Coffee Break

Fortuner

SIAPA bilang rakyat Indonesia miskin-miskin? Pastilah masih ada segelintir penduduk di sudut- sudut negeri ini yang rumahnya reyot nyaris roboh

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

SIAPA bilang rakyat Indonesia miskin-miskin? Pastilah masih ada segelintir penduduk di sudut- sudut negeri ini yang rumahnya reyot nyaris roboh atau bekerja keras mengais-ngais sampah untuk mengepulkan asap dapur. Tapi lihatlah pemandangan sehari-hari di pusat perbelanjaan, tempat wisata, atau rumah-rumah makan. Akan kita lihat wajah-wajah semringah sebagai pertanda mereka orang-orang sejahtera.

Indikasi lain: mobil berseliweran di jalan-jalan, baik di desa-desa, di dalam kota, maupun di jalan antarkota. Bahkan jalan tol, yang suatu saat, duluuu..., pernah disebut sebagai "jalan bebas hambatan", kini tidak lebih dari jalan penuh hambatan. Apalagi pada saat mudik Lebaran, libur akhir pekan yang panjang, atau momen-momen tertentu. Mengapa jalan tol yang bayarnya mahal itu juga bisa macet parah? Karena kapasitasnya sudah tidak memadai lagi untuk menampung deretan panjang mobil.

Cobalah luangkan waktu jika Anda terjebak kemacetan di dalam kota: merek mobil apa saja di antara kendaraan yang berjejalan itu? Selain angkutan kota, taksi, bus, truk, dan sepeda motor, tentulah di sana-sini ada mobil-mobil mewah, yang berharga ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Eh, berapa, sih, batas harga yang menunjukkan sebuah mobil tergolong mewah atau tidak? Pasti tak ada garis mutlak. Bagi Mang Rebo, tukang siomay pikul di kampung saya, Toyota Agya pun, yang disebut-sebut sebagai "mobil murah", termasuk mobil mewah karena harganya yang di atas seratus juta rupiah berada di luar jangkauan bahkan dalam impian. Namun, bagi Yang Mulia Tuan X yang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah), mobil berharga di bawah satu M bukanlah mobil mewah. Termasuk mobil Toyota Fortuner.

Toyota Fortuner adalah mobil sport utility vehicle (SUV) dari produsen asal Jepang, Toyota. Di Indonesia, juga negara-negara lain di Asia Tenggara, mobil ini dipasarkan sejak 2005. Mobil ini dibuat berdasarkan platform innovative international multi-purpose vehicle (IMV) yang terdiri atas Toyota HiLux atau disebut juga dengan Toyota HiLux Vigo di Thailand dan Toyota Kijang Innova di Indonesia. Semula mobil ini dirakit di Thailand dan diimpor utuh oleh Toyota Astra Motor. Namun pada awal 2007, Toyota Fortuner sudah dirakit dalam bentuk terurai (completely knock-down) di Indonesia. Terhitung sejak 2010, setelah salah satu pabrik perakitan Toyota di Bangkok ditutup, proses perakitan Fortuner versi mesin bensin dialihkan ke Toyota Indonesia.

Harga mobil terbaru Toyota Fortuner sekitar lima ratusan juta rupiah, jauh di bawah angka satu M—jika kriteria Tuan X yang dipakai. Masih banyak merek dan jenis mobil lain yang lebih mahal. Harga Toyota Camry, misalnya, berada di angka 600-700 juta rupiah. Hanya menyebut contoh, mobil jenis ini merupakan jatah pimpinan DPRD Kota Malang. Toyota Alphard jauh lebih mahal dibandingkan dengan Fortuner. Tapi memang belum ada catatan bahwa anggota DPRD mendapat jatah mobil jenis ini—selain kabarnya sebagai suap dari pengusaha kepada orang-orang tertentu di Dewan.

Mungkin... sekali lagi mungkin, begitulah cara berpikir para anggota DPRD Jabar. Mungkin mereka berpikir seperti itu: bahwa rakyat Indonesia bukan rakyat miskin dan para wakil rakyatnya pantas mengendarai mobil sekelas Toyota Fortuner.

Kenapa DPRD Jabar memilih Toyota Fortune sebagai mobil dinas? Entahlah. Mungkin saja mereka ingin meningkatkan level kebanggaan—atau apa pun. Selama ini, mobil dinas mereka Toyota Rush dan Innova, yang harga terbarunya masing-masing di kisaran 200-an hingga 400-an juta rupiah. Rush dan Innova sudah bertebaran di jalan raya—meskipun belum sebanyak "mobil sejuta umat" Avanza. Jadi, barangkali mereka ingin mobil yang lebih eksklusif, sesuai dengan kedudukan mereka, tapi juga tidak semewah mobil anggota DPR RI, semacam Alphard, Vellfire, Land Cruiser, Range Rover, Pajero, dan BMW.

Fortune, kita tahu, adalah kata bahasa Inggris yang berarti keberuntungan. Penambahan huruf (r) pada kata Fortuner konon bisa berarti raja. Jadi, boleh jadi, PT Toyota Astra Motor memberikan nama Fortuner pada merek mobil mereka bermaksud agar siapa pun yang mengendarai mobil ini merasa seperti raja serta diberi keberuntungan dan keselamatan dalam perjalanan.

Sayang, para anggota DPRD Jabar belum beruntung untuk memiliki Toyota Fortuner. Berbagai kalangan menolak rencana mereka untuk membeli 100 mobil ini. Para penolak beralasan harga mobil itu terlalu mahal, para anggota Dewan tidak memiliki empati terhadap kemiskinan rakyat, dan sebagainya.

Mungkin kisah ini hanya tertunda sementara. Ketika situasi sudah reda, diam-diam mereka akan tetap mendapat mobil mewah. Kisah biasanya berakhir seperti itu. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved