Sorot
Ini Tarkam Nasional, Bung!
KEHADIRAN Presiden Joko Widodo yang sekaligus melakukan kick off patut diapresiasi.
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
GELARAN Piala Bhayangkara sudah berakhir. Di final, Arema Cronus sukses menumbangkan Persib Bandung dan menjadi jawara di turnamen itu.
Untuk sekelas turnamen, apa yang ditampilkan di final itu cukup megah. Tari-tarian, atraksi pembuka, serta nyanyian Candil dan Virzha, menyemarakkan suasana final.
Kehadiran Presiden Joko Widodo yang sekaligus melakukan kick off patut diapresiasi.
Kemeriahan itu semakin lengkap dengan kehebohan dari 80 ribuan lebih penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Tapi ingat, ini turnamen, ini cuma tarung kampung (tarkam) tingkat nasional, Bung! Bukan kompetisi yang bergulir setahun penuh. Ini hanyalah laga pengisi kekosongan waktu, penghibur di tengah kejenuhan para pemain dan pengurus klub.
Sekilas orang melihat ada "pergerakan" di tubuh sepak bola Indonesia. Tetapi nyatanya tidak. Kondisi sekarang ini tidaklah menyehatkan dan memberi gizi bagi persepakbolaan Indonesia.
Berlaga dari satu turnamen ke turnamen yang lain agar terlihat ada aktivitas persepakbolaan di Indonesia adalah hasil yang sia-sia jika itu ditujukan agar FIFA mencabut sanksi pembekuan PSSI. Bagaimanapun, jantung dari dunia sepak bola adalah kompetisi.
Kompetisilah yang menggerakkan pemain, pengurus, dan elemen-elemen sepak bola lainnya. Dari kompetisi yang bagus, akan muncul pemain-pemain yang bagus. Itu sudah menjadi acuan di negara mana pun.
Kemampuan dan keterampilan pemain akan terasah dalam sebuah kompetisi yang berputar rutin.
Keluaran hasilnya jelas, yaitu tim nasional. Pemain yang bagus, tentu akan dilirik oleh tim nasional.
Apakah turnamen-turnamen yang diadakan belakangan ini menghasilkan sebuah tim nasional? Tentu tidak.
Sementara rencana menggelar kompetisi bertajuk Indonesia Soccer Champion pun tak jelas juga.
Persoalan izin dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang tak kunjung turun, jadi batu sandungan rencana itu. Kasus hukum yang membelit Ketua PSSI, La Nyalla, pun seolah jadi alasan agar kompetisi ini tak jadi.
Melihat kondisi seperti ini, kita tidak bisa berharap banyak persepakbolaan Indonesia akan
bangkit.
Kompetisi pun rasanya masih sebatas wacana, tak bakal terwujud dalam waktu dekat. Ini sungguh merugikan semua pihak, termasuk masyarakat. Ya, masyarakat cukup terhibur dengan laga-laga di kelas turnamen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/machmud-mubarok-wartawan-tribun-sorot-edisi-rabu-6-april-2016_20160406_103826.jpg)