dan Galileo termasuk korban karena berani melawan otoritas.
Dari zaman ke zaman, meskipun sekarang era milenium, pada dasarnya manusia malas untuk melihat sejarah, apalagi yang kelam.
Otoritas selalu pada wataknya, merasa paling benar. Paling nyaring dan paling pagi menyampaikan kebenaran. Seakan akan ia utusan Ilahi.
Pada beberapa dekade lalu, ketika Orde Baru masih berkuasa, saya menyaksikan kebakaran yang menimpa pasar buku Palasari. Sebelumnya tersiar kabar area tersebut mau dibangun pusat bisnis.
Maka tak pelak pada musibah itu pun kemudian santer dibakar. Sambil menyaksikan api yang merajalela dan orang-orag berhamburan menyelamarkan harta benda dari kiosnya, isu tak sedap menyeruak.
Hal yang lazim dan tak perlu terlalu dipercaya. Kebakaran itu terjadi malam hari.
Esoknya, headline sebuah surat kabar menulis pernyataan Wali Kota Bandung bahwa kebakaran Pasar Palasari adalah musibah, bukan dibakar. Maksud pernyataan itu mungkin untuk menepis kabar angin yang menyebutkan pasar tersebut dibakar. Tapi betulkah pernyataan Wali Kota itu?
Ada yang ganjil dalam pernyataan tersebut. Bukan soal benar dan salahnya. Tapi dari mana Wali Kota mengetahui bahwa pasar itu bukan karena dibakar? Apakah kebenaran hanya bisa mengandalkan mulut anak buah?
Apakah laporan anak buah langsung bisa dipercaya? Metode apakah yang digunakan untuk mengambil kesimpulan tersebut?
Apakah sudah melalui proses pemeriksaan yang andal dan tepercaya? Apakah sebuah proses penyelidikan kebakaran bisa rampung dalam waktu kurang dari 24 jam?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berkecamuk ketika membaca berita surat kabar tersebut.
Namun, karena politik saat itu jadi panglima, tak ada orang atau lembaga yang bisa dan berani menggugat kelancangan sang otoritas. Kebebasan mengemukakan pendapat dikebiri. Otoritas ngomong apa saja semua hanya tertunduk.
Sekarang bukan zamannya lagi tunduk pada kelancangan otoritas, yang tergesa mengambil kesimpulan. Kita tertegun ketika muncul kerusuhan di Lapas Banceuy, Bandung. Kerusuhan dipicu seorang napi yang tewas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-pemimpin-redaksi-tribun-jabar_20150720_180143.jpg)