Cerpen Yetti A KA

Di Bawah Payung Merah

KERETA api lewat dan ia bertanya, merokok? Aku menggeleng sembari tersenyum, aku sudah berhenti. Belakangan, dadaku sering sesak.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Di Bawah Payung Merah 

Kau bahagia setelah pergi dariku? tanyanya tiba-tiba.

Aku hampir saja memutuskan untuk tertawa keras-keras. Namun, kulihat ia menatapku dengan mata kecilnya yang muram. Ia pasti saja bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya dan tak mudah baginya melakukan itu. Sama seperti tak mudah juga bagiku untuk menjawabnya dan tertawa keras sebenarnya sebuah tindakan yang bisa menyelamatkan aku.

Justru orang-orang yang duduk mengelilingi meja di belakang kami yang tertawa cukup keras. Mungkin salah seorang dari mereka baru saja membuat lelucon. Betapa menyenangkan kalau kami juga bisa menemukan sebuah lelucon dan kami tertawa lama dan bahkan tertawa kembali saat mengingatnya sampai-sampai kami lupa untuk saling bertanya lagi. Berapa lamakah aku tidak tertawa panjang? Berapa lama ia berada dalam kesunyian hingga tampak amat memilukan? Berapa lama kami tak duduk bersama seperti saat ini sambil mendengarkan bunyi dada yang entah milik siapa?

Ia batuk—dan tidak juga berhenti hingga beberapa lama.

Kau pasti banyak sekali merokok, aku memandang lekat kepadanya yang tampak ringkih. Aku bayangkan tubuhnya itu menjadi sarang segala macam bibit penyakit dan dengan cepat akan berkembang, menggerogotinya, membuat ia lemah, dan ia tidak punya apa-apa lagi untuk melawan bahkan sekadar sikap keras kepala dan kesombongan khas seniman yang selama ini melekat dalam dirinya. Dengan cara apa ia akan bertahan? Aku tidak mau melihatnya menjadi kain tua yang digunakan untuk mengelap kotoran di kaca atau meja atau perabot lainnya. Itu pasti saja akan melubangi dada orang-orang yang pernah mengenalnya, baik yang menyayangi maupun yang tidak menyukainya.

Kereta api lewat lagi. Kali ini, aku tidak memejamkan mata melainkan memandanginya yang tengah terdiam dan seolah membiarkan jiwanya melebur bersama suara kereta yang bergemuruh. Setelah itu, ia kembali batuk panjang sampai-sampai aku mengira tulang dadanya akan remuk dan berlepasan dari tubuhnya persis onderdil sebuah benda.

Aku tidak tahu sudah berapa lama kami diam—oh, betapa pertemuan ini akhirnya lebih banyak kami habiskan untuk diam—hingga aku membangunkannya kembali dengan kalimat, kau benar-benar harus membenahi dirimu, dan saat mengatakan itu aku hampir menangis.

Jangan begitu, ujarnya, kau membuatku merasa sangat malang.

Kau sakit.

Jangan mencemaskanku.

Tapi aku mencemaskanmu.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seluruh hidupmu mungkin hanya akan kaugunakan untuk mencemaskan orang lain.

Aku mengangguk, tenang. Dulu, mungkin aku akan marah jika mendengar ia bicara begitu. Namun, aku bukan lagi perempuan yang dua puluh satu tahun lalu bersamanya, perempuan yang senang sekali memperbesar hal-hal kecil, perempuan yang bisa menangis keras di tempat umum jika melihat sesuatu yang mengusik kemanusiaanku.

Aku sering mencari tahu tentangmu, suaranya sangat lirih.

Kau tidak menemukanku?

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved